Sudah hampir dua bulan terakhir aku sangat menikmati ritual pagiku. Bangun lebih awal dari sebelumnya, beranjak menuju ruang kerja yang sekaligus menjadi ruang serbaguna, termasuk pantri, ruang istirahat, ruang olahraga, dan apapun sesuai kebutuhan.
Dari semua ritual pagiku, aku paling menyukai momen mempersiapkan sarapan. Sarapanku sederhana, namun menurutku cukup. Setidaknya membuatku bertenaga melakukan aktivitas hingga waktu makan siang.
Biasanya aku menyiapkan sarapan setelah sedikit mengolah raga, yang rerata memakan 30 hingga 45 menit menuju pukul 8:30. Kemudian aku akan mandi, dan melakukan ritual sarapan. Atau sembari mempersiapkan ritual, di sela-selanya aku akan mandi. Antara itu.

Aku menikmati sekali ritual ini, yang membuatku hidup dan merasa penuh. Jangan tanya “bagaimana bisa?” dulu, karena aku juga sedang berusaha menemukan jawaban yang tepat. Mari kuberikan gambaran ritual sarapanku.

Secara umum, aku akan selalu memiliki persediaan ini: kopi, susu, telur, muesli, buah – biasanya apel atau pisang, tapi akhir-akhir ini aku lebih memilih apel. Untuk urusan apel, aku biasanya memiliki dua jenis, asam dan manis. Akan kuceritakan alasannya nanti. Kalau sempat.

Pertama-tama, aku akan memecahkan dua butir telur ke dalam cangkir keramik, meletakkan cangkir ke dalam mangkuk dan menutup bagian atas cangkir dengan apapun yang bisa menutup permukaannya, kemudian mengisi mangkuk dengan air yang setidaknya merendam sepertiga bagian cangkir. Bayangkan saja sesuai keinginanmu, tidak mengapa.

Lalu mangkuk berisi cangkir terendam sepertiga yang berisi dua butir telur tadi, kumasukkan ke dalam tungku gelombang mikro dan kupasang waktu dua menit. Cukup dua menit saja. Dua menit akan membuat telur di dalamnya terkukus setengah matang dengan kepadatan yang tepat untuk disendok tanpa berceceran.

Sambil menunggu bunyi “ping”, biasanya aku akan melakukan salah satu dari dua-tiga hal ini, tergantung mana dulu yang aku ingat. Polanya tidak selalu sama.

Satu, aku akan mencuci apel, mengirisnya menjadi empat bagian, dan membuang bagian tengah buah berbiji, sehingga aku tak kerepotan lagi nanti ketika menyantap. Apel siap. Kadang aku sudah memakannya sepotong terlebih dahulu.

Atau dua, aku mulai memanaskan air, dan menyiapkan sub ritual favoritku, kopi. Kupikir ini adalah pertunjukan utamanya.
Semenjak perutku tak terbiasa lagi menyeduh kopi sobek, aku selalu menggunakan biji kopi berbagai jenis yang kugiling sendiri atau kadang aku minta digilingkan di toko kopinya, atau aku membeli biji kopi yang sudah digiling. Kopi sobek sudah lama kutinggalkan, karena selain membuat perutku kembung dan atau begah, rasanya sungguh tak nikmat lagi di lidah dan tenggorokan. Bisa jadi terlalu manis, sekali lagi dan atau, terasa sekali palsunya.

Aku menggunakan beberapa metode menyeduh kopi, namun akhir-akhir ini aku paling suka menggunakan penetes kopi yang dilapisi kertas saring. Semata-mata karena aku tidak perlu repot mencuci perkakas usai menyeduh. Peras kopi dalam kertas saring setelah tetesan terakhir, buang, selesai.
Jarang sekali kopi kutambah asesori lain kecuali susu, itupun kalau sedang ingin. Kopi hitam pahit menurutku adalah cara paling otentik menikmati kopi. Namun tak jarang, suasana hati mempengaruhi bagaimana aku menikmati kopi pagi hari. Bisa jadi, kopi hitam dan susu, kopi hitam dan gula nira, kopi hitam dan susu dan gula nira, atau kopi hitam dan susu dan gula nira dan serbuk jahe. Itu saja kombinasinya untuk kopi pagi hari. Kopi siang, kopi sore atau malam, lain lagi. Itu juga kalau sedang ingin. Tapi kopi pagi adalah sebuah keniscayaan.
Kopi siap. Kadang aku sudah menyeruputnya sesesap terlebih dahulu.

Bisa jadi tiga, kalau sedang ingin sarapan agak lebih banyak, aku akan mengambil 4-5 sendok makan muesli, menyiramnya dengan susu begitu saja, dingin.

Atau kusiram sedikit air, dan kuhangatkan sebentar dalam tungku gelombang mikro, lalu kutambahkan beberapa sendok yoghurt ke dalamnya. Kadang aku sudah mengecapnya sesendok terlebih dahulu.

Bunyi “ping”, artinya sudah dua menit telur terkukus, dan siap disajikan. Aku akan mengeluarkan cangkir berisi dua butir telur dari dalam mangkuk yang berisi sepertiga bagian cangkir, mengelap bagian bawah cangkir yang basah karena terendam air sepertiga bagian luarnya, kemudian menaburkan serpih nori pedas ke atas telur sebelum kusendok.

Puncak ritual adalah sajian segelas kopi hangat, irisan apel, semangkuk muesli berlapis yoghurt, dan dua butir telur kukus setengah matang bertabur serpihan nori pedas di dalam cangkir. Biasanya kunikmati sembari menonton video seseorang berjalan dalam diam menyusuri jalanan di Jepang – kampung halamanku, kata beberapa orang teman – atau membaca.
Ritual akan berakhir ketika semua hidangan telah terkunyah dan tertelan dengan baik, ditutup dengan perasaan bahagia. Aku tenang dan senang.

Oh, mungkin ini yang membuatku bahagia. Karena aku masih bisa sarapan nikmat, dalam raga sehat dan jiwa tak cemas.

AHA! Terima kasih semesta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s