Seketika yang Lalu

Kadang mendengar alunan musik instrumental di pagi hari sejuk yang tenang bisa agak sedikit berbahaya bagiku. Irama menenangkan, hampir pasti akan membawa segala kenangan tanpa keriaan yang mampu disimpan hippocampus sistem limbikku dan mengembalikan kejadian nyaris sempurna. Pernah suatu pagi, aku mendadak terisak sesak mengingat sesal lampau tak berkesudahan. Kemudian di satu pagi lainnya, aku tercenung diam beberapa lama, mengindra sakit dendam marah, dan rasa-rasa yang jika mampu aku kembali akan kulakukan kebalikan tindakanku masa itu. Jika saat itu aku diam, aku akan berteriak. Jika saat itu aku pasrah, aku akan berontak. Jika saat itu aku marah, aku akan tenang. Semuanya, asal bukan yang saat itu. Andai saja.

Namun kemudian, setelah kupikir-pikir, alunan musik ini tidak serta-merta berbahaya. Beberapa saat setelah segala ingatan lalu terdedah, air mata tertumpah, marah memaksa serapah hingga aku merasa lelah, jiwaku terasa ringan tercerah. Aku menemukan celah agar tidak kembali melakukan tindak bodoh seperti yang sudah-sudah. Aku merasa bertenaga.

Apa ini yang disebut terapi? Bisa jadi. Tapi yang pasti aku kemudian sadar diri. Sepele sekali hidup ini. Terkoyak begitu saja dipancing alunan sitar seruling dengan gemericik air. Apalagi angin sejuk bertiup membawa kicau cuitan burung, dan sesekali eretan tonggeret di sela-sela gesekan daun bambu. Itu saja bisa bikin jiwa porak-poranda. Sungguh rapuh.

Sejurus lalu, tarikan nafas dalam mengisi kepala, membasuh segar udara yang mengalir merelung kalbu. Tenang, damai, diam. Kepingan retak menyusun ulang. Pecah sana-sini, namun menyatu. Cacat, namun utuh. seketika tubuh sekujur merasa sejuk bersih ringan tanpa beban. Melihat rongsok rusak tampak indah menyatu dengan yang baru.

Tidak terjadi setiap hari, hanya terkadang. Biasanya ketika terlalu banyak gambar dan suara bermunculan, riuh, dan aku hanya bisa diam. Mengizinkan mereka ambil panggung, meneriakkan kegundahan. Alunan musik instrumental membuat segala hingar tersadar, ada yang lain selain rasa. Logika.
Menemukan awal, menelusur jalur, mengambil langkah, menyusun keping, menambal pecahan, mewadah gulana, menatap arah. Semuanya masuk akal, wajar beralasan.

Aku kemudian menyelesaikan segala buncah dengan secangkir kopi. Pekat, namun tidak terlalu pahit sebagaimana aku biasa menyeduh tanpa gula. Aku menambahkan sedikit susu dan serbuk jahe untuk menawar ketar dan menghangat rasa setelah terserak luka. Aku berterima kasih pada segala jenis robusta, arabica, ekselsa, racemosa, luwak, dan liberica yang setia menemani setiap pagi dengan segala tabula rasa yang menyertainya.

Pada akhirnya aku juga berterima kasih pada hembusan angin, tiupan seruling, petikan sitar, kicau burung, eret tonggeret, dan gesek dedaunan yang mengaduk segala indra di pagi hari sejuk yang tenang. Aku berterima kasih pada semesta yang membuat ada.

***