Sengkalang

Sengkalang

Buku itu berisikan nama semua anaknya beserta arti dan bagaimana kehidupan mereka di masa depan kelak. Lembar-lembar tulisan tangan itu hilang raib entah kemana.
Begitu sedikit percakapan dua orang ayah anak di suatu pagi.

Anaknya baru saja membongkar setumpuk lembaran lusuh dari dalam tas tua yang ia temukan di ruang kerja. Ruang itu sebetulnya lebih mirip gudang karena dipergunakan untuk menyimpan bermacam barang, terutama milik anak-anaknya yang kini semua merantau di ibu kota.
Tas tua itu tergolek di dalam lemari meja bersama dengan benda serupa di dalamnya. Tas dan semacam dompet-dompet besar ukuran ijazah yang berisi  entah kertas-kertas apa.
Anaknya menarik bundelan kertas tua bertuliskan aksara jawa, mengamatinya sambil tercenung, mungkin mencoba kemampuannya membaca aksara kuno yang dulu pernah dipelajari di bangku sekolah dasar, atau menguji imajinasi dengan melemparkan dirinya ke masa lalu dan membaca surat-surat berulir gores penuh wibawa.

“Surat ini diantarkan dari Keraton Kidul ke rumah, naik kereta kerajaan untuk Eyang Putri. Abdi dengan seragam lengkap dan payung kerajaan yang mengantarnya”, suara ayahnya menghentikan senyapnya.

Menurut sang ayah, yang sudah berulang kali menceritakan kisah ini pada anak-anaknya, Eyang Putri berasal dari Keraton Kidul, istilah untuk menyebut Kasunanan. Sedangkan Eyang Kakung berasal dari Kadipaten, Mangkunegaran mereka menyebutnya.

“Eyang Kakung sering dipanggil Ndoro Ronggo, karena beliau yang memegang kunci perpustakaan keraton. Hanya beliau yang memiliki izin penuh atas semua buku di dalamnya selain pemerintah Belanda dan beberapa gelintir orang yang mendapat keistimewaan dari kumpeni”, lanjut ayahnya.

“Suatu saat, Eyang Kakung menulis buku, semua huruf ditulis dengan tangannya sendiri. Buku itu berisikan nama semua anaknya beserta arti dan bagaimana kehidupan mereka di masa depan kelak. Lembar-lembar tulisan tangan itu hilang raib entah kemana. Itulah mengapa, ayah tidak heran jika nasib kalian seperti sekarang”, tutupnya mengakhiri cerita.

Anaknya mengernyitkan dahi… Apa maksudnya dengan “nasib kalian seperti sekarang”? Ada apa dengan nasib kami? Begitu sekira arti kernyitan dahi dalam suara diamnya, sebelum dia kembali menatap lembar-lembar pudar lusuh yang dipegangnya dengan hati-hati.

* * *

“Aku mendapat winarah dalam hening pustaka tentang nasib aliran darahku. Aliran yang akan bercampur dengan tubuh istriku, dan keluar sebagai para warisku. Aku bahkan tahu bahwa darahku akan mengalir di tapak aspal menyambut ragaku.
Aku akan menuliskan semuanya, dan hanya salah satu anakku yang boleh mengetahuinya. Semoga dia bisa memaknai gurat tersembunyi di baliknya tanpa begitu saja membacanya secara harfiah”.

Pena basah berbatang kayu menemaninya malam itu menorehkan lengkung-lengkung aksara dengan temaram dian, dalam keheningan wigraha pustaka dan aroma serat-serat daluwang.

* * *

“Dhimas, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu sebelum nafasku membeku…”

“Dulu, bapak pernah menunjukkan padaku sebuah buku yang pernah ditulisnya setelah mendapat winarah. Nasib, nama, dan suratan warisnya semua tertuang, tak terkecuali. Dia tahu, aku tahu. Ibu… aku tak yakin dia tahu. Mungkin”.

“Aku tak ingin mendahului Gusti Pangeran dan alam semesta. Apabila kau menemukannya… simpan. Simpan dan jangan kau jadikan garis nasib. Simpan sebagai warisan bapak. Sebagai penghormatan atas karyanya. Itu saja…”

“Mendekatlah, akan aku ceritakan sedikit tentangmu dan anak-anakmu…”

Sang kakak tak pernah menyelesaikan suratan adiknya, bahkan untuk memberitahukan di mana buku itu tersimpan…

* * *

Semua peninggalan bapak yang disimpan kangmas sebagian besar sudah kurapikan. Kujadikan satu bendel dalam sebuah map dan kumasukkan ke dalam tas. Semuanya, termasuk edaran-edaran dari keraton, ijazah sekolah rakyat ibu, surat nikah bapak dan ibu, semua. Tapi aku tak menemukan buku tulisan tangan bapak seperti yang diceritakan kangmas. Apa yang sebenarnya ditulis bapak tentang kami, anak-anaknya? Dia hanya sempat menceritakan sedikit mengenai nasibku dan anak-anakku kelak. Sedikit sekali. Sangat samar. Aku bukan ingin mendahului masa depan, aku hanya ingin lebih dekat mengenal bapak.

Aku masih SMP ketika bapak mengalami kecelakaan. Bapak terhantam mobil ketika akan turun dari bus yang membawanya ke rumah kangmas. Dia ingin menjenguk cucunya, putri kangmas yang baru saja lahir. Namun alam semesta memenuhi janjinya tanpa tunda. Bapak menyerahkan raganya di atas aspal yang tergenang darahnya.

Mungkin memang harus berhenti di sini. Mungkin memang hanya bundel kertas-kertas lusuh ini yang bisa kusimpan untuk mengenang bapak dan ibu. Mungkin suatu saat kelak, aku hanya akan bisa menceritakan kisah ini pada anak-anakku, entah mereka percaya dan bangga akan kebesaran leluhurnya, atau mereka hanya akan menganggapnya sebagai dongeng.

* * *

20171219000719
Dokumen Eyang
Iklan

Piring Itu …

Piring Itu …
piring
stack of plates

Adalah piring resepsi, dalam pesta pora riuh ria perkawinan, kelahiran, segala selamatan dan sukuran. Ini resepsi istimewa, tumpukan piringnya selalu sama.

Piring teratas adalah orang tua dari kakek neneknya.
Piring di bawahnya adalah kakek neneknya.
Piring di bawahnya lagi adalah ayah ibunya.
Piring di bawahnya, siapa lagi kalau bukan dia dan mereka.
Piring paling bawah adalah anak-anaknya.

Ini adalah tumpukan paling lengkap dari keluarga piring. Lalu tamu-tamu mengular, menanti giliran mengambil hidangan, mengubah tatanan tumpuk keluarga piring.

Tamu pertama, mengambil orang tua kakek neneknya. Diisinya dengan nasi, lauk-pauk, dan kerupuk. Nyawa.
Tamu kedua, mengambil kakek neneknya. Diisinya dengan nasi, sayur-mayur, sup, dan sambal. Jiwa.
Tamu ketiga, mengambil ayah ibunya. Diisinya dengan lauk-pauk, sayur-mayur, kerupuk. Tanpa nasi. Sukma.
Tamu keempat, mengambil dia dan mereka. Diisinya dengan sayur-mayur bersiram saus asam dan buah saja. Atma.
Tamu kelima, belum ingin makan. Piringnya tidak diambil. Tapi diganti.

Para sinom tak henti mengisi kembali nampan-nampan kosong dan mengganti tumpukan piring untuk ambilan tetamu berikutnya. Ini resepsi istimewa, tumpukan piringnya selalu sama.
Piring orang tua kakek nenek.
Piring kakek nenek.
Piring orang tua.
Piring dia dan mereka.
Piring anak-anaknya.
Lalu datang seorang tamu, sangat santun. Mengambil piring kakek nenek, setelah tamu di depannya mengambil piring orang tua kakek nenek.
Namun tamunya tak terlalu lapar. Piring kakek nenek dikembalikan. Tentu saja di atas tumpukan piring dia dan mereka, karena piring orang tua sudah diambil tamu belakangnya.

Para sinom tak henti mengisi kembali nampan-nampan kosong dan mengganti tumpukan piring untuk ambilan tetamu berikutnya. Ini resepsi istimewa, tumpukan piringnya selalu sama. Namun tumpukan terkini sedikit berbeda, karena tamu santun tak terlalu lapar.

Piring kakek nenek.
Piring dia dan mereka.
Piring anak-anaknya.
Tamu berikutnya, berbaju gamis, lengan panjang. Mengambil kembali piring kakek nenek milik tamu santun yang tak terlalu lapar.

Para sinom tak henti mengisi kembali nampan-nampan kosong dan mengganti tumpukan piring untuk ambilan tetamu berikutnya. Ini resepsi istimewa, namun kini piringnya tinggal dua.
Piring dia dan mereka.
Piring anak-anaknya.
Tamu kemudian, datang berpasangan. Lelaki bersarung batik, mengambil piring dia dan mereka.
Wanita berjarik lurik, mengambil piring anak-anaknya.
Tumpukan segera kosong, sinom tergesa. Namun sayang, terpeleset. Menabrak tamu wanita berjarik lurik, dengan piring anak-anaknya. Pecah.
Piringnya habis.

*

Angin bertiup biasa saja ketika kabar kematian tiba. Burung, ayam, bebek berkicau, kokok, kuek ala kadarnya. Tukang bubur, penjaja nasi pecel, penjual jamu tak berhenti meracik ramu. Semua wajar tak berkejar tanpa pertanda saat kabar kematian tiba.

Mati selalu dia, bukan kamu. Apalagi aku.
Mati selalu mereka, bukan kalian. Apalagi kita.
Mati selalu jauh, belum jelang. Apalagi dekat.
Mati selalu milik dia, mereka dan jauh.

Aku bukan mati, kamu pun.
Aku tidak mati, kamu pun.
Matiku jauh. Kamu… kali ini tidak pun.
Tapi aku belum. Kamu… aku tak tahu.

Selalu.
Sampai aku, dan mungkin kamu, mendapat jatah giliran dalam resepsi. Menjadi piring.
Sampai aku, dan mungkin kamu, menyadari tamu resepsinya sudah mengambil tumpukan di atas kita. Ya, itu piring ayah ibu.
Sampai aku, dan mungkin kamu, masih menunggu tamu, lalu sinomnya terpeleset.

**

Angin bertiup biasa saja ketika kabar kematian tiba. Sapi, kambing, kuda melenguh, embik, ringkik ala kadarnya. Loper koran, tukang pos, pengasong tetap bertandang meskipun rumah kosong. Semua wajar tak berkejar tanpa pertanda saat kabar kematian tiba.

Sesak sesaat, lalu sudah. Itu dia, bukan aku.
Duka sejenak, lalu lupa. Itu mereka, bukan kamu.
Alim sekejap, lalu nista. Matiku esok, bukan sekarang.

Selalu.
Sampai aku, dan mungkin kamu, mendapat jatah giliran dalam resepsi. Menjadi piring.
Sampai aku, dan mungkin kamu, menyadari tamu resepsinya sudah mengambil tumpukan di atas kita. Ya, itu piring ayah ibu.
Sampai aku, dan mungkin kamu, masih menunggu tamu, lalu sinomnya terpeleset.

Piringnya pecah.

Piring itu aku, kamu, kita…

Mati.

 

broken plates
broken plates

***

 

Terlamun Pasrah

Terlamun Pasrah

Kakiku dingin karena keringatku tertiup semburan penyejuk ruangan.
Rasanya jadi lembab dan tidak nyaman. Membuat jejamuran menghambur.
Aku selalu menutup kakiku kalau tidak ingin seluruh tubuhku ikut menjadi dingin.
Ujung kaki adalah pengendali suhu tubuhku.
Aku akan hangat ketika mereka hangat, dan akan dingin ketika mereka dingin.
Selimut hanya untuk mereka, bukan untuk paha, perut atau dada. Tapi untuk mereka, kaki.

Mereka serupa punggawa yang terlupa. Mengantar sang raja ke mana, namun begitu tiba kadang tak diharga.
Itulah mengapa, aku selalu membasuh mereka pertama kali begitu sampai ke tujuan. Bentuk penghargaan. Meskipun saat mengguyur tubuh, mereka selalu terakhir terbasuh, namun mereka punya waktu khusus untuk rehat berendamkan air suam bergaram, tetesan atsiri dalam perigi.

Dan sekarang aku lapar.

Sekarang sudah siang, hampir sore dan bukan hari yang sama.
Tapi aku sudah kenyang. Laparnya sudah lupa.
Aku makan sedikit nasi dengan banyak lauk.
Dua potong ayam rica, sekerat daging rendang kemarin sore, sebutir telur aku makan putihnya saja, dan ikan goreng yang di dalamnya berisi daging ikan giling dan telur. Kenyang. Bisa-bisa tertidur.

Di luar mendung, hujan turun mau tak mau. Untung anginnya sejuk, jadi jendela ku buka lebar.
Mulutku yang tadi berasa amis karena makan ikan sekarang sudah beraroma kopi yang menguar. Bukan seduh. Aku kunyah biji kopi yang dua hari lalu aku giling kasar. Amisnya hilang. Lalu aku menyeruput air jahe dan madu yang kutaburi sedikit garam.

Tetiba aku merindukan tanah Nobunaga. Entah karena lagu era baru yang terputar atau karena gerimis mulai rapat. Aku merasa ditaburi sakura. Aku ingin kembali.

Mungkin aku dulu berasal dari sana, di kehidupan sebelum sekarang. Entah sebagai apa, tapi aku merasa sangat dekat.
Angin membawa aroma tanah basah sekarang, dan aku semakin pasrah. Tenggelam mengkhayalkan sejarah…

IMG-20160930-WA0006

Sore itu Jingga

Sore itu Jingga

Sore itu jingga, seindahnya.
Sama seperti kopi itu pahit, seenaknya.
Atau pagi itu sejuk, senikmatnya.
Juga jadi orang itu seharusnya begini, sebaiknya.

Tapi itu dulu, ketika aku masih bisa mencium aroma hilalah yang sekarang namanya petrikor.
sama seperti ketika dulu aku menyebut bandros adalah gandos.
Atau saat Sabtu sore itu berwarna biru muda, sedangkan Minggu sore adalah merah buram.
Juga waktu buah tangan terbaik dari ayahku adalah kaset sanggar cerita.

Sekarang, saat ‘kenapa’ bisa diendapkan dulu, kemudian bagian jernihnya ditiriskan menjadi ‘betul juga sih’ atau ‘sebenarnya tidak masalah’ atau ‘ya mau bagaimana lagi’ atau ‘oh, ya sudah’
Semuanya lebih ringan dan tenang.

Sore itu jingga, seindahnya.
Kalau mendung? ‘Betul juga sih’.
Kopi itu pahit, seenaknya.
Kalau suka manis? ‘Sebenarnya tidak masalah’.
Pagi itu sejuk, senikmatnya.
Kalau ternyata gerah? ‘Ya mau bagaimana lagi’.
Jadi orang itu seharusnya begini, sebaiknya.
Kalau tidak begitu? ‘Oh, ya sudah’.

Sekarang petrikor baunya jarang terhirup.
Boro-boro makan bandros, ketan lupis saja pesan online.
Minggu sampai Sabtu sekarang warnanya sama, seragam, membosankan.
Sanggar ceritanya sudah banyak yang menjadi sanggar derita.

Tapi aku ringan dan tenang.
Karena sore itu jingga, kopi itu pahit, pagi itu sejuk, dan aku tidak menjadi orang yang seharusnya begini.

Aku ringan dan tenang.

Sepertinya …

jingga
dusk

WASKITA

WASKITA

“Jangan takut. Kamu hanya akan merasa seperti tidur hingga saatnya bangun nanti. Simbah akan memberitahumu kapan saatnya harus bangun, nduk. Berbaringlah. Sebentar lagi orang-orang itu akan segera sampai.”

Kemudian aku berbaring di peti kayu yang sudah dipersiapkan simbah di sebuah lubang seukuran 3 orang dewasa, suara simbah terdengar semakin lama semakin samar, lalu aku tertidur…

*

Suara aneh itu sedemikian keras hingga membuatku terbangun sontak dari mimpiku, dengan kepala pening dan degup jantung nyaris tak berjeda. Suara apa ini? Dan dimana aku? Suara aneh itu akhirnya berhenti. Ternyata berasal dari sebuah benda berbentuk persegi, seukuran setengah batu bata, yang belum pernah kulihat sebelumnya. Ada bagian yang berkilau memantulkan bayangan di sisi atas benda persegi itu, dan ada kotak-kotak kecil dengan tulisan-tulisan aneh di bawahnya.
Aku menyapukan pandangan ke seluruh penjuru ruang tempat aku terpaku bingung saat ini, benar-benar seperti hilang ingatan. Kepalaku masih pening, tapi aku masih tahu namaku, Seruni.

26gadegetwise-facebookJumbo-v2

Saat ini aku berada di atas dipan beralas lembut dan empuk dengan lapisan kain berwarna seperti kulit telur. Warna senada juga terpasang pada bantal-bantal di atasnya. Kakiku sebagian tertutup selimut, berwarna sedikit lebih tua dari kain pelapis alas empuk tempatku diam terduduk saat ini. Hangat.
Ruangan ini cukup lebar, berwarna teduh dan sejuk. Ada cermin tertempel di sisi dinding yang berseberangan dengan dipan, cukup besar sehingga seluruh dipan bisa nampak. Ada meja di sisi dinding lain yang menghadap ke jendela, kursi dan rak berisikian deretan buku-buku tebal semacam kitab. Diatas meja ada beberapa benda lain yang juga belum pernah kulihat sebelumnya. Lagi-lagi benda persegi. Dua lempeng segi empat yang satu sisinya menempel satu sama lain. Satu lempeng menempel di meja, sedang lempeng yang lain tegak berdiri, menyala mengeluarkan cahaya, dan ada suara berirama teratur terdengar dari lempengan segiempat itu. Lalu ada sulur-sulur di sekitarnya yang ujungnya menempel masuk ke sisi dinding. Benda apa itu sebenarnya? Dan kenapa ruangan ini semacam begitu kukenal tapi dengan bentuk dan benda-benda asing yang tak pernah kubayangkan sebelumnya? Di samping lempeng persegi aneh itu terbuka beberapa buku tebal.

 

Belum tuntas aku memandangi benda-benda asing di sekitarku tiba-tiba benda persegi seukuran setengah batu bata, yang tadi membuatku terbangun, kembali mengeluarkan suara. Kali ini bergetar dan berirama. Bagian berkilau yang memantulkan bayangan tadi kini bercahaya dan nampak wajah seseorang di dalamnya. Apa-apaan ini? Alat teluh siapa sehingga bisa menangkap wajah seseorang di dalamnya? Aku tak berani menyentuhnya. Aku takut. Kemudian benda itu diam. Berbunyi lagi. Diam lagi. Dan berulang hingga tiga kali. Aku memberanikan diri mendekatinya dan memandangnya dari dekat. Hampir saja tanganku menyentuh benda itu jika saja dia tidak kembali berbunyi dan bergetar. Kali ini bunyi yang keluar hanya singkat. Semacam suara ciap burung, pendek, berulang tiga kali. Kutarik cepat tanganku dan aku sedikit menarik tubuhku ke belakangmobile-content-900x423
Tiba-tiba terdengar suara seseorang dari luar pintu ruangan itu. Tak jelas, tapi sepertinya dia memanggil nama seseorang. Lalu pintu terbuka dan muncullah wanita setengah baya dengan model baju yang agak aneh. Terusan panjang mirip jubah yang dipakai empu-empu dan pendeta. Wajahnya anggun dan menenangkan. Rambutnya yang sedikit beruban digelung ke belakang dengan tusukan rambut berwarna hitam.

“Raras, kok telepon ibu nggak diangkat? Kamu silent hapenya? Ibu telepon tiga kali. Sms juga nggak dibalas. Ibu jadi khawatir. Obatnya sudah diminum?”

Sambil berjalan mendekat, wanita itu berucap lagi.

“Barusan ibu ke warung sebentar beli minyak, tiba-tiba kok ibu merasa kamu pasti belum minum obat yang diminum setelah makan tadi.”

Lalu dia duduk di sisi dipan sambil meletakkan punggung tanggannya di keningku. Aku diam saja.

“Ras, kamu kenapa nak? Pucat sekali… Kamu mimipi buruk lagi? Kenapa obatnya belum diminum?”

Aku memandangi wanita itu bergerak mendekati meja kecil di sisi dipan tempat benda seperti alat teluh itu tergeletak, mengambil beberapa butir benda kecil bulat dan lonjong berwarna-warni kemudian menuangkan air dari botol kaca bening ke dalam cangkir besar yang mengkilap.

“Minum dulu obatnya biar cepet enakan badannya. Bukannya kamu sudah pasang alarm di hape, kapan harus minum obat?” kata wanita itu.
“Ya sudah, ini diminum dulu obatnya dan kamu boleh tidur lagi. Nanti ibu bangunkan kalau sudah jam makan. Ya nak ya?” ujarnya sembari menyodorkan butir-butir benda kecil aneka warna tadi.

Ah, pasti ini untuk mengobati peningku yang masih tersisa tadi. Aku menurut saja, karena aku pikir Ini pasti mirip jamu pilinan yang pernah kuminum beberapa waktu lalu. Tapi jamu yang kuminum tidak berwarna-warni seperti ini. Hanya hitam bulat-bulat seukuran tai kambing. Biarlah. Lalu kutelan butir-butir aneka warna itu dengan gelontoran air.

“Sudah, sekarang kamu istirahat lagi supaya cepet sembuh, ya?”

Wanita itu beranjak dari dipan menuju meja dengan benda persegi dua lempeng yang ada diatasnya.

“Itu laptop nyala terus dari tadi? Wong kamu tidur juga nggak kedengeran musiknya, ibu matikan saja ya laptopnya? Nggak usahlah mainan internet dulu, nanti malah nggak istirahat”.

Lalu dia mengutak-atik benda persegi dua lempeng diatas meja, dan tiba-tiba suara berirama dari benda itu lenyap. Benda itu juga sudah tak bercahaya lagi. Kemudian wanita itu menangkupkan kedua lempeng perseginya hingga bertemu satu sama lain.

“Istirahat ya, ibu mau masak dulu. Nanti ibu bangunkan kalau masakan sudah siap.”

Aku masih diam saja memandangi wanita itu berjalan menuju pintu, keluar dan menutupnya. Kenapa wanita itu memanggilku Raras? Namaku Seruni, bukan Raras…
Tiba-tiba mataku terasa berat…semakin berat… dan aku tertidur.

*

Mataku silau oleh cahaya dari arah atas. Samar-samar aku melihat wajah simbah.

“Nduk, sekarang sudah aman. Bangunlah…”

Simbah membimbingku bangun. Mataku masih belum bisa terbuka sempurna, cahaya mendadak yang tiba-tiba masuk ke dalam peti kayu dalam lubang yang dibuat simbah, masih menyilaukan. Aku merasa tubuhku lemas sekali. Simbah kemudian memberiku minuman rempah hangat untuk memulihkan kondisiku.

“Sebenarnya ada apa ini, mbah? Simbah sudah membangunkanku, dan simbah berjanji akan menceritakan apa yang terjadi jika kita bisa bertemu lagi. Aku takut sekali, mbah. Simbah seperti menyiratkan kesan kalau kita akan mati.”

Simbah masih diam sambil mengaduk-aduk kuali berisi ramuan rempah yang masih hangat di hadapannya.

“Aku mimpi aneh sekali mbah saat tidur di dalam peti itu. Aku bingung, takut, dan berada di tempat yang sangat asing dengan benda-benda aneh. Ada wanita yang menyebut dirinya ibu dan memanggilku Raras. Aku takut mbah…”

Simbah masih diam. Hanya terdengar sesekali suara sendok kayu menyentuh kuali tanah liat berisi ramuan rempah yang masih terus diaduknya, sebelum akhirnya bicara…

“Pasukan Kasultanan Pajang sudah sampai di perbatasan Mataram, nduk. Simbah hanya bermaksud melindungimu dari pertumpahan darah yang mungkin terjadi.”

Suara adukan sendok kayu dalam kuali tanah liat kembali terdengar dalam keheningan…

“Ada satu yang hal yang tidak bisa simbah lakukan, meskipun simbah seorang tabib, pembuat jejamuan, penyembuh pesakitan, dan kamu tahu simbah punya waskita untuk tahu sebelum winarah, sebelum sebuah peristiwa benar-benar terjadi, dan sebelum semua orang tahu.”

Simbah menghentikan adukannya dan menuangkan ramuannya ke dalam botol-botol tanah liat yang sudah dipersiapkan.

“Wedhus gembel sudah lapar, nduk. Sebentar lagi dia akan turun mencari makan. Dia tidak akan keluar sendiri namun bersama kotoran-kotorannya.”

Aku masih diam mematung menyimak ucapan simbah.

“Simbah bermaksud melakukan unjal sukma untuk menyelamatkanmu. Melempar ruhmu ke masa lain sehingga kamu lepas dari petaka. Namun simbah berubah pikiran…”
“Masa depan tidak lebih baik dari petaka yang sebentar lagi menjelang, nduk. Simbah tidak menyelamatkanmu. Simbah justru hanya akan melemparmu dalam rangkaian bencana maha dahsyat berikutnya, dan sekali lagi… Satu hal yang tidak bisa simbah lakukan meskipun simbah punya waskita, simbah tak bisa melawan garis Gusti Pangeran Penguasa Semesta.”

Aku masih terdiam sambil mencoba mencerna penjelasan simbah.

“Simbah tidak perduli jika harus menjadi korban pertumpahan darah penyerbuan pasukan Pajang ke Mataram, atau tak selamat dari amukan wedhus gembel, namun ruh simbah akan tersiksa menanggung kecewa jika simbah tak bisa menyelesaikan tugas yang diberikan Gusti Pangeran dengan waskita dan keahlian yang simbah miliki.”
“Ya, simbah mengurungkan unjal sukmamu karena simbah tidak mau mengubah garis. Simbah sudah menutup waskita winarah sehingga simbah tidak tahu apa yang akan terjadi pada kita nanti.”

Aku mulai paham semuanya…

“Sekarang bantu simbah menyelesaikan ramuan-ramuan ini dan menyimpannya dalam wadah-wadah itu, karena kini tak seorangpun dari kita yang tahu, apakah pasukan Pajang akan membabat leher kita, tombak-tombak Mataram menancapi dada kita, wedhus gembel menghanguskan tubuh kita, atau kita akan bertahan dan memberikan pertolongan dengan jejamuan ini.”

…dan sayup-sayup kudengar suara gemuruh di kejauhan…

im_20160628223158_716867

*

Aku terbangun sebelum alarm hapeku berbunyi. Sudah sedikit lebih segar. Setelah minum beberapa teguk air, aku segera melangkah menuju meja kerjaku. Menyalakan laptop dan melanjutkan tulisan untuk artikel terbaruku.

‘Perang antara Pajang melawan Mataram ternyata dibantu kekuatan alam. Pasukan Pajang yang akan menyerbu Mataram berjatuhan karena disapu badai letusan gunung Merapi. Kasultanan Pajang kemudian menjadi negeri bawahan Mataram, dan mulai runtuh pada tahun 1587, saat Pangeran Benawa bertahta sebagai raja Pajang yang ke tiga.’

*

Dalam Nama Sampah

Dalam Nama Sampah

Rambutku gatal kugaruk-garuk. Bukan hanya butiran putih ari kulit ketombe yang luruh, helai gelai rapuh rambutku juga runtuh. Aku tak mau riuh membasuh gundulku. Malas. Aku tahu, dia tidak suka. Biar saja. Ini kan kepalaku.

Badanku cepal lengket. Kering keringat berbaur uar debu, dupa, menyan, sisa pendar cahaya siang, asap cerutu dari mulutku dan nafas busuk para kembara. Aku enggan melepas dekap aroma setan jalanan. Jadi saja kubawa tidur, meski busuk terhidu. Aku tahu, dia tidak suka. Biar saja. Ini kan tubuhku.

Kakiku, entah berapa kali menginjak lumpur becek, kotoran dan tetaian. Belum lagi nanah bekas canteng yang kering berjamur di ujung kuku. Aku abai membasuh. Segera kuregang di atas dipan berlapis kasur bulu angsa, dibalut satin beludru. Singgasana masa rehat menjadi kusam pekat. Aku tahu, dia tidak suka. Biar saja. Ini kan kakiku.

Tapi jangan sampai, jangan sampai hidungku tercium bau pait ketiaknya, sengak kentutnya, atau hawa abab mulutnya. Dia tahu aku tak suka. Tapi tidak bisa kubiarkan. Meski aku tahu dia selalu rajin mengoles tawas, menahan mulas, dan bersikat siwak. Itu semua tak sepadan dengan dekil yang kubawa.

Aku bukan tak sudi berbadan jernih bersih. Aku hanya menikmati masa tunda dan waktu semadiku, bersama jagat tabiat, memanjat erat harap, dalam nama sampah.

how-keep-cover-letters-trash
 

trash

 

Pisuh

Pisuh

Bangsat bajingan!
Tak cukup untuk menyerapahmu. Kumpulan caci tak akan sanggup menggenapi gemuruhku. Kalau saja satu jurus digdaya bisa memperlambat denyut, niscaya tak hanya sekali kulepas lisan berkutuk. Picisan!

Rupamu palsu lambemu lamis. Asu!
Ingin sekali kuteriakkan di depan wajah bertopeng tebalmu. Merenggut kulit mukamu dan melihat belatung singgat atau entah makhluk lain yang bersemayam di batok kepalamu, lalu muntah. Tentu saja di ubun-ubunmu!

Jancuk kéré!
Sandangmu sama sekali tak layak sembah. Gelang cincinmu membuat jengah. Perilakumu tak bercermin titah. Mewah megah jumawa semua sepele. Jahanam lonté!

Percuma…
Makian dahsyat, hujat bejat, tak akan meredakan jeritan jelata. Maka kurapal saja mantra. Semoga semesta mengindera, nirwana mana yang tak menutup gapura, saat ragamu meregang sukma.

Tai!

anger
 

anger