Gunjing Singkat Coklat Malam

Gunjing Singkat Coklat Malam

Hari ini coklat, untuk yang paham saja. Sudah beberapa lama ini suhu udara sungguh luar biasa gerah, meskipun sesekali hujan namun tidak menyejukkan. Aku jarang keluar, lebih baik menghindari gelombang panas daripada mengering saperti ikan asin, atau terseret luapan genangan jika air langit sedang tumpah.
Aku masih ada di seputar apartemen yang pernah kuceritakan sebelumnya. Tapi hampir dua tahun terakhir, tempat ini sepi dan hening. Konon dunia manusia sedang ada pandemi, diserang virus mahkota, katanya. Aku kebal, sepertinya.
Mereka kini selalu menggunakan penutup hidung dan mulut, bahkan kadang ada yang memakai topeng plastik yang menutup seluruh wajah.

Dua tahun terakhir, semenjak pageblug meluas, tak banyak dinamika tempat ini. Beberapa penghuni saja yang tetap tinggal, sementara lainnya memilih berlindung di dalam ruang, entah di mana aku tak peduli. Meskipun tak lama yang lalu, para ahli baitnya mulai terlihat keluar masuk. Penetap kembali, pendatang lalu-lalang. Sebagian tinggal, sebagian singgah sesaat dan kembali hengkang.
Kuncen gedung ini (begitu aku menyebut para penjaganya) juga berganti. Tak paham aku urusan keputusan manusia, biarlah. Toh memang tidak ada yang namanya ajeg.

Aku masih sering, bahkan hampir selalu, memantau dari sudut atas ruang. Suatu saat, di sebuah pagi menjelang siang, seorang penghuni baru di lantai paling atas mengalami kejang mendadak. Aku baru menyadari ada kejadian itu saat seorang penghuni yang menempati unit di bawahnya tetiba berlari keluar memanggil bantuan tetangga lainnya. Selagi dia berlari menuruni tangga mencari bantuan, aku merayap cepat menuju lantai atas tempat peristiwa terjadi. Sebelum bala bantuan datang, aku menyelinap melalui celah pintu yang terbuka. Sejurus kemudian tercium bau tai kotoran manusia yang masih segar. Aku tahu, taiku yang berwarna hitam putih juga tengik, tapi bau kotoran manusia, dalam jumlah banyak, belepotan di dinding dan lantai, meskipun masih segar, tetap saja bikin muntah siapapun yang tidak biasa menghidu kotorannya sendiri.
Kau jijik baca ini? Kau pikir aku tidak?

Dari yang sekilas kuamati, sepertinya penghuni unit tersebut entah sedang buang hajat kemudian kejang, atau karena kejang sehingga kotorannya terperas keluar, berusaha mencari bantuan dengan cara menggelepar dan berteriak, meskipun tercekat. Suara nirwajar ini yang membuat penghuni di unit bawahnya berusaha mencari tahu yang terjadi, dan berujung mencari pertolongan. Aku tak paham penyebab kejangnya, namun sepertinya ada rahasia yang tak boleh orang tahu, dan memang berhasil. Tidak ada yang tahu.

Singkat cerita, dengan bantuan beberapa tetangga yang tak begitu dikenalnya, ia terselamatkan, ditandu menuju instalasi gawat darurat terdekat. Meskipun selama berhari-hari, unit apartemennya bau tai.
Kuncenlah yang kebagian pulung membersihkan dan melakukan disinfeksi ruangan itu. Bagus dia berbesar hati dan berlapang dada melakukannya. “Nambah pahala”, katanya.
Dia adalah kuncen paling polos, naif, dan dangkal di antara semua kuncen yang pernah menjaga gedung ini. Sendat pikir, namun tak kikir. Bebal, namun tak bikin sebal. Sangat bekerja sama.

Oya, beberapa bulan belakangan, penghuni apartemen ini bukan hanya manusia-manusia itu saja. Ada banyak makhluk berbulu dan anak-anaknya berkeliaran, mengeong-ngeong sering membuat gaduh. Ini tak lain tak bukan, karena si kuncen penyayangnya. Dipeliharanya mereka yang terlantar, diberinya makan dan tempat tinggal seolah ibu peri baik hati dan juru selamat bagi kaum pengeong.
Aku tidak masalah selama mereka tak menangkapku dan mempermainkan tubuhku dengan koyak-moyak, tapi aku tahu salah satu penghuni gedung ini merasa tak nyaman tanpa bisa berbuat banyak.

Satu lagi tentang si kuncen. Saat baru-baru saja ia bertugas di gedung ini, pada suatu malam terdengar tiga kali ketukan di pintu ruangannya, disertai salam nyaring dari sisi luar.
“Assalamu’alaikum…”, sapa suara di balik pintu. Saat hendak membuka pintu ruangan tempatnya berjaga, ia baru ingat bahwa seluruh penghuni tersisa di gedung ini sedang tak di tempat, dan demi keamanan dia mengunci seluruh gedung dari dalam.
Suara salam dan ketukan pintu berhenti, bersamaan dengan pucat wajah dan degupan jantungnya yang memerintahkan otak agar menggerakkan tangannya mengunci pintu, memasang slot pengaman sembari menggumamkan mantra tolak bala doa keselamatan. Bulu kuduknya bersiaga, kakinya lemas, sampai lupa cemas. Tak ada lagi salam dan ketuk pintu hingga keesokan paginya.

Itu saja kali ini. Aku mau patroli, siapa tahu ada manusia di gedung ini sedang melakukan apapun, yang bisa kutatap berlama-lama, sampai akhirnya mereka sadar sedang ada sesuatu yang mengamati dan merasa canggung sendiri. Hihi… aku suka sekali membuat mereka terkesiap, dan berakhir kami saling menatap.
Tenang saja, aku akan kembali dengan cerita lain. Masih banyak yang bisa kukisahkan.

Selamat menunaikan kegiatan malam hari coklat!

Selamat Berawal

Selamat Berawal

Mengawali tahun berangka ganda sembari memasuki masa di mana sedikit kecemasan mulai mencari celah menguasai jiwa raga. Mungkin kurasa sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya. Ceruk-ceruk pembuat lubangnya bisa sedikit kupoles, sehingga rembesan rasa gundahnya tak separah sebelumnya. Bagaimanapun juga, masih lembab. Wajar, kataku dalam hati menghibur diri. Tapi bukankah memang demikian?

Konon banyak katanya, hidup itu tidak lurus. Kadang naik, kadang turun. Kadang panik, kadang melamun. Kadang tenang, kadang gelisah. Kadang senang, kadang susah. Begitu saja terus sampai hidup makin meredup kemudian menutup.

Beberapa waktu lalu, aku berusaha menjawab satu-dua pertanyaan dalam sebuah buku tentang seni hidup sendiri. Tak ada yang bisa kujawab dengan segera. Alih-alih menjawab semua pertanyaan, di benakku hanya ada satu tempat, di mana aku ingin tinggal dan hidup cukup, menikmati sendiri.

Mungkin benar apa yang pernah dikatakan oleh seorang teman, bahwa sepertinya di kehidupan sebelumnya, aku adalah sesuatu atau seseorang di tempat itu.
Katanya, “Mungkin di kehidupan sebelumnya, kamu adalah seekor semut kecil yang bingung mencari jalan pulang di sana”.
Bisa jadi, mungkin sekali.

Lihat, mendung hitam mulai turun. Pantas saja udara terasa gerah. Pasti kau pikir akan turun hujan, kan? Jangan salah… alam raya sekarang senang bermain-main. Kalau dulu tanda-tanda mereka nyata, sekarang sering kali menipu.
Mungkin mereka sedang membalas manusia-manusia yang sering congkak mengakali dunia. Jadi ketika mendung gelap turun, sebenarnya mereka berkata, “Kalian pikir air-airnya akan kutumpahkan? Belum. Sekarang kubuat kalian engap dulu kepanasan, nanti baru aku turunkan sekalian bersama angin dan halilintar, biar kalian sedikit gentar”.
Lalu tak lama kemudian, gumpalan kelabu di langit terbelah, menyorotkan kembali cahaya matahari, diiringi tetesan-tetesan keringat kecut asin dari pelipis dan ketiak sisa gerah sebelumnya. Begitu kiranya kalau ditulis menjadi naskah.

Demikianlah ini berawal. Awal hari di awal pekan di awal tahun ini. Sekarang aku mau mengawali karyaku dengan membersihkan isi lemari es dulu, mumpung isinya sedang tidak terlalu banyak. Kalau isinya banyak, aku sedang sejahtera. Alhasil, aku tidak akan membersihkan isinya. Paham kan?

Jadi, selamat mengawali apapun yang akan diawali. Semoga langgeng dan tidak berhenti di awal saja.