“Aku selalu mengatakan yang sebenarnya, bahkan ketika aku berdusta”.

Itu yang ia tulis di lembar daun siwalan kering entah di mana, aku lupa. Ingatanku menembus ruang kosong yang pernah terisi aroma kayu, cengkeh, nenas, sitrus, dan serat tembakau.

Uar uapnya pernah membuatku termakan kepayang entah berapa purnama. Barangkali dalam hampanya juga tersimpan air mata duyung, liur perjaka, dan darah perawan. Entahlah.

Dalam samar sadar tersaput hasut, aku merasakan hangat yang tercekat. Antara iya dan tidak. Bau khas itu menyergap tanpa jeda dalam hela nafas yang tergagap. Tak berdaya.

Aku merasakan rambutnya yang legam pekat mengandan dan bibirnya yang legit tertapis sukma putri Mendut. Puting susu mencengkir gading menyentuh dadaku yang basah terurap keringat.
Tatapan matanya terliyap lindri, menggerakkan tanganku mencengkeram pinggang serupa kumbang kemit. Menyentuh sulur-sulur lembut daun asam yang terpicis tumpah. Rapi.

Kau tahu panjangilang? Itu adalah sesaji bumi yang mengiring ronggeng dukuh sebelah. Aku menyentuh miliknya. Tak besar, tapi bulat. Naik turun, memutar, mengaduk santan beraroma pandan. Aku tak kuasa.

Matanya meredup bagai damar terhembus angin, memejam rapat menyatukan alisnya yang tergambar bulan tanggal pertama. Aku merasakan butir air ragawi mengaliri lehernya yang ulan-ulan mengelung gadung. Deras dan wangi.

Deret geliginya membiji timun, menggigit lembut manggis rengat berpagut manis nira. Sukmaku nyaris lepas, saat dia menyelusur raga penuh dahaga. Jemari terpucuk duri membangkitkan bulu-bulu lembut menembus kulit ari. Aku bergidik merinding, tergelinjang jalang. Dia menggila.

Mendadak aku terkesiap, megap-megap berpeluh lembab. Terhenyak. Netraku terbelalak, menyentak hempas ujung nikmat. Aku tergendam gairah. Aku menyerah pasrah.

Begitulah awalnya…

Sisanya, seperti yang sudah kau tahu beberapa waktu lalu.

Aku yakin, kau masih ingin aku mengulang kisah ini nanti. Mungkin pada saat rehat minum arak, saat menemukan bilah-bilah lontar lainnya, atau saat kita berjeda setelah debat tentang para satria pemikat. Tak perlu risau. Aku telah menyuratnya di lembar daluwang untuk kau simpan.

Sambil menanti hati yang tak pasti…

desire
desire

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s