Alienship

Alienship

Mungkin aku perlu mempertimbangkan untuk mulai mempelajari sinyal dan transmisi. Terutama yang bisa menembus lapisan-lapisan pelindung bumi, agar bisa tertangkap alien. Lalu aku bisa menjalin kontak dengan mereka, berinteraksi, berkenalan lebih jauh, dan menjalin hubungan. Kalau aku mengatakan hubungan, maksudnya adalah hubungan percintaan. Meskipun aku agak risih menggunakan satu kata itu. Betul, mungkin aku perlu mempertimbangkan menjalin hubungan dengan alien. Tak peduli bentuk wujudnya seperti apa.

Siapa yang tahu kalau alien memang bentuknya aneh-aneh seperti dalam film-film fiksi ilmiah yang sering diputar di televisi dan layar lebar? Tidak ada yang pernah benar-benar melihat alien, aku rasa.
Kalaupun memang bentuk rupa mereka memang seaneh yang ditampilkan selama ini, tidak ada juga yang benar-benar tahu sifat, watak, dan perasaan mereka. Bisa jadi hanya bentuk luarnya saja yang tidak menarik, namun ternyata di dalam, mereka memiliki penginderaan dan kepekaan yang jauh lebih manusiawi. Istilah manusia untuk memberi standar bagaimana seharusnya menjadi manusia, yang selalu mengklaim makhluk paling sempurna ciptaan Tuhan. Terdengar sombong, menurutku.

Ya, rasanya aku perlu menjajagi untuk menjalin hubungan dengan alien. Menjalin hubungan dengan manusia sangat melelahkan. Banyak yang harus dijaga agar hubungan tetap aman, lancar, tenteram. Bahasa iklannya, harmonis. Harmonis eek komodo!
Tidak ada yang namanya hubungan harmonis. Seolah-olah harmonis, itu baru ada. Jangankan hubungan dengan umatnya, hubungan dengan seorang diantaranya saja bisa bikin stroke. Bayangkan, dua tubuh manusia, dua kepala, dua hati, dua jiwa, dua perasaan yang berbeda, lalu bersama menjadi satu entah dalam ikatan atau tidak, bermanis manja pada masa percaya, lalu berpahit abai pada masa bengkalai.
Adapun hubungan harmonis, jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Jari Btari Durga lah, paling tidak, yang tangannya banyak. Tapi coba cermati, seharmonis apapun sebuah hubungan, akan ada pihak yang mengalahkan, dan ada yang (bersedia atau terpaksa) dikalahkan. Meskipun ada istilah yang lebih sejuk damai dan membenarkan. Mengalah.

Mengalah bukan berarti kalah, mengalah lebih bijaksana, mengalah untuk menang, dan banyak penyemangat lain bagi si pengalah. Utekmu njepat! Coba, pernah kalian tahu apa yang dirasakan si pengalah? Yang selalu mencoba memahami? Inginkah mereka dipahami sesekali? Dimenangkan sesekali, atau sekedar dibuat merasa seimbang?
Namanya manusia, kalau mau disebut manusiawi, pasti punya rasa lelah. Eits… hati-hati mengeluarkan kata ini. Pihak yang mengalahkan, akan bisa berasumsi lain. Bisa dengan mudah berkata, “Baiklah, maaf kalau telah membuat lelah, mungkin lebih baik sudah saja”. Sudah lambemu! Dipikir kalau sudah, terus beres? Yang menyudahi, bisa ketemu orang yang mau mengalah, seperti yang disudahi ini? Ya bagus kalau demikian. Kalau tidak, ya selamat nglangut. Yang disudahi, mungkin berpikir, “Sudah, begitu saja? Setelah mati-matian bersedia kalah, lalu… begitu saja? Buat apa selama ini bersedia menahan amarah?” Jancuk! Ndlégék tenan!
Dan banyak lagi tetek-bengek lainnya. Aku bosan pakai kata ‘drama’. Tetek-bengek saja, lebih bikin melek. Kalian boleh tidak sependapat denganku, toh ini adalah pemikiranku, yang mungkin terlalu banyak melihat (dan merasa), bahwa hubungan dengan manusia itu melelahkan.

Jadi, kembali ke pertimbangan awal tadi, barangkali alien adalah makhluk yang layak diperhitungkan untuk menjalin hubungan.
Siapa yang tahu, alien bisa membaca maksud hati tanpa komunikasi?
Siapa yang tahu, alien mampu berempati sebelum muncul tragedi?
Siapa yang tahu, alien dapat bertenggang rasa tanpa prakarsa?
Siapa yang tahu bisa, kalau belum dicoba?

Baiklah, aku akan mulai mempelajari sinyal dan transmisi. Terutama yang bisa menembus lapisan-lapisan pelindung bumi, agar bisa tertangkap alien. Aku akan merakit pemancar, agar alien bisa menangkap sinyal dan transmisiku dengan lancar. Aku akan menyusun rencana tahap awal.
Pertama, aku harus membuat kopi. Panas, tanpa gula, hitam. Lalu memasang headphone peredam suara, dan memutar musik. Atau mungkin juga bisa kuawali dengan membaca buku roman picisan, sebagai penyegaran agar otak jernih. Ah, tidak… aku mau menonton film dulu saja.

* * *

Heh? Sejak kapan itu cicak nempel di tembok atas pintu? Matanya hitam bulat, mirip kamera pengawas. Jangan-jangan dia utusan alien?
Haish…karepmu. Aku mau bikin kopi dulu.

Iklan