Citra Warni Hari Ini

Citra Warni Hari Ini

Aku tidak mengingat hari berdasarkan nama, seperti manusia. Aku tidak mengingat hari, tapi aku melihatnya. Ya, aku melihatnya berupa warna dan beberapa tanda yang hampir selalu muncul bersamaan dengan citra saat itu.
Seperti ini misalnya…
Aku melihat warna hijau, ketika beberapa manusia lebih memilih bangun siang, bersantai dan bermalasan. Beberapa lagi memilih bangun pagi dan melakukan aktivitas sesekali selama beberapa warna, biasanya olahraga atau hanya sekedar pergi ke pasar membeli jajanan. Beberapa yang lain lagi bangun pagi, berpakaian rapi dan berdandan santun, membawa buku berisi doa dan pujian, lalu pergi ke sebuah tempat bernama gereja. Begitu yang aku dengar dari percakapan mereka.

Warna kuning adalah ketika hampir semua orang malas bangun, atau bangun terburu-buru. Ini adalah hari yang sepertinya dibenci oleh hampir semua manusia. Sehingga ketika mereka bisa bertahan melewati hari itu, sepertinya sepanjang warna-warni berganti hingga hari kuning kembali, semua akan baik-baik saja.

Setelah kuning, hari akan berganti merah muda. Pada saat ini, sepertinya dunia mulai membaik. Manusia sudah berhenti mengeluh, tidak seperti saat hari berwarna kuning. Mungkin sudah mulai terbiasa, atau bisa jadi mereka mulai sadar bahwa mau tidak mau semua warna akan berganti. Entahlah.

Merah mudah berlalu, berganti tosca. Dulu aku agak bingung dengan warna ini, karena warnanya nyaris hampir sama dengan hijau dan biru. Tapi seiring waktu, aku mulai bisa membedakannya. Aku tahu istilah ini saat menempel di dinding sebuah rumah yang akan dicat. Orang-orang berkata dindingnya dicat warna tosca. Baru aku tahu nama warna untuk hari itu.

Tosca hilang, coklat datang. Di hari ini, manusia sepertinya mendapat energi baru untuk mempersiapkan kedatangan hari yang mereka tunggu. Nanti aku kasih tahu warna apa. Aku sering mendengar celotehan manusia untuk melakukan ibadah sunnah rosul saat hari berwarna coklat. Awalnya aku tidak tahu itu apa, tapi suatu saat ketika aku sedang menempel pada sebuah dinding rumah, aku tahu apa yang mereka maksud. Kapan-kapan aku ceritakan. Hihi…

Jingga muncul setelah coklat. Ini hari yang menurut manusia adalah hari yang pendek. Aku juga awalnya tidak paham apa maksudnya, karena menurutku durasinya juga sama saja seperti hari-hari lainnya. Namun ketika hari berwarna jingga, aku melihat banyak manusia lelaki bersiap pergi ke sebuah tempat bernama masjid. Dan ketika hari ini sudah menjelang gelap, banyak manusia bersukacita karena setelah hari ini adalah hari yang mereka tunggu-tunggu selama beberapa warna berganti.

Dan akhirnya, inilah hari yang mereka tunggu, warnanya biru. Biru adalah hari dimana banyak manusia bahagia karena mereka tidak harus bangun pagi dan melakukan rutinitas seperti hari-hari lainnnya. Memang tidak semua manusia, tapi sepertinya ini adalah hari saat manusia yang tidak sibuk di hari lainnya pun tidak akan merasa berdosa jika bermalas-malasan.
Kebanyakan mereka punya 2 hari untuk bisa seperti ini, saat hari berwarna biru dan hijau. Karena setelah hijau berlalu, hari kuning akan kembali mewarnai hidup mereka.

Maka, begitulah aku mengingat hari. Meskipun pada akhirnya aku tahu, warna-warna itu memiliki nama, karena aku sering mendengar manusia mengucapkannya. Minggu-Senin-Selasa-Rabu-Kamis-Jumat-Sabtu.
Tapi aku lebih suka melihatnya berwarna-warni.
Lain kali aku ceritakan pengalaman seru di warna-warni itu. Sekarang aku lapar, mau berburu nyamuk. Sampai ketemu di warna lain, semoga warna kalian menyenangkan.

Oya, aku adalah seekor cicak.

metode-pemilihan-warna

Warna

Iklan

Akad Sebahat

Akad Sebahat

Aku berteman dengan siluman.
Siluman apa? Aku sendiri bingung… Dia mengaku siluman kucing, padahal aku yakin benar dia siluman ikan. Bagaimana mungkin dua siluman predator dan mangsa menyatu dalam satu entitas?
Aneh bukan? Tapi, sudahlah. Kalian tak usah ikut memikirkannya. Percaya saja kalau dia siluman.

Aku hampir yakin kalian mengira aku sesat, pengabdi iblis, pemuja ilmu hitam, atau apalah karena berteman dengan siluman. Pendapat itu mungkin tidak salah, tapi tidak benar untuk pengalamanku. Jadi, biarkan aku cerita bagaimana aku bisa berteman dengan siluman kucing padahal siluman ikan ini pada kalian.

Mungkin di dunia siluman, manusia adalah makhluk halus. Jadi ketika para siluman khilaf, tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan untuk meraih apapun yang mereka inginkan, salah satu jalan pintasnya adalah bersekutu dengan manusia. Padahal mereka paham, itu kesalahan besar bagi mereka, kaum siluman.

Maka entah bagaimana, tiba-tiba saja aku dipertunjukkan oleh alam semesta pada siluman kucing padahal siluman ikan ini. Terjadilah permufakatan, dan akupun memenuhi segala keinginannya.
Jika biasanya kalian mengenal tumbal dalam kesepakatan dengan dunia lain lintas alam, sedikit berbeda dengan kami. Kami hanya sepakat diam, tak mengusik, tak berisik, dan kadang boleh saling menggendam. Hanya jika diperlukan.

Selama beberapa waktu, aku mampu memenuhi hampir segala permintaan, hingga akhirnya dia bisa keluar dari jerat masalahnya. Aku agak tenang, tidak perlu berpikir berat. Sampai pada suatu masa ketika kesaktianku mulai berkurang. Aku menduga, ini mungkin karena sumber tenagaku yang selama ini terasup dengan baik, mulai pasang surut.

Aku masih mampu bertahan dalam peperangan dan adu kanuragan dengan kesaktianku yang sekarang, namun aku hanya mampu bertahan untuk diriku sendiri dan tidak dalam kapasitas melindungi pihak lain. Pun demikian, masih banyak orang yang datang memohon-mohon untuk mendapatkan jaminan keamanan, mengingat sebelumnya, kapanpun hidup mereka terancam oleh ulah perampok, atau nyawa mereka teregang akibat kebodohan mereka sendiri, aku selalu siap siaga bilamana mereka perlukan.

Menyadari hal ini, aku kembali bermufakat tanpa syarat dengan siluman kucing padahal siluman ikan ini. Namun kali ini, bukan dia yang mengumpan menyan kemangi abu setanggi, melainkan aku.
Dia hanya menjawab datar ketika aku menyampaikan maksud dan tujuan kehadiranku. “Kau dulu tak meminta tumbal ketika aku bersekutu padamu, maka kini giliranku mencukupkan lakumu”. Begitu katanya.
Maka, sejak saat itu, siluman kucing padahal siluman ikan inilah yang membuatku mampu bertahan dengan kesaktianku yang pasang surut.
Sebenarnya aku sudah terbiasa mengalami hal ini, bahkan selagi masih perjaka dan mandraguna. Namun semakin lama, aku merasa kesaktianku ini sungguh memaksa ragaku lelah. Lahir batin.

Sebagai manusia, makhluk halus bagi kaum lelembut, sudah beberapa kali aku menjadi sekutu beragam siluman setan demit. Dari sekian siluman yang pernah bersekutu denganku ini, aku paling hafal kelakuan siluman-siluman makhluk air. Termasuk siluman yang mengaku kucing padahal ikan ini. Bagaimanapun dia mengaku siluman darat, jiwanya benar-benar makhluk air.

Siluman-siluman air dan makhluk-makhluknya sungguh membuatku tak habis pikir. Mereka adalah siluman paling melelahkan untuk dipahami. Kadang ketika aku berpikir mulai bisa mengikuti jalan pikiran mereka, bisa saja mereka tetiba berbelok tanpa tanda. Namun ketika aku melepasnya, ulah mereka bisa berputar kembali ke arah sebelumnya serta-merta.

Meskipun banyak di antara mereka memiliki sihir tingkat tinggi, namun kadang mereka tidak mempergunakan itu layaknya sihir mutakhir yang bisa membawa manfaat. Mereka akan menggunakannya untuk keperluan yang harus mereka sendiri yang tahu dan mau, tak peduli apakah semesta sedang memerlukannya atau tidak.

Mereka makhluk yang sangat rapuh dan rentan, namun tak mau disebut lemah.
Mereka makhluk yang labil, namun tak mau disebut plin-plan.
Mereka makhluk yang lunak, namun tak mau disebut lembek.
Mereka makhluk yang bersolek, namun tak mau disebut genit.
Mereka makhluk yang pelupa, namun tak mau disebut pikun.
Satu lagi, mereka adalah pemberi harapan, namun sesungguhnya sedikit mengumbar janji. Jangan disebut.

Saking lelahnya, aku merasa perlu menyudahi permufakatan ini. Beberapa kali sempat terpikir dan bertanya pada diriku sendiri, siapkah kulepas akad sebahat ini? Toh, siluman itu kini sudah mapan di alamnya, dan aku tak meminta tumbal. Lepas traktat, habis perkara.

Namun jujur, saat ini ragaku tidak terlalu siap jika tetiba saja terhantam jurus dan prana dari luar yang kadang datang bertubi tanpa permisi. Dan saat ini, kesaktian dari alamnya adalah salah satu penguatku. Permufakatan tanpa pakta ini, mau tidak mau, suka tidak suka, memang cukup membantu. Untuk sementara, sembari terus menjaga mantra melatih kanuragan, aku tak perlu terlalu berat memutar otak agar paling tidak kesaktianku mampu bertahan bilamana serangan menghunjam paksa untuk beberapa lama. Tapi sampai kapan?

Siluman-siluman makhluk air bukan jenis siluman yang bersih, meskipun kalian mungkin berpikir sebaliknya. Karena bagaimana tidak, mereka berada di air setiap saat, pasti senantiasa segar, sejuk dan kalis nirmala. Jangan salah, justru sebaliknya. Dari sekian siluman makhluk air yang pernah bermufakat denganku, hampir semuanya tidak resik.
Tapi jangan sekali-kali kalian menyinggung atau meminta mereka membersihkan diri atau melakukan apapun yang tidak ingin mereka lakukan, kalau kalian tidak ingin menelan kekesalan.
Mereka tidak akan menerima saran, usul, atau nasihat, apalagi yang kesannya memerintah, meskipun untuk kebaikan mereka sendiri. Kalian akan dianggap hendak mengubah mereka menjadi bukan mereka. Percayalah.

Aku tahu ini akan bisa menjadi runyam, entah dalam bentuk apa dan bagaimana. Namun untuk saat ini, aku belum bisa menemukan cara terbaik mengambil jalan tengah mengatasi mufakat yang nampak sesat ini.
Yang bisa aku lakukan saat ini hanyalah membuat diriku nyaman, dan memendam gejolak jiwa tanpa memunculkan prahara, baik untuk duniaku maupun alam siluman. Aku merasa seperti membesarkan seorang anak dalam raga sesosok siluman.
Siluman kucing padahal siluman ikan.

 

selkie-girl
The Seal People
Photo credit: Celtic-weddingrings.com

Celathu Bisu

Celathu Bisu

Pada akhirnya, aku tak bisa mengatakan bahwa aku tidak membutuhkannya. Tanpanya, aku mungkin tak akan bisa melakukan gerak-gerik ejawantah. Aku berterima kasih mendapatkannya, yang utuh tanpa daksa, meskipun keterbatasannya membuatku terperangkap batas badani.

Bagaimana aku bisa menemukan diriku sendiri dalam semesta luas berbatas lulang?
Sejauh rekadayaku mengupa atma, aku hanya mampu mendengarnya bertanya “siapa kamu?” yang tak kuasa terjawab.

Dulu…, dulu sekali, saat belia, ketika semua masih berjalan lambat dan terlihat menyenangkan, dia sering tepekur menatapku. Di depan cermin.
Ya, dia menatapku di depan cermin.
Dengan polosnya bertanya berulang-ulang.
“Siapa kamu?”
“Siapa kamu?”
“Siapa kamu?”
Sampai bosan.

Seringkali aku merasakan desakan kuat untuk menjawabnya. Aku menyeruak semesta ragawi rapuhnya, membuat rambut-rambut halus di kulit lembutnya terpaksa berdiri demi memberiku ruang.

Aku merasakan degup jantungnya.
Aku melihat tatapan mata polosnya.
Aku mendengar suaranya terus berucap pelan, “Siapa kamu?”
Aku memahaminya. Utuh.
Namun aku tak bisa menjawab.

Dia diam.
Aku tahu dia sedang merasakan kehadiranku.
Aku memahami senyum di bibirnya yang diam rapat.
Aku menyadari ketulusannya mengundangku.
Aku menerima ajakannya dalam hening.
Dia mengucap dalam senyap, “Mari berteman denganku…”

Sesaat kami memeluk ruang kosong bersama. Menikmati keakraban nirmasa dalam pertemuan tak terduga.
Damai…
Bersih…
Murni…
Waktu hilang, dan semua terasa…abadi.

Entah apa yang biasanya memutus pertemuan ini, namun setiap kali kami sedang menata cata meraba herdaya, tetiba saja aku terhisap segala rangka wujud mungilnya. Aku hilang darinya.

Pantulan bayangannya terhenyak, dan mulut kecilnya berkata tanya, “Kamu sedang apa?”, lalu aku benar-benar terlupakan.

Kami masih sempat beberapa kali bertemu panggil, sebelum masa memaksanya akil.
Suatu kali pernah, barangkali dia rindu bertemu atau hanya membunuh jemu, mencoba menatapku seperti dia lakukan masa tadika dulu. Di depan cermin.
Tanpa polosnya bertanya berulang-ulang.
“Siapa kamu?”
“Siapa kamu?”
“Siapa kamu?”
Sampai sebelum bosan.

Aku bahkan belum sempat merasa tergerak menyeruak semesta ragawinya yang tak lagi rapuh, meskipun aku merasa rambut-rambut halus di kulitnya yang kini liat terpaksa berdiri. Namun bukan demi memberiku ruang. Aku lebih menyadarinya sebagai ketakutan. Ya, dia takut! Dia takut kenyataanku!

Pantulan bayangannya terhenyak, dan mulut dewasanya berkata tanpa tanya,

“Kamu gila!”.

Aku merasakan diriku tersisir nyaris hilang. Dia bersama siapa? Apa yang mengendalikan tulang-belulang wak dagingnya? Bagaimana dia mengolah raganya?
Akukah yang kehilangannya? Atau diakah yang tak lagi menyadariku?

Aku mencari, lagi, lagi, dan lagi.
Semakin kala berkala, aku semakin merajalela.
Aku bertanya, kali ini padanya, “Kamu siapa?”

Sungguh aneh… Aku merasa, semakin kupikir dan berusaha mencari tahu siapa, semakin tak kutemukan jawabannya.
Bahkan yang kurasa terdekat pun asing.

Jadi, apakah aku membutuhkannya, jika pada saatnya kelak aku akan kehilangannya?
Ataukah dia yang sebenarnya memerlukanku?

Pada akhirnya, aku tak bisa mengatakan bahwa aku tidak membutuhkannya. Tanpanya, aku mungkin tak akan bisa melakukan gerak-gerik ejawantah. Meskipun akhirnya aku tahu, akulah yang terikat diriku sendiri. Dia tanpaku, mati. Aku tanpanya, fana.

Oya, perkenalkan, aku Jiwa.

 

https://gfycat.com/gifs/detail/CloseGorgeousGermanshepherd
Soul

Sengkalang

Sengkalang

Buku itu berisikan nama semua anaknya beserta arti dan bagaimana kehidupan mereka di masa depan kelak. Lembar-lembar tulisan tangan itu hilang raib entah kemana.
Begitu sedikit percakapan dua orang ayah anak di suatu pagi.

Anaknya baru saja membongkar setumpuk lembaran lusuh dari dalam tas tua yang ia temukan di ruang kerja. Ruang itu sebetulnya lebih mirip gudang karena dipergunakan untuk menyimpan bermacam barang, terutama milik anak-anaknya yang kini semua merantau di ibu kota.
Tas tua itu tergolek di dalam lemari meja bersama dengan benda serupa di dalamnya. Tas dan semacam dompet-dompet besar ukuran ijazah yang berisiĀ  entah kertas-kertas apa.
Anaknya menarik bundelan kertas tua bertuliskan aksara jawa, mengamatinya sambil tercenung, mungkin mencoba kemampuannya membaca aksara kuno yang dulu pernah dipelajari di bangku sekolah dasar, atau menguji imajinasi dengan melemparkan dirinya ke masa lalu dan membaca surat-surat berulir gores penuh wibawa.

“Surat ini diantarkan dari Keraton Kidul ke rumah, naik kereta kerajaan untuk Eyang Putri. Abdi dengan seragam lengkap dan payung kerajaan yang mengantarnya”, suara ayahnya menghentikan senyapnya.

Menurut sang ayah, yang sudah berulang kali menceritakan kisah ini pada anak-anaknya, Eyang Putri berasal dari Keraton Kidul, istilah untuk menyebut Kasunanan. Sedangkan Eyang Kakung berasal dari Kadipaten, Mangkunegaran mereka menyebutnya.

“Eyang Kakung sering dipanggil Ndoro Ronggo, karena beliau yang memegang kunci perpustakaan keraton. Hanya beliau yang memiliki izin penuh atas semua buku di dalamnya selain pemerintah Belanda dan beberapa gelintir orang yang mendapat keistimewaan dari kumpeni”, lanjut ayahnya.

“Suatu saat, Eyang Kakung menulis buku, semua huruf ditulis dengan tangannya sendiri. Buku itu berisikan nama semua anaknya beserta arti dan bagaimana kehidupan mereka di masa depan kelak. Lembar-lembar tulisan tangan itu hilang raib entah kemana. Itulah mengapa, ayah tidak heran jika nasib kalian seperti sekarang”, tutupnya mengakhiri cerita.

Anaknya mengernyitkan dahi… Apa maksudnya dengan “nasib kalian seperti sekarang”? Ada apa dengan nasib kami? Begitu sekira arti kernyitan dahi dalam suara diamnya, sebelum dia kembali menatap lembar-lembar pudar lusuh yang dipegangnya dengan hati-hati.

* * *

“Aku mendapat winarah dalam hening pustaka tentang nasib aliran darahku. Aliran yang akan bercampur dengan tubuh istriku, dan keluar sebagai para warisku. Aku bahkan tahu bahwa darahku akan mengalir di tapak aspal menyambut ragaku.
Aku akan menuliskan semuanya, dan hanya salah satu anakku yang boleh mengetahuinya. Semoga dia bisa memaknai gurat tersembunyi di baliknya tanpa begitu saja membacanya secara harfiah”.

Pena basah berbatang kayu menemaninya malam itu menorehkan lengkung-lengkung aksara dengan temaram dian, dalam keheningan wigraha pustaka dan aroma serat-serat daluwang.

* * *

“Dhimas, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu sebelum nafasku membeku…”

“Dulu, bapak pernah menunjukkan padaku sebuah buku yang pernah ditulisnya setelah mendapat winarah. Nasib, nama, dan suratan warisnya semua tertuang, tak terkecuali. Dia tahu, aku tahu. Ibu… aku tak yakin dia tahu. Mungkin”.

“Aku tak ingin mendahului Gusti Pangeran dan alam semesta. Apabila kau menemukannya… simpan. Simpan dan jangan kau jadikan garis nasib. Simpan sebagai warisan bapak. Sebagai penghormatan atas karyanya. Itu saja…”

“Mendekatlah, akan aku ceritakan sedikit tentangmu dan anak-anakmu…”

Sang kakak tak pernah menyelesaikan suratan adiknya, bahkan untuk memberitahukan di mana buku itu tersimpan…

* * *

Semua peninggalan bapak yang disimpan kangmas sebagian besar sudah kurapikan. Kujadikan satu bendel dalam sebuah map dan kumasukkan ke dalam tas. Semuanya, termasuk edaran-edaran dari keraton, ijazah sekolah rakyat ibu, surat nikah bapak dan ibu, semua. Tapi aku tak menemukan buku tulisan tangan bapak seperti yang diceritakan kangmas. Apa yang sebenarnya ditulis bapak tentang kami, anak-anaknya? Dia hanya sempat menceritakan sedikit mengenai nasibku dan anak-anakku kelak. Sedikit sekali. Sangat samar. Aku bukan ingin mendahului masa depan, aku hanya ingin lebih dekat mengenal bapak.

Aku masih SMP ketika bapak mengalami kecelakaan. Bapak terhantam mobil ketika akan turun dari bus yang membawanya ke rumah kangmas. Dia ingin menjenguk cucunya, putri kangmas yang baru saja lahir. Namun alam semesta memenuhi janjinya tanpa tunda. Bapak menyerahkan raganya di atas aspal yang tergenang darahnya.

Mungkin memang harus berhenti di sini. Mungkin memang hanya bundel kertas-kertas lusuh ini yang bisa kusimpan untuk mengenang bapak dan ibu. Mungkin suatu saat kelak, aku hanya akan bisa menceritakan kisah ini pada anak-anakku, entah mereka percaya dan bangga akan kebesaran leluhurnya, atau mereka hanya akan menganggapnya sebagai dongeng.

* * *

20171219000719
Dokumen Eyang

Piring Itu …

Piring Itu …
piring
stack of plates

Adalah piring resepsi, dalam pesta pora riuh ria perkawinan, kelahiran, segala selamatan dan sukuran. Ini resepsi istimewa, tumpukan piringnya selalu sama.

Piring teratas adalah orang tua dari kakek neneknya.
Piring di bawahnya adalah kakek neneknya.
Piring di bawahnya lagi adalah ayah ibunya.
Piring di bawahnya, siapa lagi kalau bukan dia dan mereka.
Piring paling bawah adalah anak-anaknya.

Ini adalah tumpukan paling lengkap dari keluarga piring. Lalu tamu-tamu mengular, menanti giliran mengambil hidangan, mengubah tatanan tumpuk keluarga piring.

Tamu pertama, mengambil orang tua kakek neneknya. Diisinya dengan nasi, lauk-pauk, dan kerupuk. Nyawa.
Tamu kedua, mengambil kakek neneknya. Diisinya dengan nasi, sayur-mayur, sup, dan sambal. Jiwa.
Tamu ketiga, mengambil ayah ibunya. Diisinya dengan lauk-pauk, sayur-mayur, kerupuk. Tanpa nasi. Sukma.
Tamu keempat, mengambil dia dan mereka. Diisinya dengan sayur-mayur bersiram saus asam dan buah saja. Atma.
Tamu kelima, belum ingin makan. Piringnya tidak diambil. Tapi diganti.

Para sinom tak henti mengisi kembali nampan-nampan kosong dan mengganti tumpukan piring untuk ambilan tetamu berikutnya. Ini resepsi istimewa, tumpukan piringnya selalu sama.
Piring orang tua kakek nenek.
Piring kakek nenek.
Piring orang tua.
Piring dia dan mereka.
Piring anak-anaknya.
Lalu datang seorang tamu, sangat santun. Mengambil piring kakek nenek, setelah tamu di depannya mengambil piring orang tua kakek nenek.
Namun tamunya tak terlalu lapar. Piring kakek nenek dikembalikan. Tentu saja di atas tumpukan piring dia dan mereka, karena piring orang tua sudah diambil tamu belakangnya.

Para sinom tak henti mengisi kembali nampan-nampan kosong dan mengganti tumpukan piring untuk ambilan tetamu berikutnya. Ini resepsi istimewa, tumpukan piringnya selalu sama. Namun tumpukan terkini sedikit berbeda, karena tamu santun tak terlalu lapar.

Piring kakek nenek.
Piring dia dan mereka.
Piring anak-anaknya.
Tamu berikutnya, berbaju gamis, lengan panjang. Mengambil kembali piring kakek nenek milik tamu santun yang tak terlalu lapar.

Para sinom tak henti mengisi kembali nampan-nampan kosong dan mengganti tumpukan piring untuk ambilan tetamu berikutnya. Ini resepsi istimewa, namun kini piringnya tinggal dua.
Piring dia dan mereka.
Piring anak-anaknya.
Tamu kemudian, datang berpasangan. Lelaki bersarung batik, mengambil piring dia dan mereka.
Wanita berjarik lurik, mengambil piring anak-anaknya.
Tumpukan segera kosong, sinom tergesa. Namun sayang, terpeleset. Menabrak tamu wanita berjarik lurik, dengan piring anak-anaknya. Pecah.
Piringnya habis.

*

Angin bertiup biasa saja ketika kabar kematian tiba. Burung, ayam, bebek berkicau, kokok, kuek ala kadarnya. Tukang bubur, penjaja nasi pecel, penjual jamu tak berhenti meracik ramu. Semua wajar tak berkejar tanpa pertanda saat kabar kematian tiba.

Mati selalu dia, bukan kamu. Apalagi aku.
Mati selalu mereka, bukan kalian. Apalagi kita.
Mati selalu jauh, belum jelang. Apalagi dekat.
Mati selalu milik dia, mereka dan jauh.

Aku bukan mati, kamu pun.
Aku tidak mati, kamu pun.
Matiku jauh. Kamu… kali ini tidak pun.
Tapi aku belum. Kamu… aku tak tahu.

Selalu.
Sampai aku, dan mungkin kamu, mendapat jatah giliran dalam resepsi. Menjadi piring.
Sampai aku, dan mungkin kamu, menyadari tamu resepsinya sudah mengambil tumpukan di atas kita. Ya, itu piring ayah ibu.
Sampai aku, dan mungkin kamu, masih menunggu tamu, lalu sinomnya terpeleset.

**

Angin bertiup biasa saja ketika kabar kematian tiba. Sapi, kambing, kuda melenguh, embik, ringkik ala kadarnya. Loper koran, tukang pos, pengasong tetap bertandang meskipun rumah kosong. Semua wajar tak berkejar tanpa pertanda saat kabar kematian tiba.

Sesak sesaat, lalu sudah. Itu dia, bukan aku.
Duka sejenak, lalu lupa. Itu mereka, bukan kamu.
Alim sekejap, lalu nista. Matiku esok, bukan sekarang.

Selalu.
Sampai aku, dan mungkin kamu, mendapat jatah giliran dalam resepsi. Menjadi piring.
Sampai aku, dan mungkin kamu, menyadari tamu resepsinya sudah mengambil tumpukan di atas kita. Ya, itu piring ayah ibu.
Sampai aku, dan mungkin kamu, masih menunggu tamu, lalu sinomnya terpeleset.

Piringnya pecah.

Piring itu aku, kamu, kita…

Mati.

 

broken plates
broken plates

***

 

Terlamun Pasrah

Terlamun Pasrah

Kakiku dingin karena keringatku tertiup semburan penyejuk ruangan.
Rasanya jadi lembab dan tidak nyaman. Membuat jejamuran menghambur.
Aku selalu menutup kakiku kalau tidak ingin seluruh tubuhku ikut menjadi dingin.
Ujung kaki adalah pengendali suhu tubuhku.
Aku akan hangat ketika mereka hangat, dan akan dingin ketika mereka dingin.
Selimut hanya untuk mereka, bukan untuk paha, perut atau dada. Tapi untuk mereka, kaki.

Mereka serupa punggawa yang terlupa. Mengantar sang raja ke mana, namun begitu tiba kadang tak diharga.
Itulah mengapa, aku selalu membasuh mereka pertama kali begitu sampai ke tujuan. Bentuk penghargaan. Meskipun saat mengguyur tubuh, mereka selalu terakhir terbasuh, namun mereka punya waktu khusus untuk rehat berendamkan air suam bergaram, tetesan atsiri dalam perigi.

Dan sekarang aku lapar.

Sekarang sudah siang, hampir sore dan bukan hari yang sama.
Tapi aku sudah kenyang. Laparnya sudah lupa.
Aku makan sedikit nasi dengan banyak lauk.
Dua potong ayam rica, sekerat daging rendang kemarin sore, sebutir telur aku makan putihnya saja, dan ikan goreng yang di dalamnya berisi daging ikan giling dan telur. Kenyang. Bisa-bisa tertidur.

Di luar mendung, hujan turun mau tak mau. Untung anginnya sejuk, jadi jendela ku buka lebar.
Mulutku yang tadi berasa amis karena makan ikan sekarang sudah beraroma kopi yang menguar. Bukan seduh. Aku kunyah biji kopi yang dua hari lalu aku giling kasar. Amisnya hilang. Lalu aku menyeruput air jahe dan madu yang kutaburi sedikit garam.

Tetiba aku merindukan tanah Nobunaga. Entah karena lagu era baru yang terputar atau karena gerimis mulai rapat. Aku merasa ditaburi sakura. Aku ingin kembali.

Mungkin aku dulu berasal dari sana, di kehidupan sebelum sekarang. Entah sebagai apa, tapi aku merasa sangat dekat.
Angin membawa aroma tanah basah sekarang, dan aku semakin pasrah. Tenggelam mengkhayalkan sejarah…

IMG-20160930-WA0006

Sore itu Jingga

Sore itu Jingga

Sore itu jingga, seindahnya.
Sama seperti kopi itu pahit, seenaknya.
Atau pagi itu sejuk, senikmatnya.
Juga jadi orang itu seharusnya begini, sebaiknya.

Tapi itu dulu, ketika aku masih bisa mencium aroma hilalah yang sekarang namanya petrikor.
sama seperti ketika dulu aku menyebut bandros adalah gandos.
Atau saat Sabtu sore itu berwarna biru muda, sedangkan Minggu sore adalah merah buram.
Juga waktu buah tangan terbaik dari ayahku adalah kaset sanggar cerita.

Sekarang, saat ‘kenapa’ bisa diendapkan dulu, kemudian bagian jernihnya ditiriskan menjadi ‘betul juga sih’ atau ‘sebenarnya tidak masalah’ atau ‘ya mau bagaimana lagi’ atau ‘oh, ya sudah’
Semuanya lebih ringan dan tenang.

Sore itu jingga, seindahnya.
Kalau mendung? ‘Betul juga sih’.
Kopi itu pahit, seenaknya.
Kalau suka manis? ‘Sebenarnya tidak masalah’.
Pagi itu sejuk, senikmatnya.
Kalau ternyata gerah? ‘Ya mau bagaimana lagi’.
Jadi orang itu seharusnya begini, sebaiknya.
Kalau tidak begitu? ‘Oh, ya sudah’.

Sekarang petrikor baunya jarang terhirup.
Boro-boro makan bandros, ketan lupis saja pesan online.
Minggu sampai Sabtu sekarang warnanya sama, seragam, membosankan.
Sanggar ceritanya sudah banyak yang menjadi sanggar derita.

Tapi aku ringan dan tenang.
Karena sore itu jingga, kopi itu pahit, pagi itu sejuk, dan aku tidak menjadi orang yang seharusnya begini.

Aku ringan dan tenang.

Sepertinya …

jingga
dusk