Sinyalibrasi

Sinyalibrasi

Aku masih menumpahkan segala carut di otakku yang sungguh marut malam itu. Memutar kembali bagaimana semua peristiwa berkelindan dalam jalin ingatan yang telah lalu, dengan tindak, ucap, dan pikir yang kadang selaras kadang berbantah. Semua mengantarkanku menapaki jenjang simpul yang mungkin bagi sebagian orang sungguh anomali.

Apalagi, di masa sekarang. Ketika setiap kata yang tertulis, terbaca, terucap bisa seketika nirmakna oleh khalayak yang bahkan sesungguhnya berada dalam satu halaman sama. Bagaimana setiap laku, tutur, dan nalar dipangkas sembarang dengan senjata indra yang tak pernah terasah, tak pernah terolah, tak pernah berpindah. Hanya diam dalam wadah gaman, mendapat sentuhan ala kadar, namun merasa paling mandraguna. Tak ada istilah berbenah, yang ada hanya semua salah.

Inilah satu alasan, mengapa aku selalu merasa perlu mulai mempelajari sinyal dan transmisi, terutama yang bisa menembus lapisan-lapisan pelindung bumi. Melelahkan sekali menjadi manusia. Tak cukup rupanya menyingkap misteri dalam diri yang temuan-temuannya kadang menghenyakkan, karena masih dituntut menguak misteri manusia lain. Jumawa, sok menguak tabir alam semesta yang terlalu besar. Begitu terintip sedikit yang di luar akal, otak mereka kebanyakan oleng, jadi miring, gila.

Kurang lebih begitu racauanku, di sampingnya, sembari tengadah melihat langit gelap yang membuatnya mampu memunculkan jutaan kerlip cahaya di atas. Ahhh… andai saja aku tak harus mendaki ke atas gunung untuk memandang angkasa seindah ini. Andai saja kota-kota di bawah sana tak terlalu angkuh membuang jutaan daya listrik hanya untuk memamerkan gemerlap palsunya.

“Katanya punya Tuhan. Mengapa tak kau sampaikan saja semua ini pada-Nya? Siapa tahu kau dapat jawaban”, ia berujar.

Aku sadar, bahasanya bukan bahasaku, tapi ada sesuatu yang membuatku memahami ucapannya. Padahal, dia hanya sekadar menggerakkan jari-jemari, sedikit menelengkan kepala, dan membuka mulut mengeluarkan suara seperti “tuktuk tuktuk”, lalu mengedipkan matanya yang besar.

“Sudah, dan kadang aku masih melakukannya. Namun tak jarang, aku merasa perlu pendengar berwujud, yang bisa kulihat gerakannya, kudengar suaranya, kuhidu aromanya…,” jawabku.

“Kawan dan keluargamu? Bukankah mereka memenuhi kriteria pendengar yang kau butuhkan?” tanyanya lagi. Aku diam sejenak, lalu kuhela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaannya.

“Dulu begitu, beberapa waktu yang lalu. Namun itu hanya bertahan beberapa saat. Seiring masa, bertambah usia, segala tak lagi sama. Semua berubah, semua berskala, semua beranjak. Ada yang keluar, ada yang semakin ke dalam.”
Aku kembali diam, ia juga diam.

“Bahkan, apa yang banyak orang bilang sebagai belahan jiwa, semakin lama semakin asing. Belahan jiwa apa… tai kucing!” umpatku.
Aku diam lagi, ia pun diam.

“Semakin banyak pengalamanku menghadapi manusia, bukan semakin habis pertanyaanku terjawab, justru semakin bertambah misteri yang terpampang di depan,” lanjutku.
Lagi-lagi hening…

“Meskipun, semakin bertambah juga kemampuanku mengurai kusut, mengungkap rahasia, menangkap makna, namun bertambah juga rasa benciku pada mereka. Anu…, bukan sepenuhnya benci juga sih. Ada juga kasihan, rindu, bangga…, tapi kadang juga memunculkan iri dan tak percaya diri. Yah…, begitu lah kira-kira,” aku mulai meluap namun juga kehabisan kata-kata.

“Tak perlu kau cerita pun aku paham semua yang ada di kepala dan dadamu,” balasnya.

“Nah! Ngerti kan?” sambungku bersemangat. Aku senang, tanpa perlu banyak kata ia paham!

“Mana ada manusia begini, yang sepertimu, yang tidak perlu banyak ingin tahu dan menghakimi, tapi paham semua tanpa banyak cingcong fafifu wasweswos!” bahasaku mulai kacau.

Dia menggerakkan jari-jemari, sedikit menelengkan kepala, dan membuka mulut mengeluarkan suara seperti “tuktuk tuktuk”, lalu mengedipkan matanya yang besar. Aku tahu, kali ini maksudnya adalah, “Sudah, atau masih mau lanjut?”

“Toh, aku diam pun kau paham semua kan?” tanyaku.

Kembali ia menggerakkan jari-jemari, sedikit menelengkan kepala, dan membuka mulut mengeluarkan suara seperti “tuktuk tuktuk”, lalu mengedipkan matanya yang besar. Kalau sekarang, dia sedang tertawa kecil.

Kali ini tak ada suara selain gemerisik rumput yang tertiup angin bulan Mei. Kalau alam masih terbaca sebagaimana mestinya, bulan-bulan ini biasanya muson timur mulai berembus, meniupkan udaranya yang kering dan hangat. Namun sejak tak berapa lama yang lalu, alam berubah, sehingga bulan Mei ini masih terasa sejuk dan sedikit basah. Setidaknya, begitu yang terasa di gunung ini. Entah apa lagi yang akan terjadi kalau alam tak lagi sama dan mulai tak terduga. Siapa biangnya kalau bukan manusia. Kan? Ada lagi alasanku membenci mereka.

Tak lama, ia mulai menggerakkan jari-jemari, sedikit menelengkan kepala, dan membuka mulut mengeluarkan suara seperti “tuktuk tuktuk”, lalu mengedipkan matanya yang besar.
Kemudian aku terbahak. Bagaimana tidak, tetiba dia bertanya seperti ini, “Kalau saat ini kita sedang ada dalam sebuah adegan film, menurutmu apa judul filmnya?” Aku benar-benar tak menduga pertanyaan absurd seperti ini muncul di tengah pikiranku yang tak kalah mustahil.

“Tergantung,” jawabku, “apa dulu genre filmnya.”

“Apapun yang sesuai dengan yang kau rasakan,” balasnya.

Kali ini, dia yang mendadak terbahak, bahkan sebelum aku menggerakkan bibir. Tentu saja dengan caranya yang menggerakkan jari-jemari, sedikit menelengkan kepala, dan membuka mulut mengeluarkan suara seperti “tuktuk tuktuk”, lalu mengedipkan matanya yang besar. Bedanya, kali ini gerakan tersebut berulang dan agak lama. Dia terpingkal-pingkal, dan aku tahu dia bergumam, “Serius kamu akan beri judul seperti itu? ‘Kasih Bersemi di Bulan Mei’? Yang benar saja!”

Masih menggerakkan jari-jemari, sedikit menelengkan kepala, dan membuka mulut mengeluarkan suara seperti “tuktuk tuktuk”, lalu mengedipkan matanya yang besar, berulang-ulang. Aku jadi ikut terpingkal, tak habis pikir, karena bahkan akupun tak akan sudi melihat cuplikan film dengan judul semacam itu! Dangkal. Bukan seleraku sama sekali. Mirip judul film tahun 70-an.

Setelah tawa kami mereda, sejurus kemudian ia bangkit. Menatapku, dan tentu saja aku paham yang dia ucapkan dengan ritual gerakannya.
“Kendaraanku sudah datang, aku pergi dulu. Lain kali mungkin bisa kita lanjutkan,” begitu katanya.

“Tapi bagaimana caranya? Aku belum tentu bisa menghubungimu,” ujarku dengan nada sedikit kecewa karena aku masih ingin bersamanya.

“Sempurnakan saja alatmu. Kalibrasi sinyal dan transmisimu secara berkala. Siapa tahu pola gelombangnya terbaca dari kendaraanku, dan setelah itu kau tak perlu khawatir, karena aku yang akan mengirim kode melalui perangkatmu,” itu ucapan terakhirnya.

Kemudian dia mendongakkan kepala, mengangkat tangan, lalu kilau serupa lampu kilat kamera muncul begitu cepat, dan ia lenyap. Aku menutup mata menghindari silaunya, namun masih bisa terlihat sebentuk benda, melesat cepat menyerupai bintang jatuh, nyaris tak kasat mata.
Kalian pikir bentuknya seperti piring, berputar-putar, memancarkan cahaya berwarna hijau? Hahaha… SALAH BESAR!
Itu lebih mirip saringan teh, yang bulat seperti telur, dengan lubang-lubang di bagian bawahnya, bisa diputar lepas untuk memasukkan daun teh, dan ada rantai kecil untuk menggantungkannya di gelas. Bedanya, ini tanpa rantai. Hanya sebentuk tonjolan mencuat di bagian atasnya, memunculkan pendar layaknya aurora. Indah sekali.

Tak sadar, aku meneteskan air mata. Masuk ke hidung saat terisak, srooot… dan aku gagap bangun terduduk. Masih di sini, di kamarku, menghadap laptop yang layarnya juga masih menyala, memunculkan adegan sebuah film yang berhenti karena terjeda tombol pause.
Gelas kopiku yang tadi isinya masih panas, kini sudah dingin dan tinggal seperempat isi. Untung tidak tumpah.

Heh, itu cicak yang tadi menempel di tembok atas pintu, sejak kapan bersembunyi di belakang gelas kopiku?
Melihatku bangkit, ia menggerakkan jari-jemari, sedikit menelengkan kepala, dan membuka mulut mengeluarkan suara “ckckckck…”, mengedipkan matanya yang besar, lalu segera merayap pergi.

Tertegun Nubuat

Tertegun Nubuat

Malam tadi, kuterbangun 3 kali dari tidur lelap yang tak lama sebelum ini jarang kunikmati.
Pertama, oleh gemuruh hujan yang tercurah tumpah membabi-buta, membuatku sedikit was-was, karena otakku berteriak, “Sial, jemuran!” Namun seketika hatiku bergumam, “Abaikan saja, kamu jarang tidur nyenyak, tak usah risau.” Lalu kembali tidur.

Kedua, aku terbangun dari mimpi dengan perasaan sedih dan kecewa, karena barang berharga yang kumiliki hilang, dan entah bagaimana, aku tahu barang itu dicuri sosok ternama yang menjadi temanku. Hampir mustahil. Masih jelas bagaimana aku menerobos rombongan pesta pengantin, yang sepertinya berlogat Batak, namun bukan dari kalangan atas, di alam itu. Bergelut kecewa dan sedih, kuseret badanku ke kamar mandi, mengosongkan kantong kemih. Lalu kembali tidur.

Ketiga, aku terbangun dari mimpi dengan perasaan sedih dan kecewa, oleh seorang sekutu yang menipuku. Untuk yang ini, otakku menolak ingat peristiwa, namun tergambar jelas sosoknya. Lalu aku tak kembali tidur.

Semesta tampaknya bersekongkol, menyaji fajar berbalut mendung menggantung, pekat tak tanggung, membuat pagi tak layak disebut pagi.
Bagaimana dua mimpi menyampaikan pesan sama pada malam sekali jalan? Siapa para pembawa sesal di semesta nyata? Kapan mereka datang jika sesaat saja terpampang lalu hilang? Mengapa gambarnya tanpa buram, begitu jernih dan berwarna? Apa sebenarnya nubuat tersimpan yang tak terkuak dalam benak? Aku tertegun.

Hari ini kulalui dengan menatap banyak wajah, bercakap banyak bincang, mendengar banyak suara, mengindera banyak rasa. Melelahkan. Membuatku kering.

Menjelang petang, dengan langit seperti pagi yang bukan pagi tadi, kuhela nafas sembari memejamkan mata dan bergumam dalam hati…

“Aku benci manusia.”

Gunjing Singkat Coklat Malam

Gunjing Singkat Coklat Malam

Hari ini coklat, untuk yang paham saja. Sudah beberapa lama ini suhu udara sungguh luar biasa gerah, meskipun sesekali hujan namun tidak menyejukkan. Aku jarang keluar, lebih baik menghindari gelombang panas daripada mengering saperti ikan asin, atau terseret luapan genangan jika air langit sedang tumpah.
Aku masih ada di seputar apartemen yang pernah kuceritakan sebelumnya. Tapi hampir dua tahun terakhir, tempat ini sepi dan hening. Konon dunia manusia sedang ada pandemi, diserang virus mahkota, katanya. Aku kebal, sepertinya.
Mereka kini selalu menggunakan penutup hidung dan mulut, bahkan kadang ada yang memakai topeng plastik yang menutup seluruh wajah.

Dua tahun terakhir, semenjak pageblug meluas, tak banyak dinamika tempat ini. Beberapa penghuni saja yang tetap tinggal, sementara lainnya memilih berlindung di dalam ruang, entah di mana aku tak peduli. Meskipun tak lama yang lalu, para ahli baitnya mulai terlihat keluar masuk. Penetap kembali, pendatang lalu-lalang. Sebagian tinggal, sebagian singgah sesaat dan kembali hengkang.
Kuncen gedung ini (begitu aku menyebut para penjaganya) juga berganti. Tak paham aku urusan keputusan manusia, biarlah. Toh memang tidak ada yang namanya ajeg.

Aku masih sering, bahkan hampir selalu, memantau dari sudut atas ruang. Suatu saat, di sebuah pagi menjelang siang, seorang penghuni baru di lantai paling atas mengalami kejang mendadak. Aku baru menyadari ada kejadian itu saat seorang penghuni yang menempati unit di bawahnya tetiba berlari keluar memanggil bantuan tetangga lainnya. Selagi dia berlari menuruni tangga mencari bantuan, aku merayap cepat menuju lantai atas tempat peristiwa terjadi. Sebelum bala bantuan datang, aku menyelinap melalui celah pintu yang terbuka. Sejurus kemudian tercium bau tai kotoran manusia yang masih segar. Aku tahu, taiku yang berwarna hitam putih juga tengik, tapi bau kotoran manusia, dalam jumlah banyak, belepotan di dinding dan lantai, meskipun masih segar, tetap saja bikin muntah siapapun yang tidak biasa menghidu kotorannya sendiri.
Kau jijik baca ini? Kau pikir aku tidak?

Dari yang sekilas kuamati, sepertinya penghuni unit tersebut entah sedang buang hajat kemudian kejang, atau karena kejang sehingga kotorannya terperas keluar, berusaha mencari bantuan dengan cara menggelepar dan berteriak, meskipun tercekat. Suara nirwajar ini yang membuat penghuni di unit bawahnya berusaha mencari tahu yang terjadi, dan berujung mencari pertolongan. Aku tak paham penyebab kejangnya, namun sepertinya ada rahasia yang tak boleh orang tahu, dan memang berhasil. Tidak ada yang tahu.

Singkat cerita, dengan bantuan beberapa tetangga yang tak begitu dikenalnya, ia terselamatkan, ditandu menuju instalasi gawat darurat terdekat. Meskipun selama berhari-hari, unit apartemennya bau tai.
Kuncenlah yang kebagian pulung membersihkan dan melakukan disinfeksi ruangan itu. Bagus dia berbesar hati dan berlapang dada melakukannya. “Nambah pahala”, katanya.
Dia adalah kuncen paling polos, naif, dan dangkal di antara semua kuncen yang pernah menjaga gedung ini. Sendat pikir, namun tak kikir. Bebal, namun tak bikin sebal. Sangat bekerja sama.

Oya, beberapa bulan belakangan, penghuni apartemen ini bukan hanya manusia-manusia itu saja. Ada banyak makhluk berbulu dan anak-anaknya berkeliaran, mengeong-ngeong sering membuat gaduh. Ini tak lain tak bukan, karena si kuncen penyayangnya. Dipeliharanya mereka yang terlantar, diberinya makan dan tempat tinggal seolah ibu peri baik hati dan juru selamat bagi kaum pengeong.
Aku tidak masalah selama mereka tak menangkapku dan mempermainkan tubuhku dengan koyak-moyak, tapi aku tahu salah satu penghuni gedung ini merasa tak nyaman tanpa bisa berbuat banyak.

Satu lagi tentang si kuncen. Saat baru-baru saja ia bertugas di gedung ini, pada suatu malam terdengar tiga kali ketukan di pintu ruangannya, disertai salam nyaring dari sisi luar.
“Assalamu’alaikum…”, sapa suara di balik pintu. Saat hendak membuka pintu ruangan tempatnya berjaga, ia baru ingat bahwa seluruh penghuni tersisa di gedung ini sedang tak di tempat, dan demi keamanan dia mengunci seluruh gedung dari dalam.
Suara salam dan ketukan pintu berhenti, bersamaan dengan pucat wajah dan degupan jantungnya yang memerintahkan otak agar menggerakkan tangannya mengunci pintu, memasang slot pengaman sembari menggumamkan mantra tolak bala doa keselamatan. Bulu kuduknya bersiaga, kakinya lemas, sampai lupa cemas. Tak ada lagi salam dan ketuk pintu hingga keesokan paginya.

Itu saja kali ini. Aku mau patroli, siapa tahu ada manusia di gedung ini sedang melakukan apapun, yang bisa kutatap berlama-lama, sampai akhirnya mereka sadar sedang ada sesuatu yang mengamati dan merasa canggung sendiri. Hihi… aku suka sekali membuat mereka terkesiap, dan berakhir kami saling menatap.
Tenang saja, aku akan kembali dengan cerita lain. Masih banyak yang bisa kukisahkan.

Selamat menunaikan kegiatan malam hari coklat!

Selamat Berawal

Selamat Berawal

Mengawali tahun berangka ganda sembari memasuki masa di mana sedikit kecemasan mulai mencari celah menguasai jiwa raga. Mungkin kurasa sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya. Ceruk-ceruk pembuat lubangnya bisa sedikit kupoles, sehingga rembesan rasa gundahnya tak separah sebelumnya. Bagaimanapun juga, masih lembab. Wajar, kataku dalam hati menghibur diri. Tapi bukankah memang demikian?

Konon banyak katanya, hidup itu tidak lurus. Kadang naik, kadang turun. Kadang panik, kadang melamun. Kadang tenang, kadang gelisah. Kadang senang, kadang susah. Begitu saja terus sampai hidup makin meredup kemudian menutup.

Beberapa waktu lalu, aku berusaha menjawab satu-dua pertanyaan dalam sebuah buku tentang seni hidup sendiri. Tak ada yang bisa kujawab dengan segera. Alih-alih menjawab semua pertanyaan, di benakku hanya ada satu tempat, di mana aku ingin tinggal dan hidup cukup, menikmati sendiri.

Mungkin benar apa yang pernah dikatakan oleh seorang teman, bahwa sepertinya di kehidupan sebelumnya, aku adalah sesuatu atau seseorang di tempat itu.
Katanya, “Mungkin di kehidupan sebelumnya, kamu adalah seekor semut kecil yang bingung mencari jalan pulang di sana”.
Bisa jadi, mungkin sekali.

Lihat, mendung hitam mulai turun. Pantas saja udara terasa gerah. Pasti kau pikir akan turun hujan, kan? Jangan salah… alam raya sekarang senang bermain-main. Kalau dulu tanda-tanda mereka nyata, sekarang sering kali menipu.
Mungkin mereka sedang membalas manusia-manusia yang sering congkak mengakali dunia. Jadi ketika mendung gelap turun, sebenarnya mereka berkata, “Kalian pikir air-airnya akan kutumpahkan? Belum. Sekarang kubuat kalian engap dulu kepanasan, nanti baru aku turunkan sekalian bersama angin dan halilintar, biar kalian sedikit gentar”.
Lalu tak lama kemudian, gumpalan kelabu di langit terbelah, menyorotkan kembali cahaya matahari, diiringi tetesan-tetesan keringat kecut asin dari pelipis dan ketiak sisa gerah sebelumnya. Begitu kiranya kalau ditulis menjadi naskah.

Demikianlah ini berawal. Awal hari di awal pekan di awal tahun ini. Sekarang aku mau mengawali karyaku dengan membersihkan isi lemari es dulu, mumpung isinya sedang tidak terlalu banyak. Kalau isinya banyak, aku sedang sejahtera. Alhasil, aku tidak akan membersihkan isinya. Paham kan?

Jadi, selamat mengawali apapun yang akan diawali. Semoga langgeng dan tidak berhenti di awal saja.

12 Bulan Kemudian

12 Bulan Kemudian

Pagi ini berawan. 12 bulan lebih ritual pagi dua menit masih tetap berlangsung, dengan modifikasi sana-sini menyesuaikan kehendak hati dan selera gustatori. Hanya kopi yang tetap abadi di antara banyak adaptasi.
12 bulan lebih berlalu dan banyak jawaban atas pertanyaan tertemu. 12 bulan lebih berlalu dan sadar banyak hal yang awalnya samar. 12 bulan berlalu dan mampu bertahan dari cemas yang tak jelas. Apakah menjadi tenang? Kadang. Was-was tetap datang ada kala, namun lebih masuk akal terkendali.
Jika bertahan dalam ambigu yang nirbayan adalah sebuah keterampilan, kupikir aku semakin terampil.

Suatu saat pertengahan bulan kelima aku mendapati ruang kosong yang lebih sepi dari sendiri, hingga rasanya ingin tersedu namun bahkan tak sanggup menyengguk. Apakah ini ‘latibule’? Kalau benar, bukankah seharusnya terasa nyaman? Apa yang berbeda? Bagaimana menerjemahkannya? Tak ada petunjuk. Kusadari saja, tak perlu diterjemahkan.
Aku mulai mengelilinginya, meraba yang terasa seperti hal biasa, hingga kutemukan gagang bilik dan kuputuskan membukanya. Membiarkan cahaya udara menyinari dan menyegarkan pengap lembab yang terperangkap.

Cukup lama hingga terasa wajar, kalaupun tak sampai menyegarkan. Perlu banyak bukaan agar angin terasa memenuhi rongganya yang hampa. Kini lebih leluasa, dan aku mendapati ‘anagapesis’ adalah keniscayaan. Namun justru karena ketiadaannya, justru lebih ringan dan nyaman. Mungkin memang sebaiknya demikian? Karena tak perlu menggenggam erat atau melonggar lepas, hanya ada. Berada.

Sesap tetes kopi hitam pahit baru saja tuntas. Pagi ini ditemani irisan jeruk navel cara cara dan sekerat roti keju yang habis masa berlakunya tepat hari ini, disiram sedikit susu agar tidak terlalu keras lalu kupanaskan satu menit dalam oven gelombang mikro.

Kurapikan kembali meja agar bisa segera bekerja. Jangan berpikir aku mengerjakan pekerjaan serius. Bahkan hanya mengamati gerakan angka-angka bursa dan naik turun grafik stik lilin pun kuanggap bekerja, biar rasanya tidak berdosa. Hanya akhir pekan yang kuanggap sah duduk menonton film dari pagi hingga petang tanpa bekerja. Mungkin sebaiknya kutambahkan tanda petik, “bekerja”.

Sebelumnya, aku sempat berdiri di depan cermin, mengamati pantulan wajahku, sambil tersenyum karena teringat ibuku pernah berkata beberapa waktu lalu saat kami bertelepon video, “wajahmu kelihatan lebih bersih”, aku cuma tersenyum waktu itu. Tapi tadi, aku bergumam, “ini berkat ritual pagi 2 menit, olah kanuragan, istirahat cukup, dan mungkin… anagapesis?
Siapa yang tahu.

Ritual Pagi Dua Menit (Lebih)

Ritual Pagi Dua Menit (Lebih)

Sudah hampir dua bulan terakhir aku sangat menikmati ritual pagiku. Bangun lebih awal dari sebelumnya, beranjak menuju ruang kerja yang sekaligus menjadi ruang serbaguna, termasuk pantri, ruang istirahat, ruang olahraga, dan apapun sesuai kebutuhan.
Dari semua ritual pagiku, aku paling menyukai momen mempersiapkan sarapan. Sarapanku sederhana, namun menurutku cukup. Setidaknya membuatku bertenaga melakukan aktivitas hingga waktu makan siang.
Biasanya aku menyiapkan sarapan setelah sedikit mengolah raga, yang rerata memakan 30 hingga 45 menit menuju pukul 8:30. Kemudian aku akan mandi, dan melakukan ritual sarapan. Atau sembari mempersiapkan ritual, di sela-selanya aku akan mandi. Antara itu.

Aku menikmati sekali ritual ini, yang membuatku hidup dan merasa penuh. Jangan tanya “bagaimana bisa?” dulu, karena aku juga sedang berusaha menemukan jawaban yang tepat. Mari kuberikan gambaran ritual sarapanku.

Secara umum, aku akan selalu memiliki persediaan ini: kopi, susu, telur, muesli, buah – biasanya apel atau pisang, tapi akhir-akhir ini aku lebih memilih apel. Untuk urusan apel, aku biasanya memiliki dua jenis, asam dan manis. Akan kuceritakan alasannya nanti. Kalau sempat.

Pertama-tama, aku akan memecahkan dua butir telur ke dalam cangkir keramik, meletakkan cangkir ke dalam mangkuk dan menutup bagian atas cangkir dengan apapun yang bisa menutup permukaannya, kemudian mengisi mangkuk dengan air yang setidaknya merendam sepertiga bagian cangkir. Bayangkan saja sesuai keinginanmu, tidak mengapa.

Lalu mangkuk berisi cangkir terendam sepertiga yang berisi dua butir telur tadi, kumasukkan ke dalam tungku gelombang mikro dan kupasang waktu dua menit. Cukup dua menit saja. Dua menit akan membuat telur di dalamnya terkukus setengah matang dengan kepadatan yang tepat untuk disendok tanpa berceceran.

Sambil menunggu bunyi “ping”, biasanya aku akan melakukan salah satu dari dua-tiga hal ini, tergantung mana dulu yang aku ingat. Polanya tidak selalu sama.

Satu, aku akan mencuci apel, mengirisnya menjadi empat bagian, dan membuang bagian tengah buah berbiji, sehingga aku tak kerepotan lagi nanti ketika menyantap. Apel siap. Kadang aku sudah memakannya sepotong terlebih dahulu.

Atau dua, aku mulai memanaskan air, dan menyiapkan sub ritual favoritku, kopi. Kupikir ini adalah pertunjukan utamanya.
Semenjak perutku tak terbiasa lagi menyeduh kopi sobek, aku selalu menggunakan biji kopi berbagai jenis yang kugiling sendiri atau kadang aku minta digilingkan di toko kopinya, atau aku membeli biji kopi yang sudah digiling. Kopi sobek sudah lama kutinggalkan, karena selain membuat perutku kembung dan atau begah, rasanya sungguh tak nikmat lagi di lidah dan tenggorokan. Bisa jadi terlalu manis, sekali lagi dan atau, terasa sekali palsunya.

Aku menggunakan beberapa metode menyeduh kopi, namun akhir-akhir ini aku paling suka menggunakan penetes kopi yang dilapisi kertas saring. Semata-mata karena aku tidak perlu repot mencuci perkakas usai menyeduh. Peras kopi dalam kertas saring setelah tetesan terakhir, buang, selesai.
Jarang sekali kopi kutambah asesori lain kecuali susu, itupun kalau sedang ingin. Kopi hitam pahit menurutku adalah cara paling otentik menikmati kopi. Namun tak jarang, suasana hati mempengaruhi bagaimana aku menikmati kopi pagi hari. Bisa jadi, kopi hitam dan susu, kopi hitam dan gula nira, kopi hitam dan susu dan gula nira, atau kopi hitam dan susu dan gula nira dan serbuk jahe. Itu saja kombinasinya untuk kopi pagi hari. Kopi siang, kopi sore atau malam, lain lagi. Itu juga kalau sedang ingin. Tapi kopi pagi adalah sebuah keniscayaan.
Kopi siap. Kadang aku sudah menyeruputnya sesesap terlebih dahulu.

Bisa jadi tiga, kalau sedang ingin sarapan agak lebih banyak, aku akan mengambil 4-5 sendok makan muesli, menyiramnya dengan susu begitu saja, dingin.

Atau kusiram sedikit air, dan kuhangatkan sebentar dalam tungku gelombang mikro, lalu kutambahkan beberapa sendok yoghurt ke dalamnya. Kadang aku sudah mengecapnya sesendok terlebih dahulu.

Bunyi “ping”, artinya sudah dua menit telur terkukus, dan siap disajikan. Aku akan mengeluarkan cangkir berisi dua butir telur dari dalam mangkuk yang berisi sepertiga bagian cangkir, mengelap bagian bawah cangkir yang basah karena terendam air sepertiga bagian luarnya, kemudian menaburkan serpih nori pedas ke atas telur sebelum kusendok.

Puncak ritual adalah sajian segelas kopi hangat, irisan apel, semangkuk muesli berlapis yoghurt, dan dua butir telur kukus setengah matang bertabur serpihan nori pedas di dalam cangkir. Biasanya kunikmati sembari menonton video seseorang berjalan dalam diam menyusuri jalanan di Jepang – kampung halamanku, kata beberapa orang teman – atau membaca.
Ritual akan berakhir ketika semua hidangan telah terkunyah dan tertelan dengan baik, ditutup dengan perasaan bahagia. Aku tenang dan senang.

Oh, mungkin ini yang membuatku bahagia. Karena aku masih bisa sarapan nikmat, dalam raga sehat dan jiwa tak cemas.

AHA! Terima kasih semesta.

Dari Sudut Atas Ruang

Dari Sudut Atas Ruang

Aku tak selalu memeperhatikan, namun beberapa kali mengamati perilakunya. Penghuni di salah satu apartemen, yang dari polanya aku tahu dia tak ingin terlalu banyak terlihat.
Dia hanya muncul beberapa kali dalam sehari jika sedang tidak bepergian, tentu saja. Biasanya aku melihat dari sudut atas ruang yang berbatasan langsung dengan unit apartemennya, atau kalau memungkinkan malah dari dalam ruangannya. Tapi ini jarang terjadi. Nanti aku ceritakan alasannya.

me2architects-studios-apartment-3Kegiatan yang hampir selalu pasti teramati adalah, pada pagi hari, ketika dia membuka pintu pertama kali – dugaanku, dia baru bangun tidur – membawa tempat sampah dan membuangnya di lorong saluran pembuangan sampah di luar unit apartemennya, yang secara rutin dikosongkan oleh petugas kebersihan.
Lalu akan sekali dua kali lagi keluar, untuk membuang debu-debu kotoran dari kantong vacuum cleaner tak lama setelah dia membuang sampah sebelumnya.

Momen buka pintu berikutnya, adalah ketika dia memeriksa kiriman, entah itu paket atau antaran makan dari ojek online, tapi akhir-akhir ini dia jarang menerima paket. Setidaknya dua kali dia keluar untuk mengambil antaran dalam sehari.
Selebihnya, sesekali saja dia keluar, bilamana perlu. Untuk yang sesekali ini, aku tidak melihat pola tertentu. Acak.

Dia tidak terlalu bergaul dengan tetangga unitnya. Beberapa penghuni dia tahu wajahnya saja, bertegur sapa seadanya, namun tidak dekat. Dia tahu nama-nama tetangganya dari pengelola apartemen, yang selalu bercerita tentang apa saja kejadian di apartemen tersebut setiap ada waktu bertemu. Mereka terlihat akrab ketika sedang mengobrol.

Aku tahu dia berteman dengan siluman. Kisahnya aku dapatkan dari ibuku, yang didapat dari cerita kakekku, yang didengarnya dari neneknya kakekku, yang dikisahkan oleh garis entah keberapa dari leluhurku. Tapi yang jelas penutur awal dari leluhurku, hidup di jaman leluhurnya. Jadi kurang lebih kalian tahu, bahwa pertemanan beda alam ini telah terjadi turun-temurun. Kata ibuku, mereka menjalin traktat akad sebahat. Entah sampai keturunan keberapa. Mungkin hingga salah satu keturunannya tidak berketurunan. Rahasia semesta.

Suatu saat, aku pernah mengamatinya sedang membaca-baca jurnal di layar komputer lipatnya tentang makhluk luar angkasa. Alien, mereka menyebutnya. Aku tahu mereka menyebutnya demikian karena judul jurnalnya terbaca demikian. Jangan heran, aku bisa membaca.
Entah apa yang membuatnya tetiba tertarik membaca tentang makhluk asing luar angkasa. Apakah teman silumannya kurang kosmik? Atau tidak lebih astral dari makhluk halus kebanyakan?
Analisaku mengatakan dia sedang agak jengah dengan hubungannya saat itu.
Agak lucu kejadian hari itu. Saat dia selesai membaca jurnalnya, matanya mendadak sejurus menatapku beberapa saat. Lalu wajahnya nampak seperti orang linglung. Aku diam saja, balas menatap matanya. Sampai kemudian dia terhenyak, dan bergerak ke meja dapurnya, menyeduh kopi. Aku geli mengingatnya.

giphyAku juga sering mengamati teman silumannya ini, ketika kebetulan dia muncul. Kemunculannya selalu ditandai dengan asap mengepul-ngepul. Cuma aku yang bisa melihat asapnya. Mungkin dia juga, kan dia temannya? Tetangga dan orang-orang di apartemennya tak bisa menginderanya. Aku tahu pasti itu, jadi tidak perlu bertanya, “kok tahu?”. Aku tahu, itu sudah.
Lain kali saja kuceritakan tentang teman silumannya ini.

Jadi, aku biasanya menelusup ke dalam apartemennya dari celah lubang angin, yang meskipun tertutup – mencegah udara dingin penyejuk ruangan keluar – masih ada sedikit celah untuk menyelinap.
Aku tak suka berlama-lama di apartemennya ketika dia tidak ada. Pengap, bau jamur. Bagaimana tidak, ventilasinya ditutup agar udara penyejuk ruangan tak keluar. Sementara di beberapa sudut ruangannya kadang ada rembesan air ketika hujan. Jadi, daripada aku kena penyakit, aku pergi saja.
Aku akan kembali ketika dia sedang ada di tempat. Ketika dia ada, ruangannya menjadi sejuk segar. Dia buka jendelanya lebar-lebar setiap pagi agar udara teralir dengan baik. Saat itu, tentu saja penyejuk ruangannya dimatikan. Dia akan menyalakannya kembali setelah sore atau menjelang malam.
Ruangannya terlihat bersih ketika dia sendiri. Setiap pagi, dari kegiatan rutinnya yang kuceritakan di awal tadi, kelihatan dia rajin bersih-bersih.
Mengapa hanya terlihat bersih saat dia sendiri? Karena ketika teman silumannya muncul, dia akan membiarkan ruangan seadanya, sampai teman silumannya lenyap moksa kembali. Baru kemudian dia akan membersihkannya lagi.

Ini saja dulu ya. Lain kali aku cerita lagi. Tentang dia atau penghuni apartemen lainnya. Atau tentang siluman dan setan demit yang ada di sini? Tenang saja, aku punya banyak kisah.

cicak

Hari ini warnanya merah muda, agak mendung tapi tidak hujan.
Aku mau cari nyamuk dulu, lapar.

Kopi Sobek Jumat Malam

Kopi Sobek Jumat Malam

Aku menyukai malam seperti aku menyukai akhir pekan. Padanya aku tak perlu khawatir akan kepenatan, tuntutan hiruk-pikuk dunia siang dan hari-hari kerja.
Bukan berarti aku tidak menyukai siang dan hari-hari kerja. Aku menyukai mereka dalam sensasi yang berbeda.

Tahun ini berawal dengan agak lambat, tidak seperti biasanya, kurasa.
Hari-hari padat masih terasa lengang hingga bulan kedua. Pun terasa lebih sendu bahkan semenjak awal bulan pertama. Rasanya hampir seperti kelabu. Tidak wajar aku merasakan warna, tapi ini terasa.

wet roadMalam ini hujan. Tidak dingin, namun agak sesak pening berkunang-kunang. Aneh hujan di ibukota. Tapi bukankah ibukota memang nyaris selalu anomali. Tak heran banyak yang tak menyukai.
Aku membiarkan pemutar otomatis di saluran musik daringku mengalunkan lagu tanpa kata, sebagaimana kubiarkan jari-jemariku menekan tombol huruf merangkai kata sebagai pendamping nada-nada.

Rintik hujan yang biasa dirindukan banyak orang ini rasanya ingin kuganti dengan butiran salju yang dingin dan kering. Tidak basah dan lembap seperti di sini. Aku tak keberatan berbaju lapis-lapis, berbalut syal tebal dan sarung tangan. Karena aku tetap kering. Di sini, setipis apapun bajuku, tetap basah. Oya, dan lengket. Aku benci. Bikin jamuran.

SoulApakah aku pernah cerita, aku dulu bisa keluar dari ragaku dan berbincang dengan diriku sendiri? Dulu. Dulu sekali. Sebelum dewasa memaksakan logika dan membuatku berkata aku seperti orang gila. Tadi siang, aku merasakannya sesaat. Sebentar saja. Tapi aku ingat rasanya, meskipun hanya beberapa detik. Sembari bersila berusaha mendengarkan imam yang masih khotib, aku menatap tanganku dengan jam tangan biru dan sempat berkata pada ragaku, “hei, kamu”. Itu saja. Lalu sudah.

Sebelum malam, banyak tanya melintas. Ada yang terjawab, ada yang menggantung. Banyak distorsi, juga distraksi. Kadang terselang sepi. Kurasa-rasa saja. Rasanya aku khawatir, cemas. Kemudian lenyap. Lalu lebih tenang dan ringan. Sedikit.
Berganti penasaran dan buncah semangat. Sedikit. Sekarang, datar, tak terindera. Sedikit.

coffeeKuseduh kopi sobek, karena aku sedang malas mengolah kopi serius seperti biasanya. Lagipula, aku kehabisan saringan kopi. Ritualnya kuganti. Gelas kosong kuisi dulu dengan dua sendok teh serbuk jahe gula, dua jumput krimer, lalu dua sobek kopi instan kecil yang biasa disajikan di pesawat, kalau naik kelas ekonomi dan kalian paham rasanya. Lumayan juga. Meskipun tak terasa seperti kopi sungguhan. Paling tidak bisa menipu lidahku… yang jelas-jelas tak bisa tertipu.

Di luar hujan masih rintik-rintik rapat. Namun sepertinya aku sudah bisa menghela nafas panjang, yang hembusannya terasa menyentuh tanganku dan uapnya terasa seperti “semua akan baik-baik saja”. Maka jadilah sesuai imanmu.

Semua akan baik-baik saja.

*  *  *

Metafora dalam D Mayor

Metafora dalam D Mayor

Jika deret notasi balok bisa mewakili bagaimana diri kita kapanpun bisa hanyut ke dalam, aku akan memilih kanon dan giga dalam kunci D mayor. Terimakasih pada tuan Johann Pachelbel, yang imajinasi nadanya mampu memadu hening dan riang dalam alunan awal cello, harpsichord, dan organ yang sempurna.

Ini adalah gubahan yang selalu mampu membuatku terkesiap fana sekejap, meresapi sukacita dan tragedi dalam ketenangan tersirat. Sungguh alibi sempurna untuk menjawab pertanyaan dengan “aku tak tahu”. Lakuna semu yang tepat untuk bersembunyi dan melakukan apapun yang perlu saat itu. Marah, sedih, kecewa, bahagia. Mengumpat, menangis, menyesal, tertawa.
Apapun.
Sesaat.

Ceruk melikut sirna saat garis-garis notasi berakhir. Semua kembali nyata berlogika. Kadang apa adanya begitu, kadang palsu, kadang ambigu. Mana perlumu.

Aku tak memberinya waktu khusus untuk hadir, karena rencana tak selalu sesuai harapan. Maka aku membiarkannya tiba kapan saja. Menikmati jeda selintas jengkal dalam jiwa yang tak kekal.

photo-1531318701087-32c11653dd77
Free Soul

Seketika yang Lalu

Kadang mendengar alunan musik instrumental di pagi hari sejuk yang tenang bisa agak sedikit berbahaya bagiku. Irama menenangkan, hampir pasti akan membawa segala kenangan tanpa keriaan yang mampu disimpan hippocampus sistem limbikku dan mengembalikan kejadian nyaris sempurna. Pernah suatu pagi, aku mendadak terisak sesak mengingat sesal lampau tak berkesudahan. Kemudian di satu pagi lainnya, aku tercenung diam beberapa lama, mengindra sakit dendam marah, dan rasa-rasa yang jika mampu aku kembali akan kulakukan kebalikan tindakanku masa itu. Jika saat itu aku diam, aku akan berteriak. Jika saat itu aku pasrah, aku akan berontak. Jika saat itu aku marah, aku akan tenang. Semuanya, asal bukan yang saat itu. Andai saja.

Namun kemudian, setelah kupikir-pikir, alunan musik ini tidak serta-merta berbahaya. Beberapa saat setelah segala ingatan lalu terdedah, air mata tertumpah, marah memaksa serapah hingga aku merasa lelah, jiwaku terasa ringan tercerah. Aku menemukan celah agar tidak kembali melakukan tindak bodoh seperti yang sudah-sudah. Aku merasa bertenaga.

Apa ini yang disebut terapi? Bisa jadi. Tapi yang pasti aku kemudian sadar diri. Sepele sekali hidup ini. Terkoyak begitu saja dipancing alunan sitar seruling dengan gemericik air. Apalagi angin sejuk bertiup membawa kicau cuitan burung, dan sesekali eretan tonggeret di sela-sela gesekan daun bambu. Itu saja bisa bikin jiwa porak-poranda. Sungguh rapuh.

Sejurus lalu, tarikan nafas dalam mengisi kepala, membasuh segar udara yang mengalir merelung kalbu. Tenang, damai, diam. Kepingan retak menyusun ulang. Pecah sana-sini, namun menyatu. Cacat, namun utuh. seketika tubuh sekujur merasa sejuk bersih ringan tanpa beban. Melihat rongsok rusak tampak indah menyatu dengan yang baru.

Tidak terjadi setiap hari, hanya terkadang. Biasanya ketika terlalu banyak gambar dan suara bermunculan, riuh, dan aku hanya bisa diam. Mengizinkan mereka ambil panggung, meneriakkan kegundahan. Alunan musik instrumental membuat segala hingar tersadar, ada yang lain selain rasa. Logika.
Menemukan awal, menelusur jalur, mengambil langkah, menyusun keping, menambal pecahan, mewadah gulana, menatap arah. Semuanya masuk akal, wajar beralasan.

Aku kemudian menyelesaikan segala buncah dengan secangkir kopi. Pekat, namun tidak terlalu pahit sebagaimana aku biasa menyeduh tanpa gula. Aku menambahkan sedikit susu dan serbuk jahe untuk menawar ketar dan menghangat rasa setelah terserak luka. Aku berterima kasih pada segala jenis robusta, arabica, ekselsa, racemosa, luwak, dan liberica yang setia menemani setiap pagi dengan segala tabula rasa yang menyertainya.

Pada akhirnya aku juga berterima kasih pada hembusan angin, tiupan seruling, petikan sitar, kicau burung, eret tonggeret, dan gesek dedaunan yang mengaduk segala indra di pagi hari sejuk yang tenang. Aku berterima kasih pada semesta yang membuat ada.

***