12 Bulan Kemudian

12 Bulan Kemudian

Pagi ini berawan. 12 bulan lebih ritual pagi dua menit masih tetap berlangsung, dengan modifikasi sana-sini menyesuaikan kehendak hati dan selera gustatori. Hanya kopi yang tetap abadi di antara banyak adaptasi.
12 bulan lebih berlalu dan banyak jawaban atas pertanyaan tertemu. 12 bulan lebih berlalu dan sadar banyak hal yang awalnya samar. 12 bulan berlalu dan mampu bertahan dari cemas yang tak jelas. Apakah menjadi tenang? Kadang. Was-was tetap datang ada kala, namun lebih masuk akal terkendali.
Jika bertahan dalam ambigu yang nirbayan adalah sebuah keterampilan, kupikir aku semakin terampil.

Suatu saat pertengahan bulan kelima aku mendapati ruang kosong yang lebih sepi dari sendiri, hingga rasanya ingin tersedu namun bahkan tak sanggup menyengguk. Apakah ini ‘latibule’? Kalau benar, bukankah seharusnya terasa nyaman? Apa yang berbeda? Bagaimana menerjemahkannya? Tak ada petunjuk. Kusadari saja, tak perlu diterjemahkan.
Aku mulai mengelilinginya, meraba yang terasa seperti hal biasa, hingga kutemukan gagang bilik dan kuputuskan membukanya. Membiarkan cahaya udara menyinari dan menyegarkan pengap lembab yang terperangkap.

Cukup lama hingga terasa wajar, kalaupun tak sampai menyegarkan. Perlu banyak bukaan agar angin terasa memenuhi rongganya yang hampa. Kini lebih leluasa, dan aku mendapati ‘anagapesis’ adalah keniscayaan. Namun justru karena ketiadaannya, justru lebih ringan dan nyaman. Mungkin memang sebaiknya demikian? Karena tak perlu menggenggam erat atau melonggar lepas, hanya ada. Berada.

Sesap tetes kopi hitam pahit baru saja tuntas. Pagi ini ditemani irisan jeruk navel cara cara dan sekerat roti keju yang habis masa berlakunya tepat hari ini, disiram sedikit susu agar tidak terlalu keras lalu kupanaskan satu menit dalam oven gelombang mikro.

Kurapikan kembali meja agar bisa segera bekerja. Jangan berpikir aku mengerjakan pekerjaan serius. Bahkan hanya mengamati gerakan angka-angka bursa dan naik turun grafik stik lilin pun kuanggap bekerja, biar rasanya tidak berdosa. Hanya akhir pekan yang kuanggap sah duduk menonton film dari pagi hingga petang tanpa bekerja. Mungkin sebaiknya kutambahkan tanda petik, “bekerja”.

Sebelumnya, aku sempat berdiri di depan cermin, mengamati pantulan wajahku, sambil tersenyum karena teringat ibuku pernah berkata beberapa waktu lalu saat kami bertelepon video, “wajahmu kelihatan lebih bersih”, aku cuma tersenyum waktu itu. Tapi tadi, aku bergumam, “ini berkat ritual pagi 2 menit, olah kanuragan, istirahat cukup, dan mungkin… anagapesis?
Siapa yang tahu.