Terlamun Pasrah

Terlamun Pasrah

Kakiku dingin karena keringatku tertiup semburan penyejuk ruangan.
Rasanya jadi lembab dan tidak nyaman. Membuat jejamuran menghambur.
Aku selalu menutup kakiku kalau tidak ingin seluruh tubuhku ikut menjadi dingin.
Ujung kaki adalah pengendali suhu tubuhku.
Aku akan hangat ketika mereka hangat, dan akan dingin ketika mereka dingin.
Selimut hanya untuk mereka, bukan untuk paha, perut atau dada. Tapi untuk mereka, kaki.

Mereka serupa punggawa yang terlupa. Mengantar sang raja ke mana, namun begitu tiba kadang tak diharga.
Itulah mengapa, aku selalu membasuh mereka pertama kali begitu sampai ke tujuan. Bentuk penghargaan. Meskipun saat mengguyur tubuh, mereka selalu terakhir terbasuh, namun mereka punya waktu khusus untuk rehat berendamkan air suam bergaram, tetesan atsiri dalam perigi.

Dan sekarang aku lapar.

Sekarang sudah siang, hampir sore dan bukan hari yang sama.
Tapi aku sudah kenyang. Laparnya sudah lupa.
Aku makan sedikit nasi dengan banyak lauk.
Dua potong ayam rica, sekerat daging rendang kemarin sore, sebutir telur aku makan putihnya saja, dan ikan goreng yang di dalamnya berisi daging ikan giling dan telur. Kenyang. Bisa-bisa tertidur.

Di luar mendung, hujan turun mau tak mau. Untung anginnya sejuk, jadi jendela ku buka lebar.
Mulutku yang tadi berasa amis karena makan ikan sekarang sudah beraroma kopi yang menguar. Bukan seduh. Aku kunyah biji kopi yang dua hari lalu aku giling kasar. Amisnya hilang. Lalu aku menyeruput air jahe dan madu yang kutaburi sedikit garam.

Tetiba aku merindukan tanah Nobunaga. Entah karena lagu era baru yang terputar atau karena gerimis mulai rapat. Aku merasa ditaburi sakura. Aku ingin kembali.

Mungkin aku dulu berasal dari sana, di kehidupan sebelum sekarang. Entah sebagai apa, tapi aku merasa sangat dekat.
Angin membawa aroma tanah basah sekarang, dan aku semakin pasrah. Tenggelam mengkhayalkan sejarah…

IMG-20160930-WA0006

Iklan

Sore itu Jingga

Sore itu Jingga

Sore itu jingga, seindahnya.
Sama seperti kopi itu pahit, seenaknya.
Atau pagi itu sejuk, senikmatnya.
Juga jadi orang itu seharusnya begini, sebaiknya.

Tapi itu dulu, ketika aku masih bisa mencium aroma hilalah yang sekarang namanya petrikor.
sama seperti ketika dulu aku menyebut bandros adalah gandos.
Atau saat Sabtu sore itu berwarna biru muda, sedangkan Minggu sore adalah merah buram.
Juga waktu buah tangan terbaik dari ayahku adalah kaset sanggar cerita.

Sekarang, saat ‘kenapa’ bisa diendapkan dulu, kemudian bagian jernihnya ditiriskan menjadi ‘betul juga sih’ atau ‘sebenarnya tidak masalah’ atau ‘ya mau bagaimana lagi’ atau ‘oh, ya sudah’
Semuanya lebih ringan dan tenang.

Sore itu jingga, seindahnya.
Kalau mendung? ‘Betul juga sih’.
Kopi itu pahit, seenaknya.
Kalau suka manis? ‘Sebenarnya tidak masalah’.
Pagi itu sejuk, senikmatnya.
Kalau ternyata gerah? ‘Ya mau bagaimana lagi’.
Jadi orang itu seharusnya begini, sebaiknya.
Kalau tidak begitu? ‘Oh, ya sudah’.

Sekarang petrikor baunya jarang terhirup.
Boro-boro makan bandros, ketan lupis saja pesan online.
Minggu sampai Sabtu sekarang warnanya sama, seragam, membosankan.
Sanggar ceritanya sudah banyak yang menjadi sanggar derita.

Tapi aku ringan dan tenang.
Karena sore itu jingga, kopi itu pahit, pagi itu sejuk, dan aku tidak menjadi orang yang seharusnya begini.

Aku ringan dan tenang.

Sepertinya …

jingga
dusk

WASKITA

WASKITA

“Jangan takut. Kamu hanya akan merasa seperti tidur hingga saatnya bangun nanti. Simbah akan memberitahumu kapan saatnya harus bangun, nduk. Berbaringlah. Sebentar lagi orang-orang itu akan segera sampai.”

Kemudian aku berbaring di peti kayu yang sudah dipersiapkan simbah di sebuah lubang seukuran 3 orang dewasa, suara simbah terdengar semakin lama semakin samar, lalu aku tertidur…

*

Suara aneh itu sedemikian keras hingga membuatku terbangun sontak dari mimpiku, dengan kepala pening dan degup jantung nyaris tak berjeda. Suara apa ini? Dan dimana aku? Suara aneh itu akhirnya berhenti. Ternyata berasal dari sebuah benda berbentuk persegi, seukuran setengah batu bata, yang belum pernah kulihat sebelumnya. Ada bagian yang berkilau memantulkan bayangan di sisi atas benda persegi itu, dan ada kotak-kotak kecil dengan tulisan-tulisan aneh di bawahnya.
Aku menyapukan pandangan ke seluruh penjuru ruang tempat aku terpaku bingung saat ini, benar-benar seperti hilang ingatan. Kepalaku masih pening, tapi aku masih tahu namaku, Seruni.

26gadegetwise-facebookJumbo-v2

Saat ini aku berada di atas dipan beralas lembut dan empuk dengan lapisan kain berwarna seperti kulit telur. Warna senada juga terpasang pada bantal-bantal di atasnya. Kakiku sebagian tertutup selimut, berwarna sedikit lebih tua dari kain pelapis alas empuk tempatku diam terduduk saat ini. Hangat.
Ruangan ini cukup lebar, berwarna teduh dan sejuk. Ada cermin tertempel di sisi dinding yang berseberangan dengan dipan, cukup besar sehingga seluruh dipan bisa nampak. Ada meja di sisi dinding lain yang menghadap ke jendela, kursi dan rak berisikian deretan buku-buku tebal semacam kitab. Diatas meja ada beberapa benda lain yang juga belum pernah kulihat sebelumnya. Lagi-lagi benda persegi. Dua lempeng segi empat yang satu sisinya menempel satu sama lain. Satu lempeng menempel di meja, sedang lempeng yang lain tegak berdiri, menyala mengeluarkan cahaya, dan ada suara berirama teratur terdengar dari lempengan segiempat itu. Lalu ada sulur-sulur di sekitarnya yang ujungnya menempel masuk ke sisi dinding. Benda apa itu sebenarnya? Dan kenapa ruangan ini semacam begitu kukenal tapi dengan bentuk dan benda-benda asing yang tak pernah kubayangkan sebelumnya? Di samping lempeng persegi aneh itu terbuka beberapa buku tebal.

 

Belum tuntas aku memandangi benda-benda asing di sekitarku tiba-tiba benda persegi seukuran setengah batu bata, yang tadi membuatku terbangun, kembali mengeluarkan suara. Kali ini bergetar dan berirama. Bagian berkilau yang memantulkan bayangan tadi kini bercahaya dan nampak wajah seseorang di dalamnya. Apa-apaan ini? Alat teluh siapa sehingga bisa menangkap wajah seseorang di dalamnya? Aku tak berani menyentuhnya. Aku takut. Kemudian benda itu diam. Berbunyi lagi. Diam lagi. Dan berulang hingga tiga kali. Aku memberanikan diri mendekatinya dan memandangnya dari dekat. Hampir saja tanganku menyentuh benda itu jika saja dia tidak kembali berbunyi dan bergetar. Kali ini bunyi yang keluar hanya singkat. Semacam suara ciap burung, pendek, berulang tiga kali. Kutarik cepat tanganku dan aku sedikit menarik tubuhku ke belakangmobile-content-900x423
Tiba-tiba terdengar suara seseorang dari luar pintu ruangan itu. Tak jelas, tapi sepertinya dia memanggil nama seseorang. Lalu pintu terbuka dan muncullah wanita setengah baya dengan model baju yang agak aneh. Terusan panjang mirip jubah yang dipakai empu-empu dan pendeta. Wajahnya anggun dan menenangkan. Rambutnya yang sedikit beruban digelung ke belakang dengan tusukan rambut berwarna hitam.

“Raras, kok telepon ibu nggak diangkat? Kamu silent hapenya? Ibu telepon tiga kali. Sms juga nggak dibalas. Ibu jadi khawatir. Obatnya sudah diminum?”

Sambil berjalan mendekat, wanita itu berucap lagi.

“Barusan ibu ke warung sebentar beli minyak, tiba-tiba kok ibu merasa kamu pasti belum minum obat yang diminum setelah makan tadi.”

Lalu dia duduk di sisi dipan sambil meletakkan punggung tanggannya di keningku. Aku diam saja.

“Ras, kamu kenapa nak? Pucat sekali… Kamu mimipi buruk lagi? Kenapa obatnya belum diminum?”

Aku memandangi wanita itu bergerak mendekati meja kecil di sisi dipan tempat benda seperti alat teluh itu tergeletak, mengambil beberapa butir benda kecil bulat dan lonjong berwarna-warni kemudian menuangkan air dari botol kaca bening ke dalam cangkir besar yang mengkilap.

“Minum dulu obatnya biar cepet enakan badannya. Bukannya kamu sudah pasang alarm di hape, kapan harus minum obat?” kata wanita itu.
“Ya sudah, ini diminum dulu obatnya dan kamu boleh tidur lagi. Nanti ibu bangunkan kalau sudah jam makan. Ya nak ya?” ujarnya sembari menyodorkan butir-butir benda kecil aneka warna tadi.

Ah, pasti ini untuk mengobati peningku yang masih tersisa tadi. Aku menurut saja, karena aku pikir Ini pasti mirip jamu pilinan yang pernah kuminum beberapa waktu lalu. Tapi jamu yang kuminum tidak berwarna-warni seperti ini. Hanya hitam bulat-bulat seukuran tai kambing. Biarlah. Lalu kutelan butir-butir aneka warna itu dengan gelontoran air.

“Sudah, sekarang kamu istirahat lagi supaya cepet sembuh, ya?”

Wanita itu beranjak dari dipan menuju meja dengan benda persegi dua lempeng yang ada diatasnya.

“Itu laptop nyala terus dari tadi? Wong kamu tidur juga nggak kedengeran musiknya, ibu matikan saja ya laptopnya? Nggak usahlah mainan internet dulu, nanti malah nggak istirahat”.

Lalu dia mengutak-atik benda persegi dua lempeng diatas meja, dan tiba-tiba suara berirama dari benda itu lenyap. Benda itu juga sudah tak bercahaya lagi. Kemudian wanita itu menangkupkan kedua lempeng perseginya hingga bertemu satu sama lain.

“Istirahat ya, ibu mau masak dulu. Nanti ibu bangunkan kalau masakan sudah siap.”

Aku masih diam saja memandangi wanita itu berjalan menuju pintu, keluar dan menutupnya. Kenapa wanita itu memanggilku Raras? Namaku Seruni, bukan Raras…
Tiba-tiba mataku terasa berat…semakin berat… dan aku tertidur.

*

Mataku silau oleh cahaya dari arah atas. Samar-samar aku melihat wajah simbah.

“Nduk, sekarang sudah aman. Bangunlah…”

Simbah membimbingku bangun. Mataku masih belum bisa terbuka sempurna, cahaya mendadak yang tiba-tiba masuk ke dalam peti kayu dalam lubang yang dibuat simbah, masih menyilaukan. Aku merasa tubuhku lemas sekali. Simbah kemudian memberiku minuman rempah hangat untuk memulihkan kondisiku.

“Sebenarnya ada apa ini, mbah? Simbah sudah membangunkanku, dan simbah berjanji akan menceritakan apa yang terjadi jika kita bisa bertemu lagi. Aku takut sekali, mbah. Simbah seperti menyiratkan kesan kalau kita akan mati.”

Simbah masih diam sambil mengaduk-aduk kuali berisi ramuan rempah yang masih hangat di hadapannya.

“Aku mimpi aneh sekali mbah saat tidur di dalam peti itu. Aku bingung, takut, dan berada di tempat yang sangat asing dengan benda-benda aneh. Ada wanita yang menyebut dirinya ibu dan memanggilku Raras. Aku takut mbah…”

Simbah masih diam. Hanya terdengar sesekali suara sendok kayu menyentuh kuali tanah liat berisi ramuan rempah yang masih terus diaduknya, sebelum akhirnya bicara…

“Pasukan Kasultanan Pajang sudah sampai di perbatasan Mataram, nduk. Simbah hanya bermaksud melindungimu dari pertumpahan darah yang mungkin terjadi.”

Suara adukan sendok kayu dalam kuali tanah liat kembali terdengar dalam keheningan…

“Ada satu yang hal yang tidak bisa simbah lakukan, meskipun simbah seorang tabib, pembuat jejamuan, penyembuh pesakitan, dan kamu tahu simbah punya waskita untuk tahu sebelum winarah, sebelum sebuah peristiwa benar-benar terjadi, dan sebelum semua orang tahu.”

Simbah menghentikan adukannya dan menuangkan ramuannya ke dalam botol-botol tanah liat yang sudah dipersiapkan.

“Wedhus gembel sudah lapar, nduk. Sebentar lagi dia akan turun mencari makan. Dia tidak akan keluar sendiri namun bersama kotoran-kotorannya.”

Aku masih diam mematung menyimak ucapan simbah.

“Simbah bermaksud melakukan unjal sukma untuk menyelamatkanmu. Melempar ruhmu ke masa lain sehingga kamu lepas dari petaka. Namun simbah berubah pikiran…”
“Masa depan tidak lebih baik dari petaka yang sebentar lagi menjelang, nduk. Simbah tidak menyelamatkanmu. Simbah justru hanya akan melemparmu dalam rangkaian bencana maha dahsyat berikutnya, dan sekali lagi… Satu hal yang tidak bisa simbah lakukan meskipun simbah punya waskita, simbah tak bisa melawan garis Gusti Pangeran Penguasa Semesta.”

Aku masih terdiam sambil mencoba mencerna penjelasan simbah.

“Simbah tidak perduli jika harus menjadi korban pertumpahan darah penyerbuan pasukan Pajang ke Mataram, atau tak selamat dari amukan wedhus gembel, namun ruh simbah akan tersiksa menanggung kecewa jika simbah tak bisa menyelesaikan tugas yang diberikan Gusti Pangeran dengan waskita dan keahlian yang simbah miliki.”
“Ya, simbah mengurungkan unjal sukmamu karena simbah tidak mau mengubah garis. Simbah sudah menutup waskita winarah sehingga simbah tidak tahu apa yang akan terjadi pada kita nanti.”

Aku mulai paham semuanya…

“Sekarang bantu simbah menyelesaikan ramuan-ramuan ini dan menyimpannya dalam wadah-wadah itu, karena kini tak seorangpun dari kita yang tahu, apakah pasukan Pajang akan membabat leher kita, tombak-tombak Mataram menancapi dada kita, wedhus gembel menghanguskan tubuh kita, atau kita akan bertahan dan memberikan pertolongan dengan jejamuan ini.”

…dan sayup-sayup kudengar suara gemuruh di kejauhan…

im_20160628223158_716867

*

Aku terbangun sebelum alarm hapeku berbunyi. Sudah sedikit lebih segar. Setelah minum beberapa teguk air, aku segera melangkah menuju meja kerjaku. Menyalakan laptop dan melanjutkan tulisan untuk artikel terbaruku.

‘Perang antara Pajang melawan Mataram ternyata dibantu kekuatan alam. Pasukan Pajang yang akan menyerbu Mataram berjatuhan karena disapu badai letusan gunung Merapi. Kasultanan Pajang kemudian menjadi negeri bawahan Mataram, dan mulai runtuh pada tahun 1587, saat Pangeran Benawa bertahta sebagai raja Pajang yang ke tiga.’

*

Dalam Nama Sampah

Dalam Nama Sampah

Rambutku gatal kugaruk-garuk. Bukan hanya butiran putih ari kulit ketombe yang luruh, helai gelai rapuh rambutku juga runtuh. Aku tak mau riuh membasuh gundulku. Malas. Aku tahu, dia tidak suka. Biar saja. Ini kan kepalaku.

Badanku cepal lengket. Kering keringat berbaur uar debu, dupa, menyan, sisa pendar cahaya siang, asap cerutu dari mulutku dan nafas busuk para kembara. Aku enggan melepas dekap aroma setan jalanan. Jadi saja kubawa tidur, meski busuk terhidu. Aku tahu, dia tidak suka. Biar saja. Ini kan tubuhku.

Kakiku, entah berapa kali menginjak lumpur becek, kotoran dan tetaian. Belum lagi nanah bekas canteng yang kering berjamur di ujung kuku. Aku abai membasuh. Segera kuregang di atas dipan berlapis kasur bulu angsa, dibalut satin beludru. Singgasana masa rehat menjadi kusam pekat. Aku tahu, dia tidak suka. Biar saja. Ini kan kakiku.

Tapi jangan sampai, jangan sampai hidungku tercium bau pait ketiaknya, sengak kentutnya, atau hawa abab mulutnya. Dia tahu aku tak suka. Tapi tidak bisa kubiarkan. Meski aku tahu dia selalu rajin mengoles tawas, menahan mulas, dan bersikat siwak. Itu semua tak sepadan dengan dekil yang kubawa.

Aku bukan tak sudi berbadan jernih bersih. Aku hanya menikmati masa tunda dan waktu semadiku, bersama jagat tabiat, memanjat erat harap, dalam nama sampah.

how-keep-cover-letters-trash
 

trash

 

Pisuh

Pisuh

Bangsat bajingan!
Tak cukup untuk menyerapahmu. Kumpulan caci tak akan sanggup menggenapi gemuruhku. Kalau saja satu jurus digdaya bisa memperlambat denyut, niscaya tak hanya sekali kulepas lisan berkutuk. Picisan!

Rupamu palsu lambemu lamis. Asu!
Ingin sekali kuteriakkan di depan wajah bertopeng tebalmu. Merenggut kulit mukamu dan melihat belatung singgat atau entah makhluk lain yang bersemayam di batok kepalamu, lalu muntah. Tentu saja di ubun-ubunmu!

Jancuk kéré!
Sandangmu sama sekali tak layak sembah. Gelang cincinmu membuat jengah. Perilakumu tak bercermin titah. Mewah megah jumawa semua sepele. Jahanam lonté!

Percuma…
Makian dahsyat, hujat bejat, tak akan meredakan jeritan jelata. Maka kurapal saja mantra. Semoga semesta mengindera, nirwana mana yang tak menutup gapura, saat ragamu meregang sukma.

Tai!

anger
 

anger

 

Kepada Sepuntung Rokok

Kepada Sepuntung Rokok

Hari selalu telah lewat isya’, ketika aku menghempaskan penat di kursi hitam depan galangan. Peluh hanya meninggalkan butiran kristal asam bercampur sisa deodoran, yang kadang menguningkan bagian ketiak baju dalam. Biasanya, dan hampir selalu, kaki adalah yang pertama kubebaskan dari siksa lembab berjamur kungkungan sepatu. Aku hanya perlu melepasnya, mengguyur sedikit air, dan sudah. Tak perlu repot membuatnya kering, toh aku akan mengangkatnya di palang jemparing.

Bahu. Giliran berikut untuk terlepas beban. Kulepas silang selempang, sehingga ringan bidang tersandang. Lalu kugerai rambut, dan membiarkan butir-butir kering kulit kepalaku merdeka. Ketombe. Tak jarang, helai-helai ubanku mengantarkan kebebasan mereka. Rontok. Membuat kilap ubinku terkesan jorok. Peduli setan. Dayang bayangan akan membuatnya kembali cemerlang.

Oh, gawai. Salah satu belahan jiwaku. Padanya kucurahkan segala rahasia batin, gejolak prahara, dan untaian rindu. Padanya kudapatkan kerabat dekat, bahkan hingga kumpulan sesat. Padanya jiwaku penuh. Padanya waktuku runtuh. Sayap sukmaku yang rapuh sekaligus tangguh, yang tanpanya aku bagai lumpuh. Jangan… Jangan kau pundung genggamanku satu itu. Aku akan kalang kabut.

Ritual ini adalah pembuka gerbang kerinduan. Kerinduanku pada sosok tersayang, paling terpercaya. Tabib segala nestapa, begawan segala derita. Lini masa apalah artinya, apalagi sebentuk makhluk yang menanti tak kenal bosan. Rindu dendam pasang surut. Dia pikir hanya di mulut. Tapi mungkin sebenarnya saling terpaut. Siapa tahu?

Hari selalu telah lewat isya’, ketika aku terburu memburu waktu melepas rindu. Pada sosok tersayang, paling terpercaya. Segala duka lara segera terlarung jauh. Ragaku akan segera kurelakan.

Ya, kepada sepuntung rokok.

imagecigarrete

Daluwang Riwayat

Daluwang Riwayat

“Aku selalu mengatakan yang sebenarnya, bahkan ketika aku berdusta”.

Itu yang ia tulis di lembar daun siwalan kering entah di mana, aku lupa. Ingatanku menembus ruang kosong yang pernah terisi aroma kayu, cengkeh, nenas, sitrus, dan serat tembakau.

Uar uapnya pernah membuatku termakan kepayang entah berapa purnama. Barangkali dalam hampanya juga tersimpan air mata duyung, liur perjaka, dan darah perawan. Entahlah.

Dalam samar sadar tersaput hasut, aku merasakan hangat yang tercekat. Antara iya dan tidak. Bau khas itu menyergap tanpa jeda dalam hela nafas yang tergagap. Tak berdaya.

Aku merasakan rambutnya yang legam pekat mengandan dan bibirnya yang legit tertapis sukma putri Mendut. Puting susu mencengkir gading menyentuh dadaku yang basah terurap keringat.
Tatapan matanya terliyap lindri, menggerakkan tanganku mencengkeram pinggang serupa kumbang kemit. Menyentuh sulur-sulur lembut daun asam yang terpicis tumpah. Rapi.

Kau tahu panjangilang? Itu adalah sesaji bumi yang mengiring ronggeng dukuh sebelah. Aku menyentuh miliknya. Tak besar, tapi bulat. Naik turun, memutar, mengaduk santan beraroma pandan. Aku tak kuasa.

Matanya meredup bagai damar terhembus angin, memejam rapat menyatukan alisnya yang tergambar bulan tanggal pertama. Aku merasakan butir air ragawi mengaliri lehernya yang ulan-ulan mengelung gadung. Deras dan wangi.

Deret geliginya membiji timun, menggigit lembut manggis rengat berpagut manis nira. Sukmaku nyaris lepas, saat dia menyelusur raga penuh dahaga. Jemari terpucuk duri membangkitkan bulu-bulu lembut menembus kulit ari. Aku bergidik merinding, tergelinjang jalang. Dia menggila.

Mendadak aku terkesiap, megap-megap berpeluh lembab. Terhenyak. Netraku terbelalak, menyentak hempas ujung nikmat. Aku tergendam gairah. Aku menyerah pasrah.

Begitulah awalnya…

Sisanya, seperti yang sudah kau tahu beberapa waktu lalu.

Aku yakin, kau masih ingin aku mengulang kisah ini nanti. Mungkin pada saat rehat minum arak, saat menemukan bilah-bilah lontar lainnya, atau saat kita berjeda setelah debat tentang para satria pemikat. Tak perlu risau. Aku telah menyuratnya di lembar daluwang untuk kau simpan.

Sambil menanti hati yang tak pasti…

desire
desire