Akad Sebahat

Aku berteman dengan siluman.
Siluman apa? Aku sendiri bingung… Dia mengaku siluman kucing, padahal aku yakin benar dia siluman ikan. Bagaimana mungkin dua siluman predator dan mangsa menyatu dalam satu entitas?
Aneh bukan? Tapi, sudahlah. Kalian tak usah ikut memikirkannya. Percaya saja kalau dia siluman.

Aku hampir yakin kalian mengira aku sesat, pengabdi iblis, pemuja ilmu hitam, atau apalah karena berteman dengan siluman. Pendapat itu mungkin tidak salah, tapi tidak benar untuk pengalamanku. Jadi, biarkan aku cerita bagaimana aku bisa berteman dengan siluman kucing padahal siluman ikan ini pada kalian.

Mungkin di dunia siluman, manusia adalah makhluk halus. Jadi ketika para siluman khilaf, tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan untuk meraih apapun yang mereka inginkan, salah satu jalan pintasnya adalah bersekutu dengan manusia. Padahal mereka paham, itu kesalahan besar bagi mereka, kaum siluman.

Maka entah bagaimana, tiba-tiba saja aku dipertunjukkan oleh alam semesta pada siluman kucing padahal siluman ikan ini. Terjadilah permufakatan, dan akupun memenuhi segala keinginannya.
Jika biasanya kalian mengenal tumbal dalam kesepakatan dengan dunia lain lintas alam, sedikit berbeda dengan kami. Kami hanya sepakat diam, tak mengusik, tak berisik, dan kadang boleh saling menggendam. Hanya jika diperlukan.

Selama beberapa waktu, aku mampu memenuhi hampir segala permintaan, hingga akhirnya dia bisa keluar dari jerat masalahnya. Aku agak tenang, tidak perlu berpikir berat. Sampai pada suatu masa ketika kesaktianku mulai berkurang. Aku menduga, ini mungkin karena sumber tenagaku yang selama ini terasup dengan baik, mulai pasang surut.

Aku masih mampu bertahan dalam peperangan dan adu kanuragan dengan kesaktianku yang sekarang, namun aku hanya mampu bertahan untuk diriku sendiri dan tidak dalam kapasitas melindungi pihak lain. Pun demikian, masih banyak orang yang datang memohon-mohon untuk mendapatkan jaminan keamanan, mengingat sebelumnya, kapanpun hidup mereka terancam oleh ulah perampok, atau nyawa mereka teregang akibat kebodohan mereka sendiri, aku selalu siap siaga bilamana mereka perlukan.

Menyadari hal ini, aku kembali bermufakat tanpa syarat dengan siluman kucing padahal siluman ikan ini. Namun kali ini, bukan dia yang mengumpan menyan kemangi abu setanggi, melainkan aku.
Dia hanya menjawab datar ketika aku menyampaikan maksud dan tujuan kehadiranku. “Kau dulu tak meminta tumbal ketika aku bersekutu padamu, maka kini giliranku mencukupkan lakumu”. Begitu katanya.
Maka, sejak saat itu, siluman kucing padahal siluman ikan inilah yang membuatku mampu bertahan dengan kesaktianku yang pasang surut.
Sebenarnya aku sudah terbiasa mengalami hal ini, bahkan selagi masih perjaka dan mandraguna. Namun semakin lama, aku merasa kesaktianku ini sungguh memaksa ragaku lelah. Lahir batin.

Sebagai manusia, makhluk halus bagi kaum lelembut, sudah beberapa kali aku menjadi sekutu beragam siluman setan demit. Dari sekian siluman yang pernah bersekutu denganku ini, aku paling hafal kelakuan siluman-siluman makhluk air. Termasuk siluman yang mengaku kucing padahal ikan ini. Bagaimanapun dia mengaku siluman darat, jiwanya benar-benar makhluk air.

Siluman-siluman air dan makhluk-makhluknya sungguh membuatku tak habis pikir. Mereka adalah siluman paling melelahkan untuk dipahami. Kadang ketika aku berpikir mulai bisa mengikuti jalan pikiran mereka, bisa saja mereka tetiba berbelok tanpa tanda. Namun ketika aku melepasnya, ulah mereka bisa berputar kembali ke arah sebelumnya serta-merta.

Meskipun banyak di antara mereka memiliki sihir tingkat tinggi, namun kadang mereka tidak mempergunakan itu layaknya sihir mutakhir yang bisa membawa manfaat. Mereka akan menggunakannya untuk keperluan yang harus mereka sendiri yang tahu dan mau, tak peduli apakah semesta sedang memerlukannya atau tidak.

Mereka makhluk yang sangat rapuh dan rentan, namun tak mau disebut lemah.
Mereka makhluk yang labil, namun tak mau disebut plin-plan.
Mereka makhluk yang lunak, namun tak mau disebut lembek.
Mereka makhluk yang bersolek, namun tak mau disebut genit.
Mereka makhluk yang pelupa, namun tak mau disebut pikun.
Satu lagi, mereka adalah pemberi harapan, namun sesungguhnya sedikit mengumbar janji. Jangan disebut.

Saking lelahnya, aku merasa perlu menyudahi permufakatan ini. Beberapa kali sempat terpikir dan bertanya pada diriku sendiri, siapkah kulepas akad sebahat ini? Toh, siluman itu kini sudah mapan di alamnya, dan aku tak meminta tumbal. Lepas traktat, habis perkara.

Namun jujur, saat ini ragaku tidak terlalu siap jika tetiba saja terhantam jurus dan prana dari luar yang kadang datang bertubi tanpa permisi. Dan saat ini, kesaktian dari alamnya adalah salah satu penguatku. Permufakatan tanpa pakta ini, mau tidak mau, suka tidak suka, memang cukup membantu. Untuk sementara, sembari terus menjaga mantra melatih kanuragan, aku tak perlu terlalu berat memutar otak agar paling tidak kesaktianku mampu bertahan bilamana serangan menghunjam paksa untuk beberapa lama. Tapi sampai kapan?

Siluman-siluman makhluk air bukan jenis siluman yang bersih, meskipun kalian mungkin berpikir sebaliknya. Karena bagaimana tidak, mereka berada di air setiap saat, pasti senantiasa segar, sejuk dan kalis nirmala. Jangan salah, justru sebaliknya. Dari sekian siluman makhluk air yang pernah bermufakat denganku, hampir semuanya tidak resik.
Tapi jangan sekali-kali kalian menyinggung atau meminta mereka membersihkan diri atau melakukan apapun yang tidak ingin mereka lakukan, kalau kalian tidak ingin menelan kekesalan.
Mereka tidak akan menerima saran, usul, atau nasihat, apalagi yang kesannya memerintah, meskipun untuk kebaikan mereka sendiri. Kalian akan dianggap hendak mengubah mereka menjadi bukan mereka. Percayalah.

Aku tahu ini akan bisa menjadi runyam, entah dalam bentuk apa dan bagaimana. Namun untuk saat ini, aku belum bisa menemukan cara terbaik mengambil jalan tengah mengatasi mufakat yang nampak sesat ini.
Yang bisa aku lakukan saat ini hanyalah membuat diriku nyaman, dan memendam gejolak jiwa tanpa memunculkan prahara, baik untuk duniaku maupun alam siluman. Aku merasa seperti membesarkan seorang anak dalam raga sesosok siluman.
Siluman kucing padahal siluman ikan.

 

selkie-girl
The Seal People
Photo credit: Celtic-weddingrings.com
Iklan

2 pemikiran pada “Akad Sebahat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s