Dari Sudut Atas Ruang

Dari Sudut Atas Ruang

Aku tak selalu memeperhatikan, namun beberapa kali mengamati perilakunya. Penghuni di salah satu apartemen, yang dari polanya aku tahu dia tak ingin terlalu banyak terlihat.
Dia hanya muncul beberapa kali dalam sehari jika sedang tidak bepergian, tentu saja. Biasanya aku melihat dari sudut atas ruang yang berbatasan langsung dengan unit apartemennya, atau kalau memungkinkan malah dari dalam ruangannya. Tapi ini jarang terjadi. Nanti aku ceritakan alasannya.

me2architects-studios-apartment-3Kegiatan yang hampir selalu pasti teramati adalah, pada pagi hari, ketika dia membuka pintu pertama kali – dugaanku, dia baru bangun tidur – membawa tempat sampah dan membuangnya di lorong saluran pembuangan sampah di luar unit apartemennya, yang secara rutin dikosongkan oleh petugas kebersihan.
Lalu akan sekali dua kali lagi keluar, untuk membuang debu-debu kotoran dari kantong vacuum cleaner tak lama setelah dia membuang sampah sebelumnya.

Momen buka pintu berikutnya, adalah ketika dia memeriksa kiriman, entah itu paket atau antaran makan dari ojek online, tapi akhir-akhir ini dia jarang menerima paket. Setidaknya dua kali dia keluar untuk mengambil antaran dalam sehari.
Selebihnya, sesekali saja dia keluar, bilamana perlu. Untuk yang sesekali ini, aku tidak melihat pola tertentu. Acak.

Dia tidak terlalu bergaul dengan tetangga unitnya. Beberapa penghuni dia tahu wajahnya saja, bertegur sapa seadanya, namun tidak dekat. Dia tahu nama-nama tetangganya dari pengelola apartemen, yang selalu bercerita tentang apa saja kejadian di apartemen tersebut setiap ada waktu bertemu. Mereka terlihat akrab ketika sedang mengobrol.

Aku tahu dia berteman dengan siluman. Kisahnya aku dapatkan dari ibuku, yang didapat dari cerita kakekku, yang didengarnya dari neneknya kakekku, yang dikisahkan oleh garis entah keberapa dari leluhurku. Tapi yang jelas penutur awal dari leluhurku, hidup di jaman leluhurnya. Jadi kurang lebih kalian tahu, bahwa pertemanan beda alam ini telah terjadi turun-temurun. Kata ibuku, mereka menjalin traktat akad sebahat. Entah sampai keturunan keberapa. Mungkin hingga salah satu keturunannya tidak berketurunan. Rahasia semesta.

Suatu saat, aku pernah mengamatinya sedang membaca-baca jurnal di layar komputer lipatnya tentang makhluk luar angkasa. Alien, mereka menyebutnya. Aku tahu mereka menyebutnya demikian karena judul jurnalnya terbaca demikian. Jangan heran, aku bisa membaca.
Entah apa yang membuatnya tetiba tertarik membaca tentang makhluk asing luar angkasa. Apakah teman silumannya kurang kosmik? Atau tidak lebih astral dari makhluk halus kebanyakan?
Analisaku mengatakan dia sedang agak jengah dengan hubungannya saat itu.
Agak lucu kejadian hari itu. Saat dia selesai membaca jurnalnya, matanya mendadak sejurus menatapku beberapa saat. Lalu wajahnya nampak seperti orang linglung. Aku diam saja, balas menatap matanya. Sampai kemudian dia terhenyak, dan bergerak ke meja dapurnya, menyeduh kopi. Aku geli mengingatnya.

giphyAku juga sering mengamati teman silumannya ini, ketika kebetulan dia muncul. Kemunculannya selalu ditandai dengan asap mengepul-ngepul. Cuma aku yang bisa melihat asapnya. Mungkin dia juga, kan dia temannya? Tetangga dan orang-orang di apartemennya tak bisa menginderanya. Aku tahu pasti itu, jadi tidak perlu bertanya, “kok tahu?”. Aku tahu, itu sudah.
Lain kali saja kuceritakan tentang teman silumannya ini.

Jadi, aku biasanya menelusup ke dalam apartemennya dari celah lubang angin, yang meskipun tertutup – mencegah udara dingin penyejuk ruangan keluar – masih ada sedikit celah untuk menyelinap.
Aku tak suka berlama-lama di apartemennya ketika dia tidak ada. Pengap, bau jamur. Bagaimana tidak, ventilasinya ditutup agar udara penyejuk ruangan tak keluar. Sementara di beberapa sudut ruangannya kadang ada rembesan air ketika hujan. Jadi, daripada aku kena penyakit, aku pergi saja.
Aku akan kembali ketika dia sedang ada di tempat. Ketika dia ada, ruangannya menjadi sejuk segar. Dia buka jendelanya lebar-lebar setiap pagi agar udara teralir dengan baik. Saat itu, tentu saja penyejuk ruangannya dimatikan. Dia akan menyalakannya kembali setelah sore atau menjelang malam.
Ruangannya terlihat bersih ketika dia sendiri. Setiap pagi, dari kegiatan rutinnya yang kuceritakan di awal tadi, kelihatan dia rajin bersih-bersih.
Mengapa hanya terlihat bersih saat dia sendiri? Karena ketika teman silumannya muncul, dia akan membiarkan ruangan seadanya, sampai teman silumannya lenyap moksa kembali. Baru kemudian dia akan membersihkannya lagi.

Ini saja dulu ya. Lain kali aku cerita lagi. Tentang dia atau penghuni apartemen lainnya. Atau tentang siluman dan setan demit yang ada di sini? Tenang saja, aku punya banyak kisah.

cicak

Hari ini warnanya merah muda, agak mendung tapi tidak hujan.
Aku mau cari nyamuk dulu, lapar.

Kopi Sobek Jumat Malam

Kopi Sobek Jumat Malam

Aku menyukai malam seperti aku menyukai akhir pekan. Padanya aku tak perlu khawatir akan kepenatan, tuntutan hiruk-pikuk dunia siang dan hari-hari kerja.
Bukan berarti aku tidak menyukai siang dan hari-hari kerja. Aku menyukai mereka dalam sensasi yang berbeda.

Tahun ini berawal dengan agak lambat, tidak seperti biasanya, kurasa.
Hari-hari padat masih terasa lengang hingga bulan kedua. Pun terasa lebih sendu bahkan semenjak awal bulan pertama. Rasanya hampir seperti kelabu. Tidak wajar aku merasakan warna, tapi ini terasa.

wet roadMalam ini hujan. Tidak dingin, namun agak sesak pening berkunang-kunang. Aneh hujan di ibukota. Tapi bukankah ibukota memang nyaris selalu anomali. Tak heran banyak yang tak menyukai.
Aku membiarkan pemutar otomatis di saluran musik daringku mengalunkan lagu tanpa kata, sebagaimana kubiarkan jari-jemariku menekan tombol huruf merangkai kata sebagai pendamping nada-nada.

Rintik hujan yang biasa dirindukan banyak orang ini rasanya ingin kuganti dengan butiran salju yang dingin dan kering. Tidak basah dan lembap seperti di sini. Aku tak keberatan berbaju lapis-lapis, berbalut syal tebal dan sarung tangan. Karena aku tetap kering. Di sini, setipis apapun bajuku, tetap basah. Oya, dan lengket. Aku benci. Bikin jamuran.

SoulApakah aku pernah cerita, aku dulu bisa keluar dari ragaku dan berbincang dengan diriku sendiri? Dulu. Dulu sekali. Sebelum dewasa memaksakan logika dan membuatku berkata aku seperti orang gila. Tadi siang, aku merasakannya sesaat. Sebentar saja. Tapi aku ingat rasanya, meskipun hanya beberapa detik. Sembari bersila berusaha mendengarkan imam yang masih khotib, aku menatap tanganku dengan jam tangan biru dan sempat berkata pada ragaku, “hei, kamu”. Itu saja. Lalu sudah.

Sebelum malam, banyak tanya melintas. Ada yang terjawab, ada yang menggantung. Banyak distorsi, juga distraksi. Kadang terselang sepi. Kurasa-rasa saja. Rasanya aku khawatir, cemas. Kemudian lenyap. Lalu lebih tenang dan ringan. Sedikit.
Berganti penasaran dan buncah semangat. Sedikit. Sekarang, datar, tak terindera. Sedikit.

coffeeKuseduh kopi sobek, karena aku sedang malas mengolah kopi serius seperti biasanya. Lagipula, aku kehabisan saringan kopi. Ritualnya kuganti. Gelas kosong kuisi dulu dengan dua sendok teh serbuk jahe gula, dua jumput krimer, lalu dua sobek kopi instan kecil yang biasa disajikan di pesawat, kalau naik kelas ekonomi dan kalian paham rasanya. Lumayan juga. Meskipun tak terasa seperti kopi sungguhan. Paling tidak bisa menipu lidahku… yang jelas-jelas tak bisa tertipu.

Di luar hujan masih rintik-rintik rapat. Namun sepertinya aku sudah bisa menghela nafas panjang, yang hembusannya terasa menyentuh tanganku dan uapnya terasa seperti “semua akan baik-baik saja”. Maka jadilah sesuai imanmu.

Semua akan baik-baik saja.

*  *  *

Metafora dalam D Mayor

Metafora dalam D Mayor

Jika deret notasi balok bisa mewakili bagaimana diri kita kapanpun bisa hanyut ke dalam, aku akan memilih kanon dan giga dalam kunci D mayor. Terimakasih pada tuan Johann Pachelbel, yang imajinasi nadanya mampu memadu hening dan riang dalam alunan awal cello, harpsichord, dan organ yang sempurna.

Ini adalah gubahan yang selalu mampu membuatku terkesiap fana sekejap, meresapi sukacita dan tragedi dalam ketenangan tersirat. Sungguh alibi sempurna untuk menjawab pertanyaan dengan “aku tak tahu”. Lakuna semu yang tepat untuk bersembunyi dan melakukan apapun yang perlu saat itu. Marah, sedih, kecewa, bahagia. Mengumpat, menangis, menyesal, tertawa.
Apapun.
Sesaat.

Ceruk melikut sirna saat garis-garis notasi berakhir. Semua kembali nyata berlogika. Kadang apa adanya begitu, kadang palsu, kadang ambigu. Mana perlumu.

Aku tak memberinya waktu khusus untuk hadir, karena rencana tak selalu sesuai harapan. Maka aku membiarkannya tiba kapan saja. Menikmati jeda selintas jengkal dalam jiwa yang tak kekal.

photo-1531318701087-32c11653dd77
Free Soul

Seketika yang Lalu

Kadang mendengar alunan musik instrumental di pagi hari sejuk yang tenang bisa agak sedikit berbahaya bagiku. Irama menenangkan, hampir pasti akan membawa segala kenangan tanpa keriaan yang mampu disimpan hippocampus sistem limbikku dan mengembalikan kejadian nyaris sempurna. Pernah suatu pagi, aku mendadak terisak sesak mengingat sesal lampau tak berkesudahan. Kemudian di satu pagi lainnya, aku tercenung diam beberapa lama, mengindra sakit dendam marah, dan rasa-rasa yang jika mampu aku kembali akan kulakukan kebalikan tindakanku masa itu. Jika saat itu aku diam, aku akan berteriak. Jika saat itu aku pasrah, aku akan berontak. Jika saat itu aku marah, aku akan tenang. Semuanya, asal bukan yang saat itu. Andai saja.

Namun kemudian, setelah kupikir-pikir, alunan musik ini tidak serta-merta berbahaya. Beberapa saat setelah segala ingatan lalu terdedah, air mata tertumpah, marah memaksa serapah hingga aku merasa lelah, jiwaku terasa ringan tercerah. Aku menemukan celah agar tidak kembali melakukan tindak bodoh seperti yang sudah-sudah. Aku merasa bertenaga.

Apa ini yang disebut terapi? Bisa jadi. Tapi yang pasti aku kemudian sadar diri. Sepele sekali hidup ini. Terkoyak begitu saja dipancing alunan sitar seruling dengan gemericik air. Apalagi angin sejuk bertiup membawa kicau cuitan burung, dan sesekali eretan tonggeret di sela-sela gesekan daun bambu. Itu saja bisa bikin jiwa porak-poranda. Sungguh rapuh.

Sejurus lalu, tarikan nafas dalam mengisi kepala, membasuh segar udara yang mengalir merelung kalbu. Tenang, damai, diam. Kepingan retak menyusun ulang. Pecah sana-sini, namun menyatu. Cacat, namun utuh. seketika tubuh sekujur merasa sejuk bersih ringan tanpa beban. Melihat rongsok rusak tampak indah menyatu dengan yang baru.

Tidak terjadi setiap hari, hanya terkadang. Biasanya ketika terlalu banyak gambar dan suara bermunculan, riuh, dan aku hanya bisa diam. Mengizinkan mereka ambil panggung, meneriakkan kegundahan. Alunan musik instrumental membuat segala hingar tersadar, ada yang lain selain rasa. Logika.
Menemukan awal, menelusur jalur, mengambil langkah, menyusun keping, menambal pecahan, mewadah gulana, menatap arah. Semuanya masuk akal, wajar beralasan.

Aku kemudian menyelesaikan segala buncah dengan secangkir kopi. Pekat, namun tidak terlalu pahit sebagaimana aku biasa menyeduh tanpa gula. Aku menambahkan sedikit susu dan serbuk jahe untuk menawar ketar dan menghangat rasa setelah terserak luka. Aku berterima kasih pada segala jenis robusta, arabica, ekselsa, racemosa, luwak, dan liberica yang setia menemani setiap pagi dengan segala tabula rasa yang menyertainya.

Pada akhirnya aku juga berterima kasih pada hembusan angin, tiupan seruling, petikan sitar, kicau burung, eret tonggeret, dan gesek dedaunan yang mengaduk segala indra di pagi hari sejuk yang tenang. Aku berterima kasih pada semesta yang membuat ada.

***

Alienship

Alienship

Mungkin aku perlu mempertimbangkan untuk mulai mempelajari sinyal dan transmisi. Terutama yang bisa menembus lapisan-lapisan pelindung bumi, agar bisa tertangkap alien. Lalu aku bisa menjalin kontak dengan mereka, berinteraksi, berkenalan lebih jauh, dan menjalin hubungan. Kalau aku mengatakan hubungan, maksudnya adalah hubungan percintaan. Meskipun aku agak risih menggunakan satu kata itu. Betul, mungkin aku perlu mempertimbangkan menjalin hubungan dengan alien. Tak peduli bentuk wujudnya seperti apa.

Siapa yang tahu kalau alien memang bentuknya aneh-aneh seperti dalam film-film fiksi ilmiah yang sering diputar di televisi dan layar lebar? Tidak ada yang pernah benar-benar melihat alien, aku rasa.
Kalaupun memang bentuk rupa mereka memang seaneh yang ditampilkan selama ini, tidak ada juga yang benar-benar tahu sifat, watak, dan perasaan mereka. Bisa jadi hanya bentuk luarnya saja yang tidak menarik, namun ternyata di dalam, mereka memiliki penginderaan dan kepekaan yang jauh lebih manusiawi. Istilah manusia untuk memberi standar bagaimana seharusnya menjadi manusia, yang selalu mengklaim makhluk paling sempurna ciptaan Tuhan. Terdengar sombong, menurutku.

Ya, rasanya aku perlu menjajagi untuk menjalin hubungan dengan alien. Menjalin hubungan dengan manusia sangat melelahkan. Banyak yang harus dijaga agar hubungan tetap aman, lancar, tenteram. Bahasa iklannya, harmonis. Harmonis eek komodo!
Tidak ada yang namanya hubungan harmonis. Seolah-olah harmonis, itu baru ada. Jangankan hubungan dengan umatnya, hubungan dengan seorang diantaranya saja bisa bikin stroke. Bayangkan, dua tubuh manusia, dua kepala, dua hati, dua jiwa, dua perasaan yang berbeda, lalu bersama menjadi satu entah dalam ikatan atau tidak, bermanis manja pada masa percaya, lalu berpahit abai pada masa bengkalai.
Adapun hubungan harmonis, jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Jari Btari Durga lah, paling tidak, yang tangannya banyak. Tapi coba cermati, seharmonis apapun sebuah hubungan, akan ada pihak yang mengalahkan, dan ada yang (bersedia atau terpaksa) dikalahkan. Meskipun ada istilah yang lebih sejuk damai dan membenarkan. Mengalah.

Mengalah bukan berarti kalah, mengalah lebih bijaksana, mengalah untuk menang, dan banyak penyemangat lain bagi si pengalah. Utekmu njepat! Coba, pernah kalian tahu apa yang dirasakan si pengalah? Yang selalu mencoba memahami? Inginkah mereka dipahami sesekali? Dimenangkan sesekali, atau sekedar dibuat merasa seimbang?
Namanya manusia, kalau mau disebut manusiawi, pasti punya rasa lelah. Eits… hati-hati mengeluarkan kata ini. Pihak yang mengalahkan, akan bisa berasumsi lain. Bisa dengan mudah berkata, “Baiklah, maaf kalau telah membuat lelah, mungkin lebih baik sudah saja”. Sudah lambemu! Dipikir kalau sudah, terus beres? Yang menyudahi, bisa ketemu orang yang mau mengalah, seperti yang disudahi ini? Ya bagus kalau demikian. Kalau tidak, ya selamat nglangut. Yang disudahi, mungkin berpikir, “Sudah, begitu saja? Setelah mati-matian bersedia kalah, lalu… begitu saja? Buat apa selama ini bersedia menahan amarah?” Jancuk! Ndlégék tenan!
Dan banyak lagi tetek-bengek lainnya. Aku bosan pakai kata ‘drama’. Tetek-bengek saja, lebih bikin melek. Kalian boleh tidak sependapat denganku, toh ini adalah pemikiranku, yang mungkin terlalu banyak melihat (dan merasa), bahwa hubungan dengan manusia itu melelahkan.

Jadi, kembali ke pertimbangan awal tadi, barangkali alien adalah makhluk yang layak diperhitungkan untuk menjalin hubungan.
Siapa yang tahu, alien bisa membaca maksud hati tanpa komunikasi?
Siapa yang tahu, alien mampu berempati sebelum muncul tragedi?
Siapa yang tahu, alien dapat bertenggang rasa tanpa prakarsa?
Siapa yang tahu bisa, kalau belum dicoba?

Baiklah, aku akan mulai mempelajari sinyal dan transmisi. Terutama yang bisa menembus lapisan-lapisan pelindung bumi, agar bisa tertangkap alien. Aku akan merakit pemancar, agar alien bisa menangkap sinyal dan transmisiku dengan lancar. Aku akan menyusun rencana tahap awal.
Pertama, aku harus membuat kopi. Panas, tanpa gula, hitam. Lalu memasang headphone peredam suara, dan memutar musik. Atau mungkin juga bisa kuawali dengan membaca buku roman picisan, sebagai penyegaran agar otak jernih. Ah, tidak… aku mau menonton film dulu saja.

* * *

Heh? Sejak kapan itu cicak nempel di tembok atas pintu? Matanya hitam bulat, mirip kamera pengawas. Jangan-jangan dia utusan alien?
Haish…karepmu. Aku mau bikin kopi dulu.

Citra Warni Hari Ini

Citra Warni Hari Ini

Aku tidak mengingat hari berdasarkan nama, seperti manusia. Aku tidak mengingat hari, tapi aku melihatnya. Ya, aku melihatnya berupa warna dan beberapa tanda yang hampir selalu muncul bersamaan dengan citra saat itu.
Seperti ini misalnya…
Aku melihat warna hijau, ketika beberapa manusia lebih memilih bangun siang, bersantai dan bermalasan. Beberapa lagi memilih bangun pagi dan melakukan aktivitas sesekali selama beberapa warna, biasanya olahraga atau hanya sekedar pergi ke pasar membeli jajanan. Beberapa yang lain lagi bangun pagi, berpakaian rapi dan berdandan santun, membawa buku berisi doa dan pujian, lalu pergi ke sebuah tempat bernama gereja. Begitu yang aku dengar dari percakapan mereka.

Warna kuning adalah ketika hampir semua orang malas bangun, atau bangun terburu-buru. Ini adalah hari yang sepertinya dibenci oleh hampir semua manusia. Sehingga ketika mereka bisa bertahan melewati hari itu, sepertinya sepanjang warna-warni berganti hingga hari kuning kembali, semua akan baik-baik saja.

Setelah kuning, hari akan berganti merah muda. Pada saat ini, sepertinya dunia mulai membaik. Manusia sudah berhenti mengeluh, tidak seperti saat hari berwarna kuning. Mungkin sudah mulai terbiasa, atau bisa jadi mereka mulai sadar bahwa mau tidak mau semua warna akan berganti. Entahlah.

Merah mudah berlalu, berganti tosca. Dulu aku agak bingung dengan warna ini, karena warnanya nyaris hampir sama dengan hijau dan biru. Tapi seiring waktu, aku mulai bisa membedakannya. Aku tahu istilah ini saat menempel di dinding sebuah rumah yang akan dicat. Orang-orang berkata dindingnya dicat warna tosca. Baru aku tahu nama warna untuk hari itu.

Tosca hilang, coklat datang. Di hari ini, manusia sepertinya mendapat energi baru untuk mempersiapkan kedatangan hari yang mereka tunggu. Nanti aku kasih tahu warna apa. Aku sering mendengar celotehan manusia untuk melakukan ibadah sunnah rosul saat hari berwarna coklat. Awalnya aku tidak tahu itu apa, tapi suatu saat ketika aku sedang menempel pada sebuah dinding rumah, aku tahu apa yang mereka maksud. Kapan-kapan aku ceritakan. Hihi…

Jingga muncul setelah coklat. Ini hari yang menurut manusia adalah hari yang pendek. Aku juga awalnya tidak paham apa maksudnya, karena menurutku durasinya juga sama saja seperti hari-hari lainnya. Namun ketika hari berwarna jingga, aku melihat banyak manusia lelaki bersiap pergi ke sebuah tempat bernama masjid. Dan ketika hari ini sudah menjelang gelap, banyak manusia bersukacita karena setelah hari ini adalah hari yang mereka tunggu-tunggu selama beberapa warna berganti.

Dan akhirnya, inilah hari yang mereka tunggu, warnanya biru. Biru adalah hari dimana banyak manusia bahagia karena mereka tidak harus bangun pagi dan melakukan rutinitas seperti hari-hari lainnnya. Memang tidak semua manusia, tapi sepertinya ini adalah hari saat manusia yang tidak sibuk di hari lainnya pun tidak akan merasa berdosa jika bermalas-malasan.
Kebanyakan mereka punya 2 hari untuk bisa seperti ini, saat hari berwarna biru dan hijau. Karena setelah hijau berlalu, hari kuning akan kembali mewarnai hidup mereka.

Maka, begitulah aku mengingat hari. Meskipun pada akhirnya aku tahu, warna-warna itu memiliki nama, karena aku sering mendengar manusia mengucapkannya. Minggu-Senin-Selasa-Rabu-Kamis-Jumat-Sabtu.
Tapi aku lebih suka melihatnya berwarna-warni.
Lain kali aku ceritakan pengalaman seru di warna-warni itu. Sekarang aku lapar, mau berburu nyamuk. Sampai ketemu di warna lain, semoga warna kalian menyenangkan.

Oya, aku adalah seekor cicak.

metode-pemilihan-warna

Warna

Akad Sebahat

Akad Sebahat

Aku berteman dengan siluman.
Siluman apa? Aku sendiri bingung… Dia mengaku siluman kucing, padahal aku yakin benar dia siluman ikan. Bagaimana mungkin dua siluman predator dan mangsa menyatu dalam satu entitas?
Aneh bukan? Tapi, sudahlah. Kalian tak usah ikut memikirkannya. Percaya saja kalau dia siluman.

Aku hampir yakin kalian mengira aku sesat, pengabdi iblis, pemuja ilmu hitam, atau apalah karena berteman dengan siluman. Pendapat itu mungkin tidak salah, tapi tidak benar untuk pengalamanku. Jadi, biarkan aku cerita bagaimana aku bisa berteman dengan siluman kucing padahal siluman ikan ini pada kalian.

Mungkin di dunia siluman, manusia adalah makhluk halus. Jadi ketika para siluman khilaf, tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan untuk meraih apapun yang mereka inginkan, salah satu jalan pintasnya adalah bersekutu dengan manusia. Padahal mereka paham, itu kesalahan besar bagi mereka, kaum siluman.

Maka entah bagaimana, tiba-tiba saja aku dipertunjukkan oleh alam semesta pada siluman kucing padahal siluman ikan ini. Terjadilah permufakatan, dan akupun memenuhi segala keinginannya.
Jika biasanya kalian mengenal tumbal dalam kesepakatan dengan dunia lain lintas alam, sedikit berbeda dengan kami. Kami hanya sepakat diam, tak mengusik, tak berisik, dan kadang boleh saling menggendam. Hanya jika diperlukan.

Selama beberapa waktu, aku mampu memenuhi hampir segala permintaan, hingga akhirnya dia bisa keluar dari jerat masalahnya. Aku agak tenang, tidak perlu berpikir berat. Sampai pada suatu masa ketika kesaktianku mulai berkurang. Aku menduga, ini mungkin karena sumber tenagaku yang selama ini terasup dengan baik, mulai pasang surut.

Aku masih mampu bertahan dalam peperangan dan adu kanuragan dengan kesaktianku yang sekarang, namun aku hanya mampu bertahan untuk diriku sendiri dan tidak dalam kapasitas melindungi pihak lain. Pun demikian, masih banyak orang yang datang memohon-mohon untuk mendapatkan jaminan keamanan, mengingat sebelumnya, kapanpun hidup mereka terancam oleh ulah perampok, atau nyawa mereka teregang akibat kebodohan mereka sendiri, aku selalu siap siaga bilamana mereka perlukan.

Menyadari hal ini, aku kembali bermufakat tanpa syarat dengan siluman kucing padahal siluman ikan ini. Namun kali ini, bukan dia yang mengumpan menyan kemangi abu setanggi, melainkan aku.
Dia hanya menjawab datar ketika aku menyampaikan maksud dan tujuan kehadiranku. “Kau dulu tak meminta tumbal ketika aku bersekutu padamu, maka kini giliranku mencukupkan lakumu”. Begitu katanya.
Maka, sejak saat itu, siluman kucing padahal siluman ikan inilah yang membuatku mampu bertahan dengan kesaktianku yang pasang surut.
Sebenarnya aku sudah terbiasa mengalami hal ini, bahkan selagi masih perjaka dan mandraguna. Namun semakin lama, aku merasa kesaktianku ini sungguh memaksa ragaku lelah. Lahir batin.

Sebagai manusia, makhluk halus bagi kaum lelembut, sudah beberapa kali aku menjadi sekutu beragam siluman setan demit. Dari sekian siluman yang pernah bersekutu denganku ini, aku paling hafal kelakuan siluman-siluman makhluk air. Termasuk siluman yang mengaku kucing padahal ikan ini. Bagaimanapun dia mengaku siluman darat, jiwanya benar-benar makhluk air.

Siluman-siluman air dan makhluk-makhluknya sungguh membuatku tak habis pikir. Mereka adalah siluman paling melelahkan untuk dipahami. Kadang ketika aku berpikir mulai bisa mengikuti jalan pikiran mereka, bisa saja mereka tetiba berbelok tanpa tanda. Namun ketika aku melepasnya, ulah mereka bisa berputar kembali ke arah sebelumnya serta-merta.

Meskipun banyak di antara mereka memiliki sihir tingkat tinggi, namun kadang mereka tidak mempergunakan itu layaknya sihir mutakhir yang bisa membawa manfaat. Mereka akan menggunakannya untuk keperluan yang harus mereka sendiri yang tahu dan mau, tak peduli apakah semesta sedang memerlukannya atau tidak.

Mereka makhluk yang sangat rapuh dan rentan, namun tak mau disebut lemah.
Mereka makhluk yang labil, namun tak mau disebut plin-plan.
Mereka makhluk yang lunak, namun tak mau disebut lembek.
Mereka makhluk yang bersolek, namun tak mau disebut genit.
Mereka makhluk yang pelupa, namun tak mau disebut pikun.
Satu lagi, mereka adalah pemberi harapan, namun sesungguhnya sedikit mengumbar janji. Jangan disebut.

Saking lelahnya, aku merasa perlu menyudahi permufakatan ini. Beberapa kali sempat terpikir dan bertanya pada diriku sendiri, siapkah kulepas akad sebahat ini? Toh, siluman itu kini sudah mapan di alamnya, dan aku tak meminta tumbal. Lepas traktat, habis perkara.

Namun jujur, saat ini ragaku tidak terlalu siap jika tetiba saja terhantam jurus dan prana dari luar yang kadang datang bertubi tanpa permisi. Dan saat ini, kesaktian dari alamnya adalah salah satu penguatku. Permufakatan tanpa pakta ini, mau tidak mau, suka tidak suka, memang cukup membantu. Untuk sementara, sembari terus menjaga mantra melatih kanuragan, aku tak perlu terlalu berat memutar otak agar paling tidak kesaktianku mampu bertahan bilamana serangan menghunjam paksa untuk beberapa lama. Tapi sampai kapan?

Siluman-siluman makhluk air bukan jenis siluman yang bersih, meskipun kalian mungkin berpikir sebaliknya. Karena bagaimana tidak, mereka berada di air setiap saat, pasti senantiasa segar, sejuk dan kalis nirmala. Jangan salah, justru sebaliknya. Dari sekian siluman makhluk air yang pernah bermufakat denganku, hampir semuanya tidak resik.
Tapi jangan sekali-kali kalian menyinggung atau meminta mereka membersihkan diri atau melakukan apapun yang tidak ingin mereka lakukan, kalau kalian tidak ingin menelan kekesalan.
Mereka tidak akan menerima saran, usul, atau nasihat, apalagi yang kesannya memerintah, meskipun untuk kebaikan mereka sendiri. Kalian akan dianggap hendak mengubah mereka menjadi bukan mereka. Percayalah.

Aku tahu ini akan bisa menjadi runyam, entah dalam bentuk apa dan bagaimana. Namun untuk saat ini, aku belum bisa menemukan cara terbaik mengambil jalan tengah mengatasi mufakat yang nampak sesat ini.
Yang bisa aku lakukan saat ini hanyalah membuat diriku nyaman, dan memendam gejolak jiwa tanpa memunculkan prahara, baik untuk duniaku maupun alam siluman. Aku merasa seperti membesarkan seorang anak dalam raga sesosok siluman.
Siluman kucing padahal siluman ikan.

 

selkie-girl
The Seal People

Photo credit: Celtic-weddingrings.com