Kata Dua Cawan

Kata Dua Cawan

Dua cawan terbuka ketika kartu dilempar. Dua kali.
“Jangan lakukan apapun, jangan ambil keputusan sama sekali,” kata sang cenayang.

“Dua adalah diam. Jangan bertindak, apalagi memutuskan kehendak, karena dua adalah keseimbangan.”

“Tetap tinggal dan jangan tumpahkan cawan. Duka lara suka cita semua ada di sana. Sekali tertuang tak akan berulang. Biarlah mengendap sebelum kakimu menderap.”

“Cukup itu untuk satu tanyamu,” tutup sang cenanyang.

Lalu dia menghilang.

 

IMG-20160104-WA0006

Iklan

Selimut Gemintang

Selimut Gemintang

Tandu besi yang membuat kudamu limbung, lalu menjatuhkanmu bertumpu siku, hingga pecah retak membengkak.
Ingat?
Pasti.

Sais tandu yang turun menyeretmu agar terhindar dari terjang pasukan Pajang.
Ingat?
Pasti.

Prajurit kelana yang juga terhempas dari kudanya karena terantuk tapal kudamu.
Ingat?
Pasti.

Sajjana, lawan cakap dan laku tengil yang sangat kau banggakan, yang selalu muncul dalam setiap fatamorgana kerinduan, dan desir kebahagiaan.
Ingat?
Benamkan kepalaku ke dalam lumpur hisap, kalau jawabannya bukan pasti.

Dua selimut gemintang menaungi tidurku melawan semburan nafas Himalaya. Hanya tapa brata yang bisa menandingi kegemingan, ketika Resi tabib berkata, “Jangan berkedip tanpa perintahku atau sumsumnya tak akan tumbuh!”

Tulang-tulangku ngilu berbungkus daging mengerut terhimpit kulit yang makin merapat. Putingku menciut menahan hempas kipas tanpa derajat.
Ingat?
Barangkali.

Dua selimut gemintang telah tersingkap. Lebih baik undur diri bersiap memasang bubungan. Siapa tahu para tetamu berniat menatap tuanku, atau Sajjana kembali menghapus rindu.
Ingat?
Mungkin.

Dalam keriuhan menyambut caraka lara, sepertinya moksa sekejap adalah bijaksana. Toh tidak selalu.
Tapi apakah ini bermakna?
Entah.

Samsara.
Itukah yang membuatmu hilang ingatan?
Tapi bisakah bosan, taruna yang lebih pandhita, atau hati yang sudah nirrasa penyebabnya?
Kali ini aku sama sekali tak berani memberi janji pasti.
Karena dua selimut gemintang kembali membekap.

 

image
star gazing

Kolam Sembilan Cakap

Kolam Sembilan Cakap

Aku tidak habis pikir, bagaimana mereka sengaja bertahan hidup di kolam itu.

Itu adalah sebuah kolam, dengan air mengalir, berisi ikan warna-warni.
Mulut-mulut mereka tak berhenti bergerak di dalam sana.
Tak ada suara. Dari atas.

Masuklah. Ke bawah.

Kau akan tenggelam dalam buncah acak centang-perenang.

Ambigu. Bias. Gaduh. Saru. Caci. Binal.

Segala rupa.

Sebagian tak seperti wujudnya.

Umpan serupa jeram membuat mereka berkecipak berontak, terdesak, lalu tersedak.

Memang begitu.

Mereka suka.

Lalu bisa menghina-dina, tikam-bunuh, mencumbu, atau cemburu.
Bahkan saling melempar rindu.

Aku tidak habis pikir, bagaimana mereka sengaja mencebur ke kolam itu.

Apa yang mereka cari?

Kawan, lawan, atau sekedar lawakan?

Lalu mengapa aku menelisik seperti telik?

Ah, sudahlah… Apalah aku. Seekor ikan tak paham arah.

Biarlah mereka berpesta hingga kalap, di kolam sembilan cakap.

fish
kolam ikan

In Flagrante Delicto

In Flagrante Delicto

Hari ini aku menemukan tanda.

Beberapa hari lalu juga.

Minggu lalu, pun.

Berserak ternyata.

Itu tanda untuk apa?

Aku mendapatinya, memungutinya, mengumpulkannya.

Kemudian bagaimana?

Tadi pagi, aku tertangkap basah, pada sebuah tanda tanya.

Aku membacanya, tapi tidak menerjemahkannya.

… dan ini, juga sebuah pertanda.

Aku tertangkap basah, pada sebuah tanda tanya.

 

sign
i see the sign

Tanda

Tanda

“Aku terbiasa membaca tanda”, katanya.

Aku menyimak…

“Sesuatu yang pernah indah, tidak akan sia-sia. Begitu tertulis di beberapa lembar terakhir buku yang kubaca. Burung-Burung Rantau”, tambahnya.

Aku tertegun…

“Aku sekarang sendiri. Jangan terkejut. Kau ada teman sendiri sekarang”.

Aku terhenyak…

“Aku terbiasa membaca tanda”, katanya.

Aku diam.

intuition
intuition