Dari Sudut Atas Ruang

Dari Sudut Atas Ruang

Aku tak selalu memeperhatikan, namun beberapa kali mengamati perilakunya. Penghuni di salah satu apartemen, yang dari polanya aku tahu dia tak ingin terlalu banyak terlihat.
Dia hanya muncul beberapa kali dalam sehari jika sedang tidak bepergian, tentu saja. Biasanya aku melihat dari sudut atas ruang yang berbatasan langsung dengan unit apartemennya, atau kalau memungkinkan malah dari dalam ruangannya. Tapi ini jarang terjadi. Nanti aku ceritakan alasannya.

me2architects-studios-apartment-3Kegiatan yang hampir selalu pasti teramati adalah, pada pagi hari, ketika dia membuka pintu pertama kali – dugaanku, dia baru bangun tidur – membawa tempat sampah dan membuangnya di lorong saluran pembuangan sampah di luar unit apartemennya, yang secara rutin dikosongkan oleh petugas kebersihan.
Lalu akan sekali dua kali lagi keluar, untuk membuang debu-debu kotoran dari kantong vacuum cleaner tak lama setelah dia membuang sampah sebelumnya.

Momen buka pintu berikutnya, adalah ketika dia memeriksa kiriman, entah itu paket atau antaran makan dari ojek online, tapi akhir-akhir ini dia jarang menerima paket. Setidaknya dua kali dia keluar untuk mengambil antaran dalam sehari.
Selebihnya, sesekali saja dia keluar, bilamana perlu. Untuk yang sesekali ini, aku tidak melihat pola tertentu. Acak.

Dia tidak terlalu bergaul dengan tetangga unitnya. Beberapa penghuni dia tahu wajahnya saja, bertegur sapa seadanya, namun tidak dekat. Dia tahu nama-nama tetangganya dari pengelola apartemen, yang selalu bercerita tentang apa saja kejadian di apartemen tersebut setiap ada waktu bertemu. Mereka terlihat akrab ketika sedang mengobrol.

Aku tahu dia berteman dengan siluman. Kisahnya aku dapatkan dari ibuku, yang didapat dari cerita kakekku, yang didengarnya dari neneknya kakekku, yang dikisahkan oleh garis entah keberapa dari leluhurku. Tapi yang jelas penutur awal dari leluhurku, hidup di jaman leluhurnya. Jadi kurang lebih kalian tahu, bahwa pertemanan beda alam ini telah terjadi turun-temurun. Kata ibuku, mereka menjalin traktat akad sebahat. Entah sampai keturunan keberapa. Mungkin hingga salah satu keturunannya tidak berketurunan. Rahasia semesta.

Suatu saat, aku pernah mengamatinya sedang membaca-baca jurnal di layar komputer lipatnya tentang makhluk luar angkasa. Alien, mereka menyebutnya. Aku tahu mereka menyebutnya demikian karena judul jurnalnya terbaca demikian. Jangan heran, aku bisa membaca.
Entah apa yang membuatnya tetiba tertarik membaca tentang makhluk asing luar angkasa. Apakah teman silumannya kurang kosmik? Atau tidak lebih astral dari makhluk halus kebanyakan?
Analisaku mengatakan dia sedang agak jengah dengan hubungannya saat itu.
Agak lucu kejadian hari itu. Saat dia selesai membaca jurnalnya, matanya mendadak sejurus menatapku beberapa saat. Lalu wajahnya nampak seperti orang linglung. Aku diam saja, balas menatap matanya. Sampai kemudian dia terhenyak, dan bergerak ke meja dapurnya, menyeduh kopi. Aku geli mengingatnya.

giphyAku juga sering mengamati teman silumannya ini, ketika kebetulan dia muncul. Kemunculannya selalu ditandai dengan asap mengepul-ngepul. Cuma aku yang bisa melihat asapnya. Mungkin dia juga, kan dia temannya? Tetangga dan orang-orang di apartemennya tak bisa menginderanya. Aku tahu pasti itu, jadi tidak perlu bertanya, “kok tahu?”. Aku tahu, itu sudah.
Lain kali saja kuceritakan tentang teman silumannya ini.

Jadi, aku biasanya menelusup ke dalam apartemennya dari celah lubang angin, yang meskipun tertutup – mencegah udara dingin penyejuk ruangan keluar – masih ada sedikit celah untuk menyelinap.
Aku tak suka berlama-lama di apartemennya ketika dia tidak ada. Pengap, bau jamur. Bagaimana tidak, ventilasinya ditutup agar udara penyejuk ruangan tak keluar. Sementara di beberapa sudut ruangannya kadang ada rembesan air ketika hujan. Jadi, daripada aku kena penyakit, aku pergi saja.
Aku akan kembali ketika dia sedang ada di tempat. Ketika dia ada, ruangannya menjadi sejuk segar. Dia buka jendelanya lebar-lebar setiap pagi agar udara teralir dengan baik. Saat itu, tentu saja penyejuk ruangannya dimatikan. Dia akan menyalakannya kembali setelah sore atau menjelang malam.
Ruangannya terlihat bersih ketika dia sendiri. Setiap pagi, dari kegiatan rutinnya yang kuceritakan di awal tadi, kelihatan dia rajin bersih-bersih.
Mengapa hanya terlihat bersih saat dia sendiri? Karena ketika teman silumannya muncul, dia akan membiarkan ruangan seadanya, sampai teman silumannya lenyap moksa kembali. Baru kemudian dia akan membersihkannya lagi.

Ini saja dulu ya. Lain kali aku cerita lagi. Tentang dia atau penghuni apartemen lainnya. Atau tentang siluman dan setan demit yang ada di sini? Tenang saja, aku punya banyak kisah.

cicak

Hari ini warnanya merah muda, agak mendung tapi tidak hujan.
Aku mau cari nyamuk dulu, lapar.