Angkara Niskala

Angkara Niskala

Apa yang kau kira akan muncul ketika duniamu hilang dan kegelapan menyelimuti latar belakang?
Aku pernah memunculkan sosok-sosok yang pernah kulihat di film-film setan hantu jaman dulu. Bayi berkepala kakek-kakek, wanita bertaring rambut berurai, monster abstrak berkuku panjang, atau campuran wujud manusia-binatang tak alang kepalang.
Ternyata mereka tidak semenyeramkan itu dibanding yang akhir-akhir ini kuketahui. Ada yang lebih membuat gelisah tak nyaman, bahkan di saat dunia gamblang benderang.

Aku pernah berhadapan dengannya beberapa waktu lalu, hampir kalah, namun berhasil kutampik. Terima kasih pada ilmu jiwa kanuragan yang sempat kugali saat nyantrik di sebuah padepokan sekian waktu lalu.
Wujud wadag makhluk-makhluk astral mungkin bisa digambarkan, meskipun tak nalar rupa bentuknya. Ritual dan rapal mantra bisa jadi melumpuhkan mereka, atau setidaknya memulangkan mereka ke alamnya, menunda kembali lagi atau mencegah mereka menemukan celah lain memasuki terestrial. Tapi yang ini, sama sekali maya.
Setiap yang menemui bisa menceritakan versi berbeda, dan semua benar.
Setiap yang merasa bisa memunculkan respon lain, dan semua sahih.
Setiap yang mengalami bisa mengusirnya bineka cara, dan semua bekerja.

Ia datang pergi mengikuti nurani dan sempena hati, tak peduli gelap terang, riuh lengang. Kemunculannya bisa sangat menakutkan dan membuatmu mendadak hilang warna, kosong tanpa daya, rapuh tak tersentuh.
Kau bisa sendiri dan hidup penuh, tapi saat ia menghantuimu, kesendirian akan menyiksa menyedihkan.
Kau bisa larut bersama keramaian, tapi saat ia menggelayutimu, keriaan akan percuma sia-sia.

Banyak yang berusaha menghindarinya, namun tak sedikit yang merengkuhnya. Banyak yang tumbang bersamanya, tak jarang pula yang bangkit melawannya. Olah rasa olah batin, perkuat kuda-kuda menghadapi terjangan yang kapan saja. Serangannya bisa menyeruak tanpa pertanda, dan menghempaskan secara tiba-tiba. Jika lengah, kekalutan akan menguasai dan melenakanmu dalam isak dan hampa tak berujung.
Selami atma, dalami sukma.
Kenali jiwa, pendamping setia penampik peri.
Kesadaran adalah amunisi terbaik melawan angkara niskala…

Kesepian.

Tatap Singkat Kuning Pagi

Tatap Singkat Kuning Pagi

Kuncen gedung ini sudah berganti lagi, setahun lebih yang lalu. Bukan seorang, sekarang tiga. Dua dewasa, jantan betina. Satu bayi, jantan, botak. Keluarga kecil baru, nampaknya. Semoga langgeng bahagia dan tidak terpengaruh setan-setan kota yang jahatnya bisa melebihi setan neraka. Asli. Kita lihat saja nanti.

Hari ini kuning, masih pagi. Aku sedang ingin menelusuri ruang-ruang gedung, setelah tahun lalu banyak yang dipermak renovasi tipis sana-sini. Lagi-lagi, mengawali dengan mengintip pelaku ritual pagi dua menit lebih. Kulihat itu satu-satunya ruang yang sepertinya ada pergerakan saat ini. Lainnya masih diam, tertutup, mungkin belum bangun atau sudah berangkat keluar entah ke mana.
Dia sedang duduk di depan layar laptopnya, mengamati pergerakan deret angka merah hijau, dan garis-garis naik turun, sambil sesekali mencatat dan memencet tombol-tombol angka perangkatnya.

Wajahnya terlihat sedikit menua, namun masih tampak jauh lebih muda dibanding wajah teman-teman sekolahnya yang sesekali dia pantau dari foto profil layanan pesan teks di gawainya. Paling tidak menurutnya, dan beberapa komentar orang yang datang pergi di lingkarannya yang tak terlalu luas.

Beberapa hari terakhir sepertinya dia mengalami mimpi yang entah menyeramkan atau menegangkan. Aku bisa melihat dari nafasnya yang intens dan gerakan kelopak matanya yang berkedut, bergeser cepat kanan kiri, serta hentakan-hentakan kecil kepalanya yang berubah dari sisi satu ke yang lain.

Dia baru saja mengalami cedera di area tulang belakang, yang membuatnya tak leluasa bergerak seperti biasa. Sudah beberapa kali kuperhatikan sepertinya dia mengalami hal serupa. Aku menduga, terlepas komentar khalayak yang sering mengatakan dia awet muda, kondisi tubuhnya tetap saja tidak seperti dulu.

Tapi belakangan ini, dia tampak lebih tenang menjalani hari-hari. Meskipun, tak dipungkiri dari kerut dan mimik wajahnya, banyak yang membuatnya diam berpikir. Sepertinya, tak seorangpun diajaknya berbagi.
Mungkin pikirnya, percuma juga berbagi kalau jadi membebani. Atau memang dia sudah enggan melakukannya, karena toh pada akhirnya hanya dirinya sendiri tempatnya bersandar sekaligus bergantung dan satu-satunya yang bisa dipercaya. Dirinya sendiri.

Pernah rasanya aku ingin bertanya, “Apakah ada yang bisa kubantu?”, namun urung. Kalau dia benar mendengar ucapanku, bisa-bisa dia pikir dirinya mulai gila. Bahaya. Padahal bisa saja aku mengubah frekuensi suaraku, sehingga yang terdengar bukan ‘ckckck…’ seperti yang biasa didengar manusia.
Uniknya, kudapati beberapa kali dia justru menanyakan hal serupa pada orang-orang. Mendengarkan apa yang menjadi keluh kesah dan keresahan mereka. Menanyakan hal-hal yang membuat orang-orang tersebut berpikir lama, sampai kemudian orang-orang itu menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mereka sendiri.

Beberapa kali juga aku melihat dirinya berdiri di depan cermin kamar mandi, menatap lekat, dan bergumam menanyakan pertanyaan tersebut pada pantulan bayangannya.
Aku tak tahu apakah dia menemukan jawaban yang diperlukan atau tidak, karena hanya diam yang mengemuka.

Dia mungkin menyadari kehadiranku lebih sering akhir-akhir ini. Sepertinya dia juga tahu kalau aku sering berdiam di celah kardus penyimpan perkakas, di bagian belakang lemari es. Aku menduga dia tahu karena setiap aku membuat suara, entah saat gerakan tubuhku yang menyentuh tas kresek membuat bunyi kresek-kresek, atau saat senggolan ekorku menyentuh tempat sampah di samping pintu, atau saat tak sengaja aku berdecak, membuatnya selalu waspada seperti berkata, “Apa itu?”, tapi dalam diam.

Mungkin ada baiknya, kapan-kapan akan betul kusapa. Semoga saja kalau dia kaget, tidak akan sampai gila, dan sebatas menduga bahwa itu suara nuraninya yang diperdengarkan oleh Tuhan melalui perantara makhluk di dinding, yang diam-diam merayap, menunggu datangnya seekor nyamuk untuk ditangkap. Hap.