Dalam Nama Sampah

Dalam Nama Sampah

Rambutku gatal kugaruk-garuk. Bukan hanya butiran putih ari kulit ketombe yang luruh, helai gelai rapuh rambutku juga runtuh. Aku tak mau riuh membasuh gundulku. Malas. Aku tahu, dia tidak suka. Biar saja. Ini kan kepalaku.

Badanku cepal lengket. Kering keringat berbaur uar debu, dupa, menyan, sisa pendar cahaya siang, asap cerutu dari mulutku dan nafas busuk para kembara. Aku enggan melepas dekap aroma setan jalanan. Jadi saja kubawa tidur, meski busuk terhidu. Aku tahu, dia tidak suka. Biar saja. Ini kan tubuhku.

Kakiku, entah berapa kali menginjak lumpur becek, kotoran dan tetaian. Belum lagi nanah bekas canteng yang kering berjamur di ujung kuku. Aku abai membasuh. Segera kuregang di atas dipan berlapis kasur bulu angsa, dibalut satin beludru. Singgasana masa rehat menjadi kusam pekat. Aku tahu, dia tidak suka. Biar saja. Ini kan kakiku.

Tapi jangan sampai, jangan sampai hidungku tercium bau pait ketiaknya, sengak kentutnya, atau hawa abab mulutnya. Dia tahu aku tak suka. Tapi tidak bisa kubiarkan. Meski aku tahu dia selalu rajin mengoles tawas, menahan mulas, dan bersikat siwak. Itu semua tak sepadan dengan dekil yang kubawa.

Aku bukan tak sudi berbadan jernih bersih. Aku hanya menikmati masa tunda dan waktu semadiku, bersama jagat tabiat, memanjat erat harap, dalam nama sampah.

how-keep-cover-letters-trash
 

trash

 

Pisuh

Pisuh

Bangsat bajingan!
Tak cukup untuk menyerapahmu. Kumpulan caci tak akan sanggup menggenapi gemuruhku. Kalau saja satu jurus digdaya bisa memperlambat denyut, niscaya tak hanya sekali kulepas lisan berkutuk. Picisan!

Rupamu palsu lambemu lamis. Asu!
Ingin sekali kuteriakkan di depan wajah bertopeng tebalmu. Merenggut kulit mukamu dan melihat belatung singgat atau entah makhluk lain yang bersemayam di batok kepalamu, lalu muntah. Tentu saja di ubun-ubunmu!

Jancuk kéré!
Sandangmu sama sekali tak layak sembah. Gelang cincinmu membuat jengah. Perilakumu tak bercermin titah. Mewah megah jumawa semua sepele. Jahanam lonté!

Percuma…
Makian dahsyat, hujat bejat, tak akan meredakan jeritan jelata. Maka kurapal saja mantra. Semoga semesta mengindera, nirwana mana yang tak menutup gapura, saat ragamu meregang sukma.

Tai!

anger
 

anger

 

Kepada Sepuntung Rokok

Kepada Sepuntung Rokok

Hari selalu telah lewat isya’, ketika aku menghempaskan penat di kursi hitam depan galangan. Peluh hanya meninggalkan butiran kristal asam bercampur sisa deodoran, yang kadang menguningkan bagian ketiak baju dalam. Biasanya, dan hampir selalu, kaki adalah yang pertama kubebaskan dari siksa lembab berjamur kungkungan sepatu. Aku hanya perlu melepasnya, mengguyur sedikit air, dan sudah. Tak perlu repot membuatnya kering, toh aku akan mengangkatnya di palang jemparing.

Bahu. Giliran berikut untuk terlepas beban. Kulepas silang selempang, sehingga ringan bidang tersandang. Lalu kugerai rambut, dan membiarkan butir-butir kering kulit kepalaku merdeka. Ketombe. Tak jarang, helai-helai ubanku mengantarkan kebebasan mereka. Rontok. Membuat kilap ubinku terkesan jorok. Peduli setan. Dayang bayangan akan membuatnya kembali cemerlang.

Oh, gawai. Salah satu belahan jiwaku. Padanya kucurahkan segala rahasia batin, gejolak prahara, dan untaian rindu. Padanya kudapatkan kerabat dekat, bahkan hingga kumpulan sesat. Padanya jiwaku penuh. Padanya waktuku runtuh. Sayap sukmaku yang rapuh sekaligus tangguh, yang tanpanya aku bagai lumpuh. Jangan… Jangan kau pundung genggamanku satu itu. Aku akan kalang kabut.

Ritual ini adalah pembuka gerbang kerinduan. Kerinduanku pada sosok tersayang, paling terpercaya. Tabib segala nestapa, begawan segala derita. Lini masa apalah artinya, apalagi sebentuk makhluk yang menanti tak kenal bosan. Rindu dendam pasang surut. Dia pikir hanya di mulut. Tapi mungkin sebenarnya saling terpaut. Siapa tahu?

Hari selalu telah lewat isya’, ketika aku terburu memburu waktu melepas rindu. Pada sosok tersayang, paling terpercaya. Segala duka lara segera terlarung jauh. Ragaku akan segera kurelakan.

Ya, kepada sepuntung rokok.

imagecigarrete