Kolam Sembilan Cakap

Kolam Sembilan Cakap

Aku tidak habis pikir, bagaimana mereka sengaja bertahan hidup di kolam itu.

Itu adalah sebuah kolam, dengan air mengalir, berisi ikan warna-warni.
Mulut-mulut mereka tak berhenti bergerak di dalam sana.
Tak ada suara. Dari atas.

Masuklah. Ke bawah.

Kau akan tenggelam dalam buncah acak centang-perenang.

Ambigu. Bias. Gaduh. Saru. Caci. Binal.

Segala rupa.

Sebagian tak seperti wujudnya.

Umpan serupa jeram membuat mereka berkecipak berontak, terdesak, lalu tersedak.

Memang begitu.

Mereka suka.

Lalu bisa menghina-dina, tikam-bunuh, mencumbu, atau cemburu.
Bahkan saling melempar rindu.

Aku tidak habis pikir, bagaimana mereka sengaja mencebur ke kolam itu.

Apa yang mereka cari?

Kawan, lawan, atau sekedar lawakan?

Lalu mengapa aku menelisik seperti telik?

Ah, sudahlah… Apalah aku. Seekor ikan tak paham arah.

Biarlah mereka berpesta hingga kalap, di kolam sembilan cakap.

fish
kolam ikan

In Flagrante Delicto

In Flagrante Delicto

Hari ini aku menemukan tanda.

Beberapa hari lalu juga.

Minggu lalu, pun.

Berserak ternyata.

Itu tanda untuk apa?

Aku mendapatinya, memungutinya, mengumpulkannya.

Kemudian bagaimana?

Tadi pagi, aku tertangkap basah, pada sebuah tanda tanya.

Aku membacanya, tapi tidak menerjemahkannya.

… dan ini, juga sebuah pertanda.

Aku tertangkap basah, pada sebuah tanda tanya.

 

sign
i see the sign